Selasa, 09 Juni 2026 | 23:07
Ruang Menulis

Cerpen: Fatamorgana Kehidupan

Cerpen: Fatamorgana Kehidupan
Ilustrasi

ASKARA - Langit di atas Jakarta berwarna oranye keemasan saat Reza melangkah keluar dari apartemennya. Angin sore berhembus pelan, membawa suara bising lalu lintas dan gemuruh dunia maya yang selalu gaduh. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke mobil sport hitam yang terparkir rapi di basement. Mobil itu adalah salah satu dari banyak bukti kesuksesannya—atau setidaknya, itulah yang ia yakini selama ini.

Di dashboard mobil, ponselnya terus bergetar. Ratusan notifikasi membanjiri layar, sebagian besar adalah komentar di unggahannya yang terbaru. Ia tersenyum miring. Lagi-lagi, ia berhasil membentuk opini publik sesuai pesanan. Dunia maya heboh, timeline penuh dengan namanya, dan yang terpenting—rekeningnya bertambah gemuk.

Namun, jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Sebuah rasa kosong yang tak pernah sepenuhnya hilang, meski mobil mewah, apartemen eksklusif, dan angka di rekeningnya terus bertambah.

Lima Tahun Lalu – Saat Segalanya Bermula

Reza dulu hanyalah mahasiswa biasa di salah satu universitas negeri ternama. Ia mengambil jurusan komunikasi, bercita-cita menjadi jurnalis hebat yang bisa mengungkap kebenaran. Namun, kenyataan hidup tak semudah idealismenya.

Setelah lulus, ia berjuang mencari pekerjaan tetap, tapi selalu ditolak. Gelar sarjana dan IPK tinggi ternyata tak cukup untuk bersaing di dunia yang lebih mengutamakan pengalaman dan koneksi. Sementara itu, biaya hidup di kota besar terus menghimpitnya.

Sampai akhirnya, sebuah tawaran datang dari teman lamanya.

"Zaman sekarang bukan soal siapa yang paling pintar, bro. Tapi siapa yang bisa bikin orang percaya."

Reza tak langsung mengerti maksudnya. Tapi ketika ia ditawari pekerjaan di sebuah “agen komunikasi digital,” ia mulai melihat peluang besar. Tugasnya sederhana: mengisi kolom komentar, menambah like, menyebarkan artikel, dan sedikit demi sedikit, membentuk opini publik sesuai pesanan.

Seiring waktu, ia semakin mahir. Ia tak sekadar menjadi bagian dari tim, tapi menjadi otak di balik berbagai kampanye viral. Ia membangun narasi, menjatuhkan lawan, bahkan menciptakan realitas baru yang dipercaya jutaan orang. Klien datang silih berganti: politisi yang ingin menaikkan citra, perusahaan yang ingin menutupi skandal, hingga tokoh publik yang ingin menghancurkan pesaing mereka.

Dan uang pun mengalir deras.

Kembali ke Masa Kini

Di layar ponselnya, ribuan komentar terus berdatangan:

"Orang tua sok pintar ini memang harus diberi pelajaran!"
"Si Hasan itu memang mau cari panggung. Biar tahu rasa!"
"Buzzer seperti kalian memang pahlawan zaman ini!"

Biasanya, komentar seperti ini membuatnya tersenyum bangga. Tapi malam ini, entah kenapa, ada sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Reza, apakah uang bisa menggantikan harga diri? Apakah semua ini sepadan?"

Jantungnya berdegup. Ia membaca ulang pesan itu. Tidak ada nama pengirim, hanya serangkaian angka. Namun, ia tahu siapa yang menulisnya. Profesor Hasan.

Reza menatap layar dengan perasaan campur aduk. Hasan adalah dosen senior yang dulu sangat ia hormati—salah satu dari sedikit orang yang masih percaya bahwa kebenaran lebih penting daripada uang.

Ia menarik napas panjang. Pikirannya berputar ke pertemuan terakhir mereka di sebuah seminar kampus, ketika Hasan dengan lantang mengecam fenomena buzzer dan betapa mereka telah merusak moral bangsa.

"Kalian menukar integritas dengan uang. Membunuh kebenaran demi kepentingan. Apa yang akan kalian katakan pada anak-anak kalian nanti?"

Saat itu, Reza hanya tertawa sinis. Baginya, Hasan adalah gambaran generasi lama yang masih terjebak dalam idealisme. Namun, malam ini, kata-kata itu menggema lebih kuat dari sebelumnya.

Tangannya gemetar saat membalas pesan itu.

"Profesor, apakah kebenaran masih berarti di dunia seperti ini?"

Pesan terkirim. Tapi tak ada balasan.

Di ruangan kecilnya, Profesor Hasan menatap ponselnya yang bergetar, membaca pesan dari mantan mahasiswanya. Ia tersenyum tipis. Mungkin, masih ada harapan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar