Kamis, 06 Agustus 2026 | 08:32
NEWS

Saatnya Regenerasi Kapolri, Prestasi Layak Dikenang, Estafet Kepemimpinan Harus Berjalan

Saatnya Regenerasi Kapolri, Prestasi Layak Dikenang, Estafet Kepemimpinan Harus Berjalan
Kolase Jenderal Pol Listyo Sigit dan Komjen Suyudi serta ilustrasi perwira tinggi Polri (Dok Askara)

ASKARA - Pergantian pimpinan di tubuh Polri bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan bagian dari regenerasi yang menentukan arah institusi penegak hukum terbesar di Indonesia. Karena itu, wacana pergantian Kapolri patut dipandang sebagai proses yang wajar dalam sistem organisasi modern, bukan sebagai penilaian bahwa seorang pemimpin telah gagal menjalankan tugasnya.

Sulit membantah bahwa Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo telah menorehkan sejumlah prestasi selama memimpin Korps Bhayangkara sejak 27 Januari 2021. Di bawah kepemimpinannya, Polri berhasil mengawal berbagai agenda nasional, mulai dari penanganan pandemi, pengamanan Pemilu dan Pilkada, hingga percepatan transformasi digital pelayanan publik melalui program Presisi. Di tingkat internasional, Polri juga berperan dalam pengamanan sejumlah forum strategis yang memperkuat citra Indonesia.

Namun, kepemimpinan tidak hanya diukur dari prestasi, melainkan juga dari kemampuan menyiapkan regenerasi. Justru pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu meninggalkan organisasi dalam kondisi siap melanjutkan estafet kepemimpinan kepada generasi berikutnya.

Per 17 Agustus 2026, Jenderal Listyo Sigit telah menjabat selama 5 tahun, 6 bulan, 21 hari atau 2.028 hari. Catatan itu menjadikannya Kapolri dengan masa jabatan terlama pada era Reformasi. Dari sisi organisasi, masa pengabdian tersebut sudah lebih dari cukup untuk meninggalkan fondasi kebijakan dan reformasi yang dapat diteruskan oleh penerusnya.

Di sisi lain, tantangan Polri lima tahun ke depan dipastikan berbeda. Ancaman kejahatan siber semakin kompleks, peredaran narkotika kian masif dengan jaringan lintas negara, tindak pidana pencucian uang berkembang mengikuti teknologi digital, sementara tuntutan masyarakat terhadap transparansi, profesionalisme, dan akuntabilitas kepolisian semakin tinggi. Tantangan baru membutuhkan energi baru, pendekatan baru, dan kepemimpinan baru.

Beruntungnya, Polri tidak kekurangan kader. Sejumlah perwira tinggi bintang tiga memiliki kapasitas untuk memimpin institusi tersebut. Salah satu nama yang kerap disebut memiliki rekam jejak kuat adalah Komjen Pol. Suyudi Ario Seto.

Lulusan Akademi Kepolisian 1994 itu dikenal sebagai perwira dengan pengalaman panjang di bidang reserse. Kariernya ditempa dari tingkat bawah sebagai penyidik hingga menduduki berbagai jabatan strategis, antara lain Kapolres Metro Jakarta Pusat, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Wakapolda Metro Jaya, Kapolda Banten, dan kini menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

Pengalaman memimpin BNN menjadi nilai tambah tersendiri. Di tengah ancaman narkotika yang terus berkembang sebagai kejahatan transnasional, pengalaman tersebut dapat menjadi modal penting apabila dipercaya memimpin Polri. Selain memahami penegakan hukum, ia juga memiliki pengalaman koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan kerja sama internasional dalam pemberantasan narkoba.

Tentu saja, Komjen Suyudi bukan satu-satunya kandidat. Masih ada sejumlah perwira tinggi lain yang memiliki kapasitas dan rekam jejak yang layak dipertimbangkan Presiden, seperti Komjen Pol Wahyu Hadiningrat, Asisten Utama Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran; dan Irjen Pol Rudi Darmoko, Kapolda Nusa Tenggara Timur. Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi, stabilitas nasional, serta tantangan keamanan yang akan dihadapi Indonesia.

Yang terpenting, pergantian Kapolri hendaknya tidak dimaknai sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap Jenderal Listyo Sigit. Sebaliknya, pergantian merupakan bagian dari regenerasi yang sehat dalam organisasi besar seperti Polri. Institusi yang kuat bukanlah institusi yang bergantung pada satu figur, melainkan institusi yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru tanpa kehilangan arah dan profesionalismenya.

Pada akhirnya, publik tentu berharap Presiden memilih figur terbaik yang mampu melanjutkan reformasi Polri, memperkuat integritas institusi, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks. Sebab, di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, Polri membutuhkan bukan hanya pemimpin yang berpengalaman, tetapi juga pemimpin yang mampu membawa organisasi melangkah lebih jauh ke masa depan.

 

Komentar