Senin, 10 Agustus 2026 | 00:27
OPINI

Riwayat Konsep Bersih dan Jorok

Riwayat Konsep Bersih dan Jorok
Ilustrasi riwayat konsep bersih dan jorok (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Di masa kini saya sudah terbiasa dengan budaya kebersihan mulai dari mandi sampai buang air kecil dan besar bukan di ruang terbuka namun di ruang tertutup disebut sebagai kamar mandi dan WC . Di Indonesia, WC dan kamar mandi dengan lantai basah berevolusi ke lantai kering. Lantai basah terbatas pada ruang shower yang memang mustahil selalu kering terutama pada saat shower digunakan.  Semula saya menduga tradisi kebersihan sudah hadir sejak dahulu kala. Baru setelah membaca buku “The Dirt on Clean : An Unsanitized History” karya Katherine Ashenburg, saya terdasar bahwa saya keliru.

Katherine Ashenburg napak tilas bagaimana konsep kebersihan dan kejorokan  telah berubah di dunia Barat sejak zaman Romawi Kuno hingga masa kini. Buku ini bukan hanya sekadar kronologi tentang mandi, popok, handuk atau sabun, melainkan eksplorasi antropologis tentang bagaimana standar kebersihan mencerminkan nilai sosial, agama, kesehatan, privasi, dan identitas.

Mulai dari masa Romawi Kuno, Ashenburg menggambarkan ritual mandi publik yang berlangsung sampai dua jam, mencakup rendaman air panas/dingin, penggosokan dengan alat semacam rakel, dan pengolesan minyak. Tradisi mandi Romawi dilanjutkan oleh masyarakat Turkiye masa kini. Ini menunjukkan betapa kebersihan ragawi menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan kebudayaan.

Dengan bangkitnya Kekristenan pada abad pertengahan , menurut Ashenburg sikap terhadap mandi berubah drastis. Banyak orang mulai menganggap mandi sebagai tindakan yang tidak perlu atau bahkan berbahaya, karena agama Kristen tidak memiliki kode ritual kebersihan seperti Islam atau Yudaisme. Hal ini menyebabkan periode di mana “kotor” justru dianggap sebagai tanda kesalehan.

Kemudian Ashenburg melacak evolusi dari mandi umum ke kamar mandi pribadi, munculnya sabun, deodoran, dan obsesi kebersihan di Amerika Utara. Dia juga membahas “Hygiene Hypothesis”, yang menyatakan bahwa lingkungan yang terlalu steril bisa meningkatkan risiko alergi dan penyakit autoimun.

- Kebersihan sebagai Konstruksi Sosial: Setiap zaman dan peradaban memiliki definisi sendiri tentang apa itu “bersih”. Standar ini bukan hanya tentang kesehatan, tapi juga status sosial, moralitas, dan agama.

- Religi dan Kebersihan: Perbandingan antara agama Kristen (yang kurang menekankan kebersihan ritual) dengan Islam yang mewajibkan ritual wudhu atau pembersihan tubuh.

- Privasi dan Individualisme: Evolusi dari mandi umum (Romawi, Abad Pertengahan) ke kamar mandi pribadi mencerminkan perubahan nilai tentang privasi dan identitas individu.

- Kesehatan dan Sains: Dari teori medis kuno yang melarang mandi karena dianggap membuka pori-pori tubuh, hingga penemuan Teori Kuman yang radikal mengubah pandangan tentang kebersihan.

Ashenburg menulis dengan gaya akademis yang serius namun lincah dan jenaka, menyisipkan berbagai anekdot lucu dan fakta unik. Misalnya, dia menceritakan bahwa Ratu Elizabeth I mandi sebulan sekali, atau bahwa orang Prancis abad ke-17 membersihkan diri hanya dengan mengganti kemeja linen tanpa menyentuh air.

Pada hakikatnya “The Dirt on Clean” adalah sebuah mikro-sejarah yang mengingatkan kita bahwa standar kebersihan hari ini bukanlah kebenaran mutlak, melainkan hasil dari evolusi panjang yang dipengaruhi oleh faktor kultural, agama, dan sains. Buku ini mendorong pembaca untuk merefleksikan bagaimana konsep bersih dan jorok membentuk karakter dan tatakrama interaksi sosial manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya konsep bersih dan jorok ikut membentuk peradaban.

 

Komentar