Reses 8 Hari di Cirebon-Indramayu, Prof. Rokhmin Dahuri: Saatnya Belanja Masalah Rakyat, Menyerap Aspirasi, dan Merumuskan Solusi
ASKARA - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jawa Barat VIII, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menuntaskan rangkaian reses selama delapan hari di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Indramayu, Juli 2026. Dalam 8 hari, ia berhasil menyambangi 77 kecamatan dan 763 desa/kelurahan yang tersebar di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, dan Kabupaten Indramayu.
Hal tersebut disampaikan Rokhmin Dahuri dalam video laporan resesnya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera untuk kita semua. Alhamdulillah saya selaku anggota DPR RI Komisi 4 dari Dapil Jabar 8 sangat produktif, berhasil mengunjungi 77 kecamatan dan 763 desa dan kelurahan," ujarnya, dikutip Kamis (30/7).
Tidak sekadar kunjungan formal, Prof. Rokhmin juga turun langsung menyapa masyarakat, berdialog dengan Koordinator Desa (Kordes), tokoh masyarakat, petani, nelayan, pembudidaya ikan, hingga pelaku UMKM.
"Reses bukan sekadar agenda formal atau kunjungan seremonial. Ini kewajiban konstitusional sekaligus tanggung jawab moral untuk hadir di tengah rakyat, melihat kondisi nyata, mendengarkan keluhan, melakukan 'belanja masalah', dan bersama-sama merumuskan solusi," tegas Prof. Rokhmin.
Fokus utama dalam reses kali ini, kata Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu, adalah 'belanja masalah' di sektor-sektor yang menjadi mitra kerja Komisi IV, yakni pertanian, kelautan dan perikanan, serta kehutanan.
"Apa sih masalah yang ada di Cirebon dan Indramayu di sektor pertanian, kelautan perikanan dan kehutanan. Selain mengidentifikasi, kami pun berdiskusi dengan konstituen, Forkopimcam, Forkopimdes untuk mencari solusi," jelasnya.
Tak hanya berdialog, Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu juga menjalankan misi sosial. Di tengah kunjungannya, ia mendapat amanah dari Perum Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan.
"Saya menerima amanah dari Bulog untuk membagikan bantuan pangan berupa beras, sekitar 900 kantong berisi 5 kilogram beras. Jadi sembari bertemu dan berdialog, saya bagikan bantuan pangan ini," tuturnya.
Dari dialog yang digelar secara maraton tersebut, berbagai persoalan krusial mengemuka. Mulai dari sektor pertanian, pangan, kelautan dan perikanan, kehutanan, lingkungan hidup, pembangunan desa, lapangan kerja, hingga pengembangan UMKM dan kesejahteraan keluarga.
Prof. Rokhmin menegaskan, dalam setiap pertemuan ia mengedepankan dialog dan musyawarah. Menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek penerima program.
"Masyarakat harus menjadi subjek utama pembangunan. Dilibatkan sejak proses perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan, hingga pengawasan," ujarnya
Seluruh aspirasi yang diserap, kata dia, akan menjadi amunisi perjuangan di Senayan melalui tiga fungsi utama DPR RI: legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Hasil temuan di lapangan akan segera dikoordinasikan dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan seluruh pemangku kepentingan.
Salurkan 1.036 Paket Pangan, Tapi Bukan Tujuan Akhir
Dalam rangkaian reses tersebut, Prof. Rokhmin juga menyalurkan 1.036 paket bantuan pangan dari Bulog, masing-masing berisi 5 kilogram beras untuk warga di tiga wilayah tersebut.
Namun ia menegaskan, bantuan pangan bukanlah tujuan akhir pembangunan.
"Bantuan harus menjadi pemantik untuk memperkuat solidaritas. Yang jauh lebih penting adalah memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap sarana produksi, teknologi, pendidikan, pelatihan, pembiayaan, pendampingan usaha, serta kepastian pasar agar mampu hidup semakin produktif dan sejahtera," tegas Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 itu.
Tak hanya soal ekonomi, reses kali ini juga diselingi dengan aksi pelestarian lingkungan melalui kegiatan penanaman mangrove. Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem.
Di akhir rangkaian, Prof. Rokhmin menyampaikan apresiasi atas keterbukaan warga dalam menyampaikan aspirasi.
"Politik harus menjadi jalan pengabdian. Wakil rakyat harus hadir, mendengar, berdialog, bekerja, dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Ukuran keberhasilannya bukan hanya seberapa banyak kegiatan atau bantuan, tetapi sejauh mana perjuangan itu mampu meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan kerja, dan menghadirkan kehidupan rakyat yang lebih maju, makmur, adil, dan sejahtera," tegasnya.
Prof. Rokhmin mengaku pola resesnya dilakukan dari pagi hingga malam. Ia duduk lesehan bersama petani, petambak, nelayan, dan warga di balai-balai desa, bahkan mengendarai motor menyusuri area persawahan dan pesisir.
Rangkaian reses juga diisi dengan kegiatan lingkungan. Dalam dokumentasi video terlihat Rokhmin mengikuti aksi 'TERA Batch 8 - Mangrove for Earth Festival', melakukan penanaman bibit mangrove bersama mahasiswa dan komunitas di kawasan pesisir Indramayu. Aksi ini sejalan dengan komitmennya menjaga ekosistem pesisir dan keberlanjutan sektor perikanan.
"Semoga cara atau pola kami reses ke dapil Cirebon-Indramayu bisa menjadi teladan untuk daerah lainnya. Semoga bermanfaat untuk meningkatkan gizi masyarakat Cirebon dan Indramayu," pungkasnya.
Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) ini, menutup laporannya dengan salam khas, "Makmur, Berdaulat, Mandiri Indonesia. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Kegiatan reses ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Warga terlihat berebut berfoto, menerima tas bantuan berwarna merah bertuliskan 'Semoga Bermanfaat & Menjadi Berkah Untuk Kita Semua' dan mengikuti dialog terbuka terkait kesejahteraan.

Komentar