Kamis, 18 Juni 2026 | 04:01
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri Harap Politeknik KP Sidoarjo Menjadi Pelopor Dalam Inovasi Maritim

Prof. Rokhmin Dahuri Harap Politeknik KP Sidoarjo Menjadi Pelopor Dalam Inovasi Maritim
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS

ASKARA - Politeknik Kelautan dan Perikanan (KP) Sidoarjo merayakan Dies Natalis ke-25 dengan tema “Inovasi Tanpa Batas: 25 Tahun Membangun Ekosistem Maritim yang Berkelanjutan” di Surabaya, Jumat, 29 November 2024. Salah satu pembicara utama dalam acara tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., seorang ahli kelautan dan perikanan yang dikenal luas di Indonesia.

Dalam paparannya, Prof. Rokhmin Dahuri  berharap Politeknik KP Sidoarjo dapat terus menjadi pelopor dalam inovasi maritim dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Beliau juga menekankan pentingnya inovasi tanpa batas dalam membangun ekosistem maritim yang berkelanjutan.

"Inovasi adalah kunci untuk menghadapi tantangan global dan lokal yang terus berkembang," ujar Prof Rokhmin Dahuri yang membahas tema "Tantangan, Peluang Dan Sinergi Dunia Industri Budidaya Perikanan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Kemajuan Sektor Kelautan dan Perikanan".

Beliau menggarisbawahi bahwa selama 25 tahun terakhir, Politeknik KP Sidoarjo telah berkontribusi signifikan dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten di bidang kelautan dan perikanan.

Prof. Rokhmin juga menyoroti peran pendidikan dan penelitian dalam mendukung pembangunan ekosistem maritim. Beliau mengapresiasi Politeknik KP Sidoarjo yang terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan melakukan penelitian yang relevan dengan kebutuhan industri maritim.

"Pendidikan dan penelitian adalah fondasi yang kuat untuk mengembangkan inovasi yang berdampak positif bagi lingkungan dan masyarakat," ujarnya.

Tiga Jurus Penting 

Prof. Rokhmin Dahuri mengajak semua pihak untuk terus bekerja sama dalam mewujudkan visi Politeknik KP Sidoarjo dalam membangun ekosistem maritim yang berkelanjutan.

Kemudian beliau menjelaskan peran strategis Politeknik KP Sidoarjo dalam mencetak tenaga ahli perikanan dan SDM KP unggul. Melalui pendidikan vokasi berbasis praktik dan inovasi, generasi muda disiapkan untuk menjadi motor penggerak industri kelautan dan perikanan yang inovatif dan berkelanjutan.

Beliau juga memaparkan tiga jurus penting dalam pembangunan akuakultur:

Pertama, Revitalisasi: Meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing, inklusifitas, dan keberlanjutan.

Kedua, Ekstensifikasi: Mengembangkan usaha budidaya di lahan (ekosistem) perairan tawar (darat), lahan dan perairan payau (pesisir), dan perairan laut (marikultur) yang baru.

Ketiga, Diversifikasi: Mengembangkan usaha budidaya dengan jenis jenis (varietas-varietas) baru.

Ketiga jurus (program) diatas harus menerapkan : (1) Skala ekonomi, (2) Best Aquaculture Practices dengan teknologi mutakhir, (3) Sistem Rantai pasok terpadu, dan (4) Prinsip-prinsip pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tantangan dan Peluang

Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin mengidentifikasi beberapa tantangan utama yang dihadapi sektor maritim, seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan overfishing. Namun, beliau juga menekankan bahwa tantangan-tantangan ini membawa peluang besar untuk inovasi.

"Dengan pendekatan yang kreatif dan teknologi yang tepat, kita dapat mengubah tantangan menjadi peluang untuk menciptakan ekosistem maritim yang lebih berkelanjutan," kata Anggota DPR RI 2024 – 2029 itu.

Selanjutnya, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University tersebut menguraikan peran Poltek KP Sidoarjo dalam mendukung Industri Perikanan Budidaya, antara lain:

Pertama , Pengembangan SDM: Mencetak tenaga ahli perikanan budidaya melalui pendidikan vokasi berbasis praktik.

