Carr versus Toynbee
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Dalam ikhtiar memelajari ilmu sejarah , saya membaca buku mahakarya E.H Carr “What is History?” dan saripati dari 12 jilid opus magnum Arnold J. Toynbee “A Study of History”. Menurut saya yang awam ilmu sejarah, kedua ilmuwan Inggris tersebut merupakan tokoh sejarawan di garda depan paling terdepan.
Buku "What is History?" karya E.H. Carr adalah sebuah karya klasik dalam bidang historiografi yang membahas tentang sifat dan tujuan sejarah. Carr, seorang sejarawan Inggris, mengajukan pertanyaan fundamental tentang apa itu sejarah dan bagaimana sejarah harus ditulis.
Intisari buku “What Is History” antara lain adalah sejarah bukan sekadar catatan fakta-fakta masa lalu, tetapi merupakan interpretasi dan rekonstruksi masa lalu berdasarkan bukti-bukti yang tersedia. Sejarawan tidak dapat memisahkan diri dari konteks sosial dan politiknya, dan oleh karena itu, sejarah selalu dipengaruhi oleh perspektif dan bias sejarawan. Sejarah bukan ilmu pasti, tetapi disiplin ilmu social yang subjektif dan interpretatif. Tujuan sejarah bukan untuk mencari kebenaran absolut, tetapi untuk memahami masa lalu dan konteksnya, serta untuk memberikan wawasan perspektif tentang masa kini dan masa depan.
Carr juga membahas tentang peran sejarawan, metode sejarah, dan hubungan antara sejarah dan ilmu sosial lainnya. Buku ini dianggap sebagai karya klasik dalam bidang historiografi dan masih relevan hingga hari ini.
Di sisi lain, asejarawan Inggris, Arnold J. Toynbee memiliki pandangan lebih deterministik tentang sejarah. Ia percaya bahwa sejarah adalah proses yang berulang dan dapat diprediksi, dengan pola-pola yang sama yang berulang dalam sejarah manusia. Toynbee juga percaya bahwa sejarah dapat dipelajari dan dipahami melalui analisis komparatif tentang peradaban-peradaban yang berbeda.
Toynbee juga memiliki pandangan yang lebih luas tentang sejarah, yaitu bahwa sejarah adalah proses yang universal dan global, yang melibatkan semua peradaban dan kebudayaan di dunia. Toynbee percaya bahwa sejarah dapat membantu kita memahami tantangan-tantangan yang dihadapi peradaban-serts bagaimana kita dapat belajar dari masa lalu untuk membangun peradaban masa depan yang lebih baik.
Perbedaan utama antara Carr dan Toynbee adalah bahwa Carr memiliki pandangan yang lebih subjektif dan interpretatif tentang sejarah, sedangkan Toynbee memiliki pandangan yang lebih deterministik dan universal. Carr menekankan peran sejarawan dalam membentuk sejarah, sedangkan Toynbee menekankan pola-pola yang berulang dalam sejarah manusia dalam membangun peradaban.
Dibandingkan dengan Carr, pada hakikatnya pemikiran historiografis Toynbee relatif lebih mirip pemikiran hipotesis Edward Gibbon yang pada tahun 1776 (nyaris tiga abad yang lalu!) tertuang di dalam tiga jilid “The History of The Decline and Fall of The Roman Empire“.
Tidak ada pertarungan frontal akibat pada hakikatnya pemikiran-pemikiran para mahasejarawan itu bukan saling berbenturan namun justru saling melengkapi.

Komentar