Ramalan yang Terlupakan: Ketika Sejarah Berulang dan Kebenaran Dibelokkan
ASKARA - Dalam pelajaran sejarah, kita kerap diajarkan bahwa masa lalu adalah guru terbaik. Namun apa jadinya jika kita lupa belajar darinya? Hari-hari ini, bangsa Indonesia tampaknya sedang mengulang bab-bab lama dari buku sejarah: stabil di permukaan, namun retak di dalam. Seolah negeri ini sedang berjalan di atas panggung sandiwara besar, dengan naskah lama yang dibaca ulang oleh aktor-aktor baru—dan rakyat sebagai penonton setia.
Ramalan-ramalan masa silam, baik yang tertuang dalam naskah-naskah kuno maupun dalam prediksi para pemikir bangsa, kerap memperingatkan bahwa kekuasaan tanpa kesadaran akan berujung pada kehancuran. Kepemimpinan yang dibangun atas dasar kebohongan dan rekayasa bisa jadi nampak kuat, bahkan menenangkan. Namun seperti bangunan tanpa pondasi, ia rapuh terhadap guncangan kecil.
Kini, masyarakat seolah terhipnotis oleh narasi-narasi yang terus diulang: bahwa semua baik-baik saja, bahwa pertumbuhan dan stabilitas adalah tanda keberhasilan. Padahal, di balik statistik dan slogan, ada luka yang menganga—permusuhan antar anak bangsa, polarisasi sosial, dan pertentangan horizontal yang semakin menguat.
Ada yang tak beres. Tapi sedikit yang menyadarinya.
Kita hidup di era ketika kebohongan yang diulang-ulang bisa berubah menjadi “kebenaran”. Propaganda dijalankan dengan lihai, dan dalang di balik panggung memainkan peran dengan cerdik. Kepemimpinan tidak lagi mencerminkan kepentingan rakyat, melainkan kepentingan kelompok tertentu yang terus merawat kuasa lewat ilusi.
Jika kita tidak segera bangkit dari ketidaksadaran ini, sejarah akan kembali menagih hutangnya. Seperti kata filsuf: “Mereka yang melupakan sejarah, akan mengulanginya.” Dan kita, tampaknya sedang berada dalam siklus itu—berjalan menuju jurang yang sama, dengan lagu pengiring yang terdengar menenangkan.
Maka pertanyaannya kini: sampai kapan kita hanya menjadi penonton?

Komentar