Kedua, Riset Teknologi Budidaya: Menciptakan teknologi budidaya yang efisien, berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Ketiga, Pelatihan Pembudidaya: Memberikan pelatihan teknis kepada masyarakat untuk meningkatkan produktivitas tambak.

Keempat, Inovasi Pakan Lokal: Mengembangkan inovasi pakan alternatif yang berkualitas tinggi yang dapat mengurangi ketergantungan pada pakan impor.

Kelima, Kemitraan Dengan Industri: Menjalin kerja sama dengan perusahaan untuk menghubungkan pembudidaya dengan pasar

Keenam , Sosialisasi Teknologi Digital: Mengedukasi pembudidaya tentang penggunaan teknologi digital dalam monitoring tambak

Ketujuh, Pengembangan Benih Unggul: Mendukung industri dengan menghasilkan benih berkualitas tinggi & produktivitas optimal.

Kedelapan, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir: Mengubah tambak marginal menjadi produktif melalui penyuluhan & pelatihan.

Kesembilan, Standardisasi Produk: Membantu pembudidaya memenuhi standar kualitas produk untuk meningkatkan daya saing di pasar ekspor.

Kesepuluh, Dukungan Kebijakan Nasional:
Mendukung kebijakan nasional dengan menyediakan data dan kajian akademis untuk perumusan strategi pengembangan perikanan budidaya.

Tujuan Politeknik KP Sidoarjo

Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu menyampaikan tujuan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo (Politeknik KP Sidoarjo), yaitu untuk mencetak SDM kompeten di bidang kelautan dan perikanan melalui pendidikan Diploma III. Institusi ini bermula sebagai Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) pada 1982, berubah menjadi Akademi Perikanan Sidoarjo pada 1998, dan diresmikan pada 11 November 1999.

Sejak 2000, Politeknik ini berada di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan, dengan status berubah menjadi Politeknik KP Sidoarjo pada 2013, menawarkan lima program studi. Pada 2015, animo pendaftar sangat tinggi dengan rasio penerimaan 1:7, membuktikan daya tarik institusi ini.

Hingga saat ini, Politeknik KP Sidoarjo telah menerima 1.692 taruna dan meluluskan 1.359 lulusan, mencetak SDM unggul untuk sektor kelautan dan perikanan.

Visi: Menjadi Pendidikan Tinggi Vokasional Berkarakter Unggul, Inovatif, berorientasi pada Industri Kelautan dan Perikanan Global yang berkelanjutan

Misi: Meningkatkan pelayanan dan mutu pendidikan yang berorientasi bisnis untuk menghasilkan lulusan yang,berkarakter, kompeten, dan berdaya saing tinggi.
Mengembangkan penelitian terapan yang relevan dengan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat untuk sinergitas civitas akademika dengan stakeholders.
Membangun Jiwa Kewirausahaan (Enterpreneurship) Civitas Akademika di bidang Kelautan dan Perikanan.
Memperluas dan mengembangkan Kerjasama eksternal.Mewujudkan pengelolaan Institusi PK-BLU secara transparan dan akuntabel

Sedangkan karakter alumni perguruan tinggi yang dibutuhkan di Abad-21, Prof Rokhmin Dahuri menjelaskan, yaitu:

Kompeten pada bidang IPTEK yang ditempuh selama pendidikannya; Memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving; Menguasai dan terampil teknologi digital (menggunakan komputer, HP, dan platform lainnya).

Selanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri menjabarkan karakter soft skills, etos kerja, dan akhlak mulia  yang dibutuhkan di abad-21, antara lain: Soft skills, terdiri 1. Kemampuan memahami kekuatan dan kelemahan diri,

2. Kemampuan memahami kemauan dan kesukaan orang lain(mitra), 3. Kemampuan terus memelihara dan memompa motivasi untuk menjadi yang terbaik, 4. Kemampuan analisis dan memecahkan masalah, 5. Kreatif dan inovatif, 6. Leadership, 7. Entrepreneurship, 8. Kolaborasi, dan 9. Kemampuan berbahasa asing (inggris, arab, mandarin, dll).

