Senin, 15 Juni 2026 | 19:48
NEWS

Romo Mangun Layak Menjadi Pahlawan Nasional

Romo Mangun Layak Menjadi Pahlawan Nasional
Peluncuran buku tentang Romo Mangun (Dok Yote)

ASKARA – Peluncuran buku dan seminar tentang Romo Mangun pada 10 Februari 2025 berlangsung dengan baik dan lancar. Acara ini menjadi langkah awal untuk melengkapi syarat pengusulan Romo Mangun sebagai Pahlawan Nasional.

"Puji Tuhan, acara peluncuran buku dan seminar Romo Mangun telah selesai dengan baik. Sekarang tugas panitia melengkapi prasyarat yang diminta untuk pengusulan Pahlawan Nasional," ujar Romo Yos Bintoro, Pr.

Menurutnya, Romo Mangun adalah sosok yang memiliki keberanian luar biasa sebagai seorang pionir. Sejak muda, ia telah mengalami tiga fase transformasi hidup yang membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan penuh pengabdian.

"Romo Mangun adalah sosok yang berani melakukan terobosan. Itu ciri khas seorang pahlawan. Ia mengalami tiga formasi dalam hidupnya: pertama, sebagai anak dari keluarga pendidik yang menanamkan nilai-nilai kehidupan; kedua, sebagai tentara yang ditempa untuk berjuang membela bangsa; dan ketiga, sebagai imam yang hidup demi kemanusiaan," jelas Romo Yos.

Transformasi tersebut membuat Romo Mangun memiliki pemikiran kritis dan inklusif, bahkan berani melawan arus utama jika diperlukan.

Selain sebagai pemimpin spiritual, Romo Mangun juga dikenal sebagai arsitek yang mengabdikan keahliannya untuk masyarakat kecil.

"Otentisitas Romo Mangun terlihat dari cara ia memandang arsitektur bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai sarana memuliakan manusia bersama komunitasnya. Ia tidak hanya membangun, tetapi juga menghadirkan makna dalam setiap karyanya," tutur Romo Yos.

Karya arsitektur Romo Mangun mencerminkan komitmennya pada wong cilik, seperti perumahan di bantaran Kali Code dan berbagai gereja yang dirancangnya.

Menurut Romo Yos, kekuatan terbesar Romo Mangun adalah teologi pengharapan yang selalu ia hidupi.

"Romo Mangun itu ‘kagak ada matinya’. Ia terus menabur kebaikan meskipun belum tentu menuai hasil. Kedudukannya bukan pada jabatan atau pangkat, tetapi berada di tengah-tengah rakyat," ungkapnya.

Sikap inilah yang membuat Romo Mangun tidak ragu untuk hidup sederhana, bahkan saat belajar di Jerman ia memilih bekerja sebagai penjaga sekolah demi mempertahankan kemandiriannya.

Sebagai komunikator, Romo Mangun juga memiliki cara yang unik dalam menyampaikan gagasannya.

"Kalau Romo Mangun dianggap anti-mainstream, itu karena otentisitasnya. Ia tetap berpegang teguh pada prinsipnya, tetapi juga siap berdialog dan mencari solusi," ujar Romo Yos.

Salah satu contoh nyata adalah saat ia membela hak-hak warga Kedung Ombo dengan ancaman mogok makan, yang akhirnya mampu menggugah pemerintah untuk menyelesaikan konflik.

Tak hanya itu, Romo Mangun juga berperan dalam reformasi militer. Saat Jenderal Wiranto mengumpulkan para pakar untuk merumuskan reposisi ABRI pada 1999, Romo Mangun turut menjadi narasumber.

"Hasilnya, tiga tahun kemudian terjadi pemisahan TNI dan Polri. TNI akhirnya kembali ke barak dan tidak lagi mengedepankan doktrin dwifungsi ABRI. Ini adalah bukti bahwa Romo Mangun bukan hanya seorang imam, tetapi juga pemikir besar bangsa," tegas Romo Yos.

Menurut Romo Yos, peluncuran buku ini bukan sekadar mengenang Romo Mangun, tetapi juga menghidupkan kembali semangatnya bagi generasi muda.

"Komunikasi macam ini amat perlu untuk melanjutkan narasi hidup dan karya Romo Mangun pada generasi berikutnya, agar tetap menjadi manusia muda yang merdeka. Generasi muda harus terus diberi inspirasi agar tetap memiliki semangat kebebasan dan keberanian seperti Romo Mangun," tutupnya.

Dengan berbagai kontribusinya, Romo Mangun dinilai layak mendapat gelar Pahlawan Nasional. Kini, panitia tengah melengkapi persyaratan administratif untuk pengusulan resmi, agar perjuangannya terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi bangsa.

 

 

Komentar