Psikoanalisis Ramalan
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Saya punya penyakit yang mungkin banyak orang juga alami. Pas ramalan benar, suara saya lantang menggelegar kadar desibel tertinggi. Pas ramalan meleset, saya bisu setriliun bahasa.
Saya pernah meramal: "Harga BBM akan naik bulan ini". Kebetulan benar. Seketika saya posting ulang, bikin thread, minta discreenshot. Rasanya seperti cenayang paling jago. Ego naik, lupa kalau itu bisa jadi cuma kebetulan data.
Tapi ketika saya ramal "IHSG akan tembus 8000 minggu depan" lalu faktanya turun, tulisan itu saya delete diam-diam. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada "maaf analisa saya keliru". Hilang begitu saja. Seolah saya tidak pernah bicara.
Lihat awan gelap sedikit, langsung koar: "Besok Jakarta banjir!". Kalau benar hujan deras, saya merasa berjasa. Ribuan orang percaya. Kalau ternyata cuma gerimis 10 menit, saya pura-pura tuli. Tidak ada evaluasi. Tidak ada belajar dari data BMKG yang lebih lengkap. Malu mengalahkan logika.
Ini bagian paling licin. Ketika ramalan meleset, saya banyak belajar dari para cenayang, clairvoyance, tarot, suhu feng shui, astrolog sehinggs punya jurus penyelamatan universal yang terdengar "wajar" dan "bijak".
Jurus A: "Kamu pasti sukses asal rajin, tekun, kerja keras, dan banyak teman". Kalimat ini benar 100 persen. Tapi tidak bisa dibantah dan tidak bisa diuji. Kalau gagal, salahnya ada di "kurang rajin". Kalau sukses, ramalan saya yang berjasa.
Jurus B: "Kemungkinan saya berhasil itu seribu banding satu, namun kebetulan yang satu yang gagal adalah saya". Ini statistik yang jujur, tapi dipakai buat tameng. Kita terlihat rendah hati, padahal intinya tetap: saya tidak salah, saya cuma korban teori probabilitas.
Ramalan bukan sihir. Dokter bisa salah diagnosis. BMKG bisa meleset prakiraannya. Ahli ekonomi hobi revisi proyeksi. Yang membedakan bukan benar atau salahnya, tapi sikap setelahnya.
Dua jurus penyelamat ramalan ini laris manis di medsos.
Saat benar, otak memberi hadiah dopamin. "Saya pintar, saya beda". Kita ketagihan koar-koar. Saat salah, otak memberi rasa malu. "Saya bodoh, saya tidak dipercaya lagi". Refleksnya menutup mulut, menutup kolom komentar, menutup akun.
Ini Homo Menangipiensis. Saya hanya mau menang. Saya tidak mau belajar. Obatnya: Eling dan Waspada. Eling artinya ingat. Ingat bahwa kita manusia pembaca data, bukan dewa. Catat semua prediksi di satu tempat. Yang benar, yang salah. Biar adil dan bisa diukur. Waspada artinya jaga diri. Saat ingin koar karena merasa benar, tahan dulu. Saat ingin bisu karena salah, paksa bicara. Minta maaf, jelaskan letak kelirunya, catat pelajarannya. Jangan berlindung di balik jurus "rajin tekun" atau "seribu banding satu".
Ramalan yang sehat bukan yang akurasinya 100 persen. Ramalan yang sehat adalah yang berani salah di depan umum, lalu memperbaikinya di depan umum juga.
Mulai hari ini saya berkomitmen menunaikan Jihad al Nafs. Jika prognosis, proyeksi, praduga, ramalan saya meleset, saya yang pertama koar. Tapi koarnya berbeda. Koar untuk mengakui, menganalisis, dan belajar bersama pembaca. Karena kejujuran pada data lebih penting daripada pencitraan sebagai cenayang.

Komentar