Soft Skills: Kemampuan memahami kekuatan dan kelemahan diri, Kemampuan memahami kemauan dan kesukaan orang lain (mitra), Kemampuan terus memelihara dan memompa motivasi untuk menjadi yang terbaik, Kreatif dan inovatif, Kemampuan analisis dan memecahkan masalah, Leadership, Entrepreneurship, Kolaborasi, Kemampuan berbahasa Asing (Inggris, Arab, Mandarin, dll)

Lalu, etos kerja terdiri: 1. Kerja keras, 2. Rajin, 3. Disiplin, 4. Tahan banting, tak mudah putus asa, dan pantang menyerah, 5. Antisipatif, 6. Adaptif, 7. Agile; Akhlak mulia, terdiri: 1. Shiddiq (jujur), 2. Amanah, 3. Fathonah (cerdas & visioner), 4. Mampu menyampaikan dan berbagi kelebihan kepada orang lain, 5. Sabar dan syukur, 6. Kana’ah, 7. Tidak iri dan dengki, 8. Tidak pemarah dan pendendam;

Kemudian, peningkatan kualitas SDM yang saat ini sudah bekerja, yakni: 1. Upskilling untuk jenis-jenis pekerjaan yang masih exis saat ini, tapi dengan perkembangan IPTEK baru, diperlukan peningkatan pengetahuan, skills (keterampilan), expertise (keahlian), dan etos kerja. Melalui training di perusahaan (tempat kerja) masing-masing, BLK (Balai Latihan Kerja), perusahaan konsultan, SMK, Perguruan Tinggi Vokasi, dan lainnya.

Selanjutnya, peningkatan kualitas SDM yang saat ini sudah bekerja, yakni: 1. Upskilling untuk jenis-jenis pekerjaan yang masih exis saat ini, tapi dengan perkembangan IPTEK baru, diperlukan peningkatan pengetahuan, skills (keterampilan), expertise (keahlian), dan etos kerja. Melalui training di perusahaan (tempat kerja) masing-masing, BLK (Balai Latihan Kerja), perusahaan konsultan, SMK, Perguruan Tinggi Vokasi, dan lainnya.

2. Reskilling untuk menambah (mengubah) pengetahuan, skills, expertise, dan etos kerja baru, seiiring dengan pesatnya perkembangan IPTEK di abad-21 ini, khususnya terkait dengan jenis-jenis teknologi Industry 4.0, seperti: Digital Coding, Big Data, IoT, AI, Blockchain, Cloud Computing, Robotics, Drone, Advanced Materials, Biotechnology, dan Nanotknologi.

Tantangan Pembangunan Indonesia

Lebih lanjut, Prof Rokhmin Dahuri memaparkan, sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, alhamdulillah bangsa Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami perbaikan hampir di semua bidang kehidupan. “Contohnya, kalau pada 1945 – 1955 sekitar 70 persen rakyat Indonesia masih miskin, pada 1970 jumlah rakyat miskin menurun menjadi 60 persen,” ujar Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu, merujuk data BPS  yang diolah oleh RD Institute (2023).

Pada 2004 tingkat kemiskinan turun lagi menjadi 16 persen, tahun 2014 mejadi 12 persen, dan tahun 2019 tinggal 9,2 persen. Sayang, dampak dari pandemi Covid-19, pada 2023 tingkat kemiskinan meningkat lagi menjadi 9,3% atau sekitar 26,4 juta orang.

“Menurut World Bank, ukuran ekonomi atau PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia saat ini mencapai 1,1 trilyun dolar AS atau terbesar ke-16 di dunia. Dari 200 negara anggota PBB, hanya 19 negara dengan PDB US$ lebih 1 triliun,” terangnya.

Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan permasalahan & tantangan pembangunan Indonesia. Pertama. Pertumbuhan ekonomi rendah (kurang 7% per tahun). Kedua, Pengangguran & Kemiskinan. Ketiga, Ketimpangan ekonomi terburuk ke-3 di dunia. Keempat, Disparitas pembangunan antar wilayah. Kelima, Fragmentasi sosial: Kadrun vs Cebong, dll. Keenam, Deindustrialisasi. Ketujuh, Kedaulatan pangan, farmasi, dan energy rendah. Kedelapan, Daya saing & IPM rendah. Kesembilan, Kerusakan, lingkungan & SDA. Kesepuluh, Volatilitas global (perubahan iklim, China vs AS, Industry 4.0).

Indonesia menduduki peringkat ke-3 sebagai negara dengan tingkat kesenjangan ekonomi tertinggi (terburuk) di dunia, Menurut laporan Credit Suisse’s Global Wealth Report 2019, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 44,6% kue kemakmuran secara nasional, sementara 10% orang terkaya menguasai 74,1%.

Kekayaan 4 orang terkaya (US$ 25 M = Rp 335 T) sama dengan total kekayaan 100 juta orang termiskin (40% penduduk) Indonesia. (Oxfam, 2017).  “Sekitar 0,2% penduduk terkaya Indonesia menguasai 66% total luas lahan nasional (KPA, 2015),” ungkapnya.

Bahkan sekarang, sambungnya, 175 juta ha (93% luas daratan Indonesia) dikuasai oleh para konglomerat (korporasi) nasional dan asing (Institute for Global Justice, 2016). Pertumbuhan Ekonomi dan Kontribusi PDRB menurut Pulau, 2023 dan 2024 TW I masih di dominasi oleh kelompok Provinsi Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB 2023 sebesar 57,05% dan 2024 TW I sebesar 57,70%.

Disisi lain, sambungnya, deindustrilisasi terjadi di suatu negara, manakala kontribusi sektor manufakturnya menurun, sebelum GNI  (Gross National Income) perkapita nya mencapai US$ 12.536. “Hingga 2021, peringkat Global Innovation Index (GII) Indonesia berada diurutan ke-87 dari 132 negara, atau ke-7 di ASEAN,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.

Masalah lainnya kekurangan rumah sehat dan layak huni. Dari 65 juta Rumah Tangga, menurut data BPS tahun 2019 dimana 61,7 persen tidak memiliki rumah layak huni. “Padahal, perumahan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (human basic needs) yang dijamin dalam Pasal 28, Ayat-h UUD 1945,” terangnya.

Perhitungan angka kemiskinan atas dasar garis kemiskinan versi BPS (2024), yakni pengeluaran Rp 582.932/orang/bulan. Garis kemiskinan = Jumlah uang yang cukup untuk seorang memenuhi 5 kebutuhan dasarnya dalam sebulan.

Menurut garis kemiskinan Bank Dunia (3,2 dolar AS/orang/hari atau 96 dolar AS/orang/bulan (Rp 1.440.000)/orang/bulan), jumlah orang miskin pada 2023 sebesar 111 juta jiwa (37% total penduduk)

Sementara itu, biaya yang diperlukan orang Indonesia untuk membeli makanan bergizi seimbang sebesar Rp 22.126/hari atau Rp 663.791/bulan. Harga tersebut berdasarkan pada standar komposisi gizi Healthy Diet Basket (HDB) (FAO, 2020). "Atas dasar perhitungan tersebut; ada 183,7 Juta orang (68% total penduduk)  yang tidak mampu memenuhi biaya tersebut," ungkapnya.

Meroket Impor Beras Di Tahun Politik

Berdasarkan Proyeksi Neraca Beras Nasional 2024, Indonesia akan mengimpor  hingga 5,17 juta ton beras sepanjang tahun ini. Angka ini jauh melampaui rekor impor sebelumnya pada tahun 1999 sebesar 4,75 juta ton. Ketergantungan yang semakin besar pada impor beras ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap ketahanan pangan nasional.

