Selasa, 21 Juli 2026 | 11:21
Parodi

Ijazah Jokowi

IPK 1,99 dan Lulus? Hanya di Negeri Wakanda!

IPK 1,99 dan Lulus? Hanya di Negeri Wakanda!
Ijazah Jokowi (Dok Ist)

ASKARA – Misteri pendidikan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo alias Jokowi, kembali menggelegar. Kali ini bukan dari Badan Intelijen Negara, tapi dari kanal YouTube yang lebih tajam dari CCTV minimarket: Forum Keadilan TV. Sang narasumber? Tak lain dan tak bukan: Prof. Yusuf Leonard Henuk, guru besar USU yang dikenal lebih aktif di podcast ketimbang di ruang kuliah.

Dalam tayangan eksklusif berjudul "Tunjukkan Transkrip Nilai Jokowi", Prof. Yusuf menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa IPK Jokowi di bawah 2,0 dan oleh karena itu seharusnya... DO alias drop out. “Kalau di bawah 2 itu bukan skripsi, itu seharusnya nulis makalah. Itu pun ditulis pakai kapur ajaib biar kelihatan keren,” ujar Prof. Yusuf sambil menyesap kopi dan menatap naskah UU Pendidikan dari tahun 1980-an.

Menurutnya, pada era itu mahasiswa yang IPK-nya mepet 2,5 saja harus jungkir balik, apalagi kalau sudah masuk ‘zona merah’ di bawah 2. “Itu sudah bukan mahasiswa lagi, itu sudah jadi alumni dini,” tegasnya.

Parodi ini makin dramatis saat Prof. Yusuf mengungkap bahwa skripsi Jokowi diduga cuma ditandatangani satu orang. "Biasanya kan ada tanda tangan dekan, kaprodi, bahkan kadang OB ikut tanda tangan buat legalitas tambahan," katanya.

Bahkan beliau berseloroh, “Kalau memang betul skripsinya tidak lengkap, bisa jadi itu bukan dari UGM, tapi dari Universitas Gak Mungkin.”

Sementara itu, dari tempat antah-berantah, sumber imajiner menyebut bahwa kemungkinan besar Jokowi lulus dari semesta alternatif, tempat IPK tidak penting asal punya niat baik dan hati bersih. “Di semesta itu, skripsi tidak ditulis, tapi dirasakan,” ujar Pak Dukun Teori Multisemesta yang menolak disebutkan namanya karena belum vaksin booster realita.

Unggahan ini pun memicu perdebatan hangat warganet, mulai dari yang ikut menganalisis nilai Jokowi berdasarkan zodiak, hingga yang menyarankan agar semua tokoh publik disumpah di depan mesin fotokopi Canon IR5000 untuk membuktikan keaslian ijazah.

Terakhir, tim investigasi netijen berencana membentuk tim pencari fakta yang akan menelusuri ruang arsip UGM, membawa senter, kompas, dan semangat masa lalu. “Kami tidak menyerah sampai menemukan ijazah, atau setidaknya fotokopiannya di warnet terdekat,” ujar seorang netijen senior.


---

Disclaimer: Ini adalah karya parodi dan bersifat humor satir. Tidak untuk dijadikan sumber fakta atau rujukan hukum.

 

 

Komentar