Gegara Salman Rushdie
Oleh: Jaya Suprana
ASKARA - Pada hakikatnya di alam semesta masih tersedia terlalu banyak tema untuk ditulis maka seharusnya Salman Rusdhie tidak perlu menulis buku “Satanic Verse”.
Akibat dianggap menghina Nabi Muhawad s.a.w. maka novel karya Salman Rushdie berjudul “Satanic Verse” dikutuk oleh Ayatollah Khomeini dengan memaklumatkan Fatwa membunuh Salman Rushdie. Kemudian kasus ulah Salman Rushdie memicu rentetan kekerasan di berbagai pelosok planet bumi.
3 Juli 1991, penerjemah buku “Satanic Verse” ke dalam bahasa Italia, Ettore Cappriolo secara parah dilukai dan ditusuk berulang kali oleh penyerang tak dikenal di rumah Ettore di Milan, Italia. Lanjut 13 Juli 1991, penerjemah “Satanic Verse” ke dalam bahasa Jepang , Hitoshi Igarashi ditemukan oleh seorang pembersih ruang dalam kondisi tewas akibat tusukan senjata tajam di kantor Hitoshi di Universitas Tsukuba.
11 Oktober 1993 di Oslo, punggung William Nygaard penerbit buku “Satanic Verse” di Norwegia, ditembak tiga kali dari belakang oleh snipper tak dikenal. Nyawa Nygaard berhasil diselamatkan namun harus berbulan-bulan berbaring di hospital demi menyembuhkan luka-luka di punggung.
Penerjemah buku Rusdhie di Turkiye, Aziz Nesin disasar para arsonis yang membakar hotel Madinah setelah sholat Jumat pada tanggal 2 Juli 1993 di Sivas, Turkiye, menewaskan 37 orang mayoritas cendekiawan, penyair, penari dan musisi. Nesin selamat sebab para teroris tidak mengenali dia pada penyerbuan awal. Selanjutnya setiap tahun 2 Juli dikenang secara hening oleh para Alevi Turkey berkumpul di Sivas untuk mengenang para korban Masaker Sivas.
Sejak Maret 2016, hadiah untuk insan yang berhasil membunuh Salman Rushdie ditingkatkan sebesar 600.000 dolar Amerika ditambahkan pada 2 juta 8 ratus dolar yang sebelumnya sudah dimaklumatkan. Maka penyelenggara anugerah Nobel untuk sastra menegaskan fatwa Khomeini sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia mengungkap pendapat. Namun sampai saat naskah ini ditulis, dewan juri Nobel belum gegabah menganugerahkan Nobel kepada Salman Rushdie.
12 Augustus 2022, di tengah petaka pagebluk Corona, Rushdie diserang di atas panggung ketika sedang orasi pada suatu acara di Hamot, Chautauqua Instution, USA. Rushdie menderita empat tusukan pada area perut di abdomennya, tiga luka pada bagian kanan dari bagian depan leher, dan satu luka tepat pada mata kanan. Dia diterbangkan dengan helikopter UPMC, sebuah tertiary-level hospital di Erie, Pennsylvania. Penyerangnya, Hadi Matar langsung ditangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyerangan, menyatakan diri tidak bersalah dan sementara ini masih meringkuk di tahanan. 14 Agustus 2022, Rusdie lepas ventilator dan mulai bisa bicara. 23 Oktober 2022, agen Rushdie, Andrew Wylie melaporkan bahwa nyawa Rushdie terselamatkan namun mata kanan Rushdie buta dan lumpuh pada satu tangan.
Masalah rentetan kekerasan dikhawatirkan potensial berlanjut apabila Panitia Anugerah Nobel profokasi dengan memberi anugerah Nobel bagi Salman Rusdhie. Insya Allah, Panitia Anugerah Nobel cukup bijak maka sadar-suasana untuk tidak menyulut ledakan amarah kaum teroris yang tampaknya bersumbu pendek. Semoga rentetan kekerasan gegara ulah Salman Rusdhie sudah cukup berhenti sampai di sini saja. Apapun alasannya, kekerasan yang dilakukan oleh manusia terhadap sesama manusia tidak layak maka tidak boleh dibenarkan.

Komentar