Tingkat Literasi Negara Di Dunia

Riset yang bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked, dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca

Pada 2018-2022, indeks daya saing Indonesia semakin menurun, hingga 2022 diurutan ke-44 dari 141 negara, atau peringkat ke-4 di ASEAN

Selanjutnya, Prof Rokhmin Dahuri menjabarkan potensi perikanan budidaya sebagai Game Changer (Panacea) dalam mengatasi permasalahan dan tantangan pembangunan menuju indonesia emas 2045, bahwa Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya terbesar di dunia, sekitar 100 juta ton/tahun.  Pada tahun 2023, produksi perikanan budidaya Indonesia mencapai 15,36 juta ton, sejak 2009 Indonesia sebagai negara penghasil perikanan budidaya terbesar kedua di dunia. 

FAO memproyeksikan bahwa produksi perikanan budidaya Indonesia akan tumbuh sebesar 26% pada tahun 2030, berkontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan global (KKP, 2022).

Perikanan Budidaya (Aquaculture) bukan hanya menghasilkan komoditas/produk konvensional (seperti ikan, krustasea, moluska, dan avertebrata), tetapi juga komoditas/produk non-konvensional, seperti bahan baku untuk industri functional food and beverages, farmasi, kosmetik, bioplastic, pupuk organik, cat, biofuel, bahkan padi dan tanaman pangan lain dengan genome editing.

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk Indonesia dan dunia; sementara produksi dari sektor perikanan tangkap, dan pertanian (tanaman pangan, hortikultur, peternakan, dan Perkebunan) sudah mengalami stagnasi (leveling-off); maka peran Perikanan Budidaya akan semakin strategis.

Investasi dan bisnis aquaculture banyak menyerap tenaga kerja (labor-intensive), setiap 1% pertumbuhan ekonomi menciptakan 450.000 orang tenaga kerja.

Mengatasi masalah pengangguran: Pada umumnya investasi dan bisnis aquaculture sangat menguntungkan (lucrative) 

Mengatasi kemiskinan: Modal investasi dan usaha aquaculture relatif tidak terlalu besar, dan bukan ‘a rocket science’, sehingga kebanyakan rakyat mampu mengerjakannya. Mengatasi masalah ketimpangan kaya vs miskin (economic inequality).

Sebagian besar investasi dan usaha aquaculture berlangsung di wilayah perdesaan, pesisir, laut, dan luar Jawa. Mengatasi masalah khronis disparitas pembangunan antar wilayah.

Pengertian Akuakultur

Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu menjelaskan pengertian Akuakultur, Akuakultur adalah produksi ikan, krustasea, moluska, invertebrata, alga, mikroba, tumbuhan, dan organisme lain melalui penetasan dan pemeliharaan di ekosistem perairan," terangnya mengutip Parker, 1998.

Sedangkan menurut definisi, tegas Prof. Rokhmin Dahuri, akuakultur tidak hanya menghasilkan ikan bersirip, krustasea, moluska, dan rumput laut; tetapi juga invertebrata, dan flora dan fauna lainnya (FAO, 1998).

Oleh karena itu, akuakultur sebenarnya merupakan sektor pembangunan yang tidak hanya menghasilkan komoditas pangan sebagai sumber protein hewani (misalnya ikan bersirip, krustasea, dan moluska), tetapi juga: (1) komoditas pangan sebagai sumber karbohidrat (beras dan tanaman pangan lainnya);

(2) komoditas seperti invertebrata, mikroalga, dan organisme air lainnya sebagai sumber bahan baku (senyawa bioaktif) untuk makanan & minuman fungsional, industri farmasi, pengecatan, dan industri lainnya; (3) komoditas sebagai sumber bahan bakar nabati (misalnya alga mikro); (4) komoditas perhiasan; dan komoditas lainnya untuk berbagai kegunaan lainnya.

Komoditas (Output) Budidaya Perikanan

Prof. Rokhmin Dahuri memaparkan peran dan fungsi konvensional akuakultur menyediakan: (1) protein hewani termasuk ikan bersirip, krustasea, moluska, dan beberapa invertebrata; (2) rumput laut; (3) ikan hias dan biota air lainnya; dan (4) perhiasan seperti tiram mutiara dan organisme air lainnya.

