Rabu, 17 Juni 2026 | 18:43
NEWS

Paus Leo XIV, Paus Pertama dengan Kewarganegaraan Ganda

Paus Leo XIV, Paus Pertama dengan Kewarganegaraan Ganda
Paus Leo XIV ketika menyapa umat di lapangan Santo Petrus Vatikan (Dok Vaticannews)

ASKARA – Gereja Katolik mencatat sejarah dengan terpilihnya Paus Leo XIV sebagai paus pertama yang memiliki kewarganegaraan ganda. Lahir pada 14 September 1955 di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, Paus Leo XIV memiliki kewarganegaraan AS dan Peru. Ia berasal dari keluarga dengan akar keturunan Prancis, Italia, dan Spanyol.

Sebelum menduduki Takhta Suci, Leo XIV dikenal sebagai Kardinal Robert Francis Prevost. Ia bergabung dengan Ordo Santo Augustinus (OSA) pada tahun 1977 dan mengikrarkan kaul kekal pada 1981. Pendidikan teologinya ia tempuh di Catholic Theological Union di Chicago dan melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Kepausan Santo Tomas Aquino di Roma. Keahliannya dalam bidang hukum gereja dan spiritualitas Augustinian menjadikannya salah satu tokoh yang dihormati dalam kalangan Kuria Roma.

Pelayanannya di Peru selama lebih dari dua dekade meninggalkan jejak mendalam. Ia dikenal sebagai uskup yang dekat dengan umat, pembela kaum miskin, dan promotor dialog antarbudaya. Penugasan terakhirnya sebagai Prefek Dikasteri untuk Uskup memperkuat posisinya sebagai sosok yang memahami dinamika global Gereja.

“Terpilihnya Paus Leo XIV mencerminkan wajah Gereja yang semakin global, multikultural, dan terbuka,” ujar Kardinal José Rodríguez, Uskup Agung Lima. “Beliau adalah sosok yang memahami perbatasan geografis maupun budaya, dan itu sangat penting bagi misi Gereja saat ini.”

Uskup Agung Edgar Peña Parra dari Sekretariat Negara Vatikan menambahkan, “Dengan latar belakang Amerika dan Latin, serta pengalaman pastoral lintas benua, Paus Leo XIV membawa perspektif yang sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman, dari sekularisme di Barat hingga kemiskinan dan ketidakadilan di Selatan.”

Dalam pidato perdananya di balkon Basilika Santo Petrus, Paus Leo XIV menegaskan komitmennya pada “rekonsiliasi, keberanian moral, dan kesederhanaan.” Ia menyerukan solidaritas global, perlindungan lingkungan, dan pembaruan dalam struktur kepemimpinan Gereja.

“Kita adalah satu keluarga umat manusia. Gereja harus menjadi jembatan, bukan tembok. Harapan, bukan ketakutan,” ujarnya di hadapan ribuan umat yang memadati Lapangan Santo Petrus.

Dengan karakter yang dikenal rendah hati namun tegas, Paus Leo XIV diharapkan mampu memimpin Gereja Katolik menghadapi tantangan abad ke-21 dengan semangat persaudaraan dan pembaruan.

 

Komentar