Meski Sudah Muncul Capres GP dan AB, Publik Masih Dingin, Ada Apa?
Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed, Pendiri The Activist Cyber
ASKARA - Respon Parpol dan publik terkait keputusan PDIP yang telah mencalonkan Ganjar Pranowo hingga hari ini masih saja dingin.
Keadaan ini berbeda ketika 2014 PDIP mencalonkan Jokowi sebagai Capres. Terlepas dalam perjalanannya Jokowi sebagai presiden banyak meninggalkan berbagai pro kontra atas kinerjanya. Saat pilpres 2014, Jokowi sebelum resmi diusung PDIP saja banyak menuai respon positif disamping negatifnya, namun secara kesimpulan penunjukan Jokowi saat itu banyak respon positifnya.
Keadaan ini berbeda dengan jelang pilpres 2024, usai PDIP usung Ganjar Pranowo pada 21 April 2023, jelang perayaan hari raya lebaran. Respon Parpol dan netizen sangat minim, hal ini bukan karena masyarakat tengah sibuk persiapkan hari raya lebaran, faktanya setelah lebaran pun keadaan masih saja dingin mensikapi dipilihnya GP sebagai capres dari PDIP.
Hal itu bisa disebabkan oleh sosok capres GP tidak menarik bagi kebanyakan publik, juga parpol lainnya, atau mungkin pendamping GP yang masih kosong. Jika hal ini penyebabnya, maka dapat disimpulkan bahwa nama capres/cawapres alternatif selain Ganjar dan Anies yang sangat ditunggu publik. Misalnya sosok Rizal Ramli, Mahfud MD, Sandiaga Uno, Prabowo yang dinantikan publik sebagai Capres atau Cawapres tidak muncul dalam usulan parpol sampai hari ini.
Sementara nama capres Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo yang sudah muncul dinilai publik belum memuaskan atau mungkin karena pendampingnya yang belum ada, disamping prestasi dan keseriusan GP dan AB terkait keberpihakannya kepada publik masih dianggap belum meyakinkan.
Selain itu, ironis bahwa hampir semua lembaga survey minim menampilkan nama calon presiden/cawapres alternatif seperti Rizal Ramli, Mahfud MD, Sandiaga Uno. Sementara publik dapat dinilai belum puas dengan nama2 yang muncul selama ini seperti Anies, Ganjar, dan Prabowo. Hal ini dapat dibuktikan denga munculnya Capres GP dari PDIP, Anies dari koalisi Nasdem, PKS, dan Demokrat, serta Prabowo dari Gerindra yang responnya masih dingin sampai hari ini.
Akibat dari itu wajar saja jika pemodal pun belum mau menurunkan dukungan anggarannya untuk kampanye para capres, dan itu dapat dibuktikan dengan belum adanya satupun mesin partai dan relawan yang bergerak secara solid dan maksimal. Mereka masih terkesan menunggu turunnya dukungan anggaran kampanye.
Suka tidak suka, bahwa faktor dana dalam pilpres sangat penting guna menggerakkan mesin partai dan relawan. Seperti contoh yang terjadi pada pilpres 2014 saat Jokowi diusung dari PDIP, berbagai dukungan anggaran nampak terlihat, sehingga karena hal ini mesin partai, relawan dll pun dapat bergerak secara maksimal. Berbeda dengan yang dialami PDIP juga oleh Nasdem, PKS dan Demokrat, bahwa terkesan masih menunggu datangnya dukungan anggaran.
Untuk dapat segera mesin politik dan relawan dapat bergerak maksimal guna menangkan kandidatnya, maka diperlukan upaya yang dapat meyakinkan semua kalangan dengan melakukan evaluasi dari capres yang telah mereka usung, apakah capres tersebut memiliki dukungan luas atau tidak.
Maka perlu adanya perubahan nama capres/cawapres yang dianggap dapat direspon positif oleh semua pihak secara luas, misalnya dengan memasukan nama2 yang nyatanya memiliki dukungan publik/netizen, seperti Rizal Ramli, Mahfud MD, Sandiaga Uno.
Suara Netizen.
Dari hasil pantauan dan analisa The Activist Cyber, bahwa suara netizen diberbagai saluran sosial media, bahwa nama Rizal Ramli yang paling menonjol dan sering dibicarakan netizen atas prestasi serta keberpihakannya kepada wong cilik atau rakyat. Selanjutnya adalah nama Mahfud MD. Nama Menkopolhukam menjadi buah bibit netizen setelah Mahfud ungkap dugaan money laundry 349 Trilyun, walau akhirnya sebagian besar netizen kecewa sebab Satgas untuk mengatasi kemelut 349 T melibatkan Menkeu yg merupakan pihak yang akan diperiksa atas kasus ini.
Selanjutnya nama Sandiaga kemudian muncul belakangan setelah adanya info dari atas (elit) bahwa Sandiaga akan menjadi pendamping Ganjar Pranowo.
Dari nama2 tersebut yang masih terus menjadi buah bibir netizen adalah nama Rizal Ramli yg masih terus dianggap pemimpin berprestasi dan konsisten berpihak kepada rakyat.
Kesimpulan The Activist Cyber, bahwa Pilpres 2024 ditentukan oleh faktor Capres da cawapresnya. Nama2 tersebut adalah yang selama ini tidak disebut dalam berbagai survey versi pemerintah seperti, Rizal Ramli, Mahfud MD, Sandiaga.
Namun menurut pandangan The Activist Cyber nama Rizal Ramli bisa menjadi variabel penentu yang punya peluang besar menangkan pilpres 2024. Hal itu didasari oleh banyaknya netizen (data the activist cyber) yang meyakini bahwa sosok RR telah banyak berprestasi sejak awal reformasi hingga periode satu Jokowi, serta keberpihakan dan kritis Rizal Ramli yang dinilai publik konsisten, baik ketika berada didalam pemerintahan maupun diluar pemerintah.

Komentar