Prof. Rokhmin Dahuri: Produksi Garam Industri Tidak Membutuhkan Teknologi Canggih
ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi besar dalam produksi garam, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri. Salah satu tantangan utama dalam produksi garam industri adalah mencapai kemurnian tinggi, yaitu 98 persen Natrium Klorida (NaCl).
"Meskipun terdengar rumit, proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang relatif sederhana, tidak memerlukan teknologi yang sangat canggih. Produksi garam industri hanya membutuhkan waktu penguapan yang lebih lama," ujar Prof Rokhmin Dahuri kepada media, dikutip Rabu (4/12).
Beliau menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia tidak perlu lagi mengimpor garam konsumsi pada tahun 2025. Menurutnya, dengan pengelolaan yang tepat dan peningkatan produksi dalam negeri, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan garam konsumsi secara mandiri.
Optimisme ini, ucapnya, didasarkan pada potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam produksi garam, serta berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam lokal.
"Untuk itu, pentingnya sinergi antara pemerintah, petani garam, dan sektor swasta untuk mencapai target ini," sebut Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu.
Di sisi lain, Prof Rokhmin Dahuri mengaku tidak khawatir dengan pasokan garam konsumsi agar Indonesia tidak lagi mengimpor pada 2025. Namun ia mendorong agar pemerintah serius meningkatkan produksi garam industri.
"Seharusnya garam konsumsi sudah swasembada. Yang harus ditingkatkan adalah garam industri tidak rocket science bukan ilmu yang canggih," tegasnya.
Namun selama ini banyak petambak garam yang terburu-buru untuk memanen, sehingga kualitas garam yang diproduksi hanya cocok untuk garam konsumsi.
Petambak garam tidak bisa menunggu terlalu lama karena membutuhkan pemasukan. Untuk itu ia mendesak pemerintah agar mampu menjamin kesejahteraan para petambak selama masa produksi garam industri seperti pinjaman atau bantuan lainnya.
Teknologi yang Diperlukan
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) memaparkan, teknologi yang digunakan dalam proses pemurnian garam mencakup metode-metode dasar seperti evaporasi, kristalisasi, dan pencucian. Teknologi ini sudah cukup untuk menghilangkan sebagian besar kotoran dan meningkatkan kadar NaCl dalam garam.
Dengan menggunakan teknologi yang tidak terlalu canggih, produksi garam industri dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dan lebih mudah diakses oleh para produsen kecil dan menengah.
"Hal ini akan meningkatkan kemandirian industri garam nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor," tuturnya.
Prof. Rokhmin Dahuri mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk memproduksi garam industri berkualitas tinggi tanpa harus bergantung pada teknologi yang sangat canggih.
"Dengan pemanfaatan teknologi sederhana, Indonesia dapat meningkatkan produksi garam industri dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kelautan dan Perikanan itu.

Komentar