Sedangkan peran dan fungsi akuakultur non-konvensional (masa depan): (1) pakan berbasis alga; (2) produk farmasi dan kosmetika dari senyawa bioaktif mikroalga, makroalga (rumput laut), dan organisme akuatik lainnya; (3) bahan baku yang berasal dari biota perairan untuk berbagai jenis industri seperti kertas, film, dan lukisan; (4) biofuel dari mikroalga, makroalga, dan biota air lainnya; (5) wisata berbasis perikanan budidaya; dan (6) penyerap karbon yang mengurangi pemanasan global.

Budidaya ganggang mikro, ganggang makro (rumput laut), tumbuhan air, dan organisme lain yang dapat menyerap CO2 dan Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya dapat menjadi penyerap (sequestrian) GRK yang signifikan untuk memitigasi (menghentikan) Iklim Global Perubahan (Pemanasan Global).

Sektor kelautan dan perikanan telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi ketahanan pangan dan pembangunan pedesaan Indonesia dimana sejak 2009 hingga saat ini Indonesia telah menjadi penghasil ikan dan hasil perikanan terbesar kedua dunia.

Bahkan, lanjut Prof. Rokhmin Dahuri, sejak tahun 2009, 13 spesies mikroalga dari perairan laut Indonesia telah diidentifikasi dan dipastikan mengandung Hydro-Carbon Compound untuk biofuel. Adapun, keempat spesies utama: Nannocholoropsis oculata (24%), Scenedesmus (22%), Chlorella (20%), dan Dunaliela salina (15%).

“Singkatnya, jika dikelola dengan baik, akuakultur berpotensi menjadi ‘obat mujarab’ bagi begitu banyak masalah dan tantangan pembangunan ekonomi dan peradaban manusia di abad ke-21,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut.

Peran dan fungsi akuakulturnon-konvensional (di masa depan): (1) pakan berbahan dasar alga; (2) produk farmasi dan kosmetika dari senyawa bioaktif mikroalga, makroalga (rumput laut), dan organisme perairan lainnya; (3) bahan baku yang berasal dari biota perairan untuk berbagai jenis industri seperti kertas, film, dan lukisan; (4) biofuel yang berasal dari mikroalga, makroalga, dan biota perairan lainnya; (5) pariwisata berbasis budidaya perikanan; dan (6) penyerap karbon yang mengurangi pemanasan global.

Mutiara laut selatan telah memenuhi 43% mutiara dunia

Senyawa bioaktif yang diekstraksi dari biota laut untuk Industri Farmasi dan Kosmetik  Sebagai Mega Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia mempunyai potensi terbesar di dunia.

Sedangkan definisi Bioteknologi Kelautan, jelasnya, bioteknologi kelautan adalah teknik penggunaan biota laut atau bagian dari biota laut (seperti sel atau enzim) untuk membuat atau memodifikasi produk, memperbaiki kualitas genetik atau fenotip tumbuhan dan hewan, dan mengembangkan (merekayasa) biota laut untuk keperluan tertentu, termasuk perbaikan lingkungan.(Lundin and Zilinskas, 1995)

Domain Industri Bioteknologi Kelautan

Ekstraksi senyawa bioaktif (bioactive compounds/natural products) dari biota laut untuk bahan baku bagi industri nutraseutikal (healthy food & beverages), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel, dan beragam industri lainnya.

Genetic engineering untuk menghasilkan induk dan benih ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan, dan biota lainnya yang unggul.
Rekayasa genetik organisme mikro (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar.Aplikasi Bioteknologi untuk Konservasi

“Industri Bioteknologi Kelautan adalah pasar yang sangat besar, sekitar empat kali lipat dari pasar semikonduktor (industri TI) saat ini” (Kementerian Kelautan dan Perikanan, Republik Korea. 2002. Visi Kebijakan Kelautan Korea: Revolusi Biru ke-21 Abad)Sampai sekarang, pemanfaatan Bioteknologi Kelautan Indonesia masih sangat rendah (< 10% total potensinya).

Tren Kenaikan Konsumsi Ikan Global

Pada tahun 2032, diperkirakan tingkat konsumsi ikan dunia mencapai 21,2 kg per kapita atau naik dari rata-rata 20,4 kg per kapita pada 1 dekade terakhir (2020-2022).

Konsumsi ikan masyarakat global diperkirakan akan terus meningkat → terutama di Asia, Eropa, dan Amerika

Pemanfaatan perikanan global dalam 10 tahun mendatang, sebagian besar akan dikonsumsi sebagai pangan (90%), sementara sisanya dimanfaatkan untuk kebutuhan non pangan (tepung ikan, minyak ikan, ikan hias, umpan, farmasi  dan kosmetik, dan pakan).

Pangan Akuatik menyediakan lebih dari sekedar protein.

Carbon Foot Print produk pangan akuatik relatif lebih rendah dibandingkan dengan komoditas lainnya.
Asupan Protein Ikan paling besar (55,6%) dibandingkan daging, telur, dan susu (Susenas, 2022), mengandung nutrisi gizi yang lengkap untuk Kesehatan.

Sistem Pangan Biru erat kaitannya dengan aspek sosial dan ekonomi regional dan nasional

Produksi perikanan sebesar 22,17 juta ton (2022) untuk memenuhi konsumsi ikan sebesar 57,27 kg/kapita/tahun

Ekspor produk perikanan senilai 5,63 juta USD.
Penyerapan tenaga kerja 45 juta orang (40% total angkatan kerja nasional). Kontribusi perikanan terhadap PDB nasional 2,66%

Tugas dan Fungsi KKP

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) memaparkan tugas dan fungsi pokok Kementerian Kelautan Dan Perikanan, yang memiliki peran strategis dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia. Antara lain:

Mengatasi Permasalahan Internal Sektor KP

Kemiskinan nelayan & pembudidaya ikan, kontribusi sektor KP bagi PDB sangat rendah (2,65%), pembangunan perikanan budidaya dan industri pengolahan perikanan serta industri bioteknologi perairan masih rendah, overfishing dan underfishing, IUU fishing, destructive fishing, pencemaran, kerusakan ekosistem perairan, dll

Membantu memecahkan permasalahan dan tantangan bangsa 

PHK, pengangguran, kemiskinan, gizi buruk, stunting, IPM dan daya saing rendah, pertumbuhan ekonomi rendah (rata-rata 5% per tahun) dalam 10 tahun terakhir, Global Warming, ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan disrupsi teknologi Industry 4.0

Mendayagunakan potensi pembangunan KP untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki tugas pokok dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang kelautan dan perikanan. Tugas ini meliputi pengelolaan sumber daya kelautan, budidaya perikanan, pengawasan dan penegakan hukum di perairan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu menjelaskan beberapa fungsi utama dari KKP, di antaranya:

1.  Perumusan Kebijakan: KKP bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan nasional terkait pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Kebijakan ini mencakup upaya konservasi, pengelolaan berkelanjutan, serta peningkatan produksi perikanan.

2. Pengelolaan Sumber Daya Kelautan: KKP mengelola sumber daya kelautan, termasuk ikan, terumbu karang, dan sumber daya hayati lainnya, dengan tujuan menjaga keseimbangan ekosistem laut dan meningkatkan produktivitas perikanan.

3. Pengawasan dan Penegakan Hukum: KKP memiliki fungsi pengawasan dan penegakan hukum di perairan Indonesia untuk melindungi sumber daya kelautan dari kegiatan ilegal, seperti penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) dan kerusakan lingkungan laut.

4. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir: KKP juga berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui berbagai program pemberdayaan, pelatihan, dan akses ke sarana dan prasarana yang diperlukan.

5. Penelitian dan Pengembangan: KKP mendukung penelitian dan pengembangan di bidang kelautan dan perikanan untuk menemukan teknologi baru dan inovatif yang dapat meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan.

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin berharap bahwa KKP akan terus meningkatkan efektivitas dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Beliau menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengelola sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.

Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pesisir dan Laut Pembangunan, Universitas Bremen, Jerman itu juga mengajak semua pihak untuk terus berinovasi dan mencari solusi terbaik dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kelautan dan perikanan.

"Dengan demikian, Indonesia dapat mencapai kedaulatan pangan laut dan menjadi negara maritim yang maju dan sejahtera," tegasnya.

Komentar