Rabu, 17 Juni 2026 | 17:07
OPINI

Merevolusi Indonesia Dengan Puasa Yang Berkualitas

Merevolusi Indonesia Dengan Puasa Yang Berkualitas
Ilustrasi buka puasa. (Foto: Freepik)

Oleh: Rahmat Mulyana

ASKARA - Bangsa Indonesia masih dihadapkan pada berbagai persoalan utama yang belum teratasi, seperti pertumbuhan ekonomi yang kualitasnya harus ditingkatkan, ketimpangan yang tinggi, kualitas sumber daya manusia yang masih rendah, dan tingkat korupsi yang masih tinggi.

Menkopolhukam Machfud MD baru-baru ini mengungkapkan bahwa kebocoran pendapatan negara mencapai Rp 4.000 triliun setiap tahun, yang lebih besar dari pendapatan negara tahun 2022 sebesar Rp 2.400 triliun. Namun, masih ada harapan bagi bangsa Indonesia. Puasa yang dilakukan dengan benar dan berkualitas dapat menjadi solusi untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi saat ini.

Puasa tidak hanya menjadi sarana untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjadi media untuk meningkatkan kualitas diri, baik dari segi spiritual, moral, maupun fisik. Melalui puasa yang berkualitas, kita dapat memperbaiki kualitas diri, seperti meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghargai waktu, menjaga kesehatan, dan berperilaku yang baik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berdampak pada kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Puasa juga dapat menjadi sarana untuk membentuk karakter yang kuat, disiplin, dan bertanggung jawab. Dalam konteks bangsa Indonesia, puasa yang berkualitas dapat membentuk generasi yang lebih baik, yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan semangat kerja keras untuk membangun bangsa ini. Oleh karena itu, penting untuk menjalankan puasa yang berkualitas dan merevolusi Indonesia untuk menjadi bangsa yang lebih baik dan maju.

Karakter utama berpuasa adalah latihan menahan diri. Dengan larangan untuk sesuatu yang di bulan lain dihalalkan, maka hal yang paling fundamental disini adalah menunda dan mengendalikan keinginan dan hawa nafsu. Dampak utama dari berpuasa adalah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an yakni membentuk pribadi yang bertakwa. Kita akan melihat apa tinjauan ilmiah dari karakter yang terbetuk dari kemampuan menahan diri melalui sebuah riset yang disebut sebagai The Marshmallow Experiment dan apa dampak meningkatnya ketakwaan rakyat bagi segenap bangsa.

Pada tahun 1960-an, seorang profesor dari Stanford University bernama Walter Mischel melakukan sebuah studi psikologi yang terkenal dengan sebutan The Marshmallow Experiment. Studi ini menguji kemampuan anak-anak untuk menunda kepuasan dengan memberi mereka pilihan antara memakan marshmallow segera atau menunggu selama 15 menit untuk mendapatkan marshmallow kedua.

Rahmat Mulyana

Studi ini menemukan bahwa anak-anak yang mampu menunda kepuasan memiliki hasil yang lebih baik dalam berbagai aspek kehidupan mereka, seperti prestasi akademik, keterampilan sosial, dan kesuksesan secara keseluruhan. Studi ini memiliki implikasi penting dalam memahami pentingnya menunda kepuasan dalam mencapai kesuksesan di berbagai bidang dan bagaimana hal itu dapat dikembangkan melalui pengalaman lingkungan.

Riset ini dilakukan selama 40 tahun, yang artinya anak-anak yang menjadi subjek penelitian dievaluasi 40 tahun kemudian. Para peneliti dapat mengetahui efek jangka panjang dari kemampuan self-control yang terbentuk melalui kemampuan menahan diri dalam situasi berpuasa. Anak-anak yang mampu menahan diri untuk menunggu mendapat dua marshmallow pada saat eksperimen, ternyata memiliki kemampuan self-control yang lebih baik dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan di masa depan.

Dalam kurun waktu 40 tahun, para peneliti mengukur kemajuan anak-anak pada berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, kesehatan, karir, dan keuangan, dan menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan self-control yang lebih baik cenderung mencapai keberhasilan di berbagai aspek kehidupan tersebut. The Marshmallow Experiment memberikan bukti ilmiah yang kuat mengenai pentingnya kemampuan self-control dan menahan diri dalam mencapai keberhasilan di masa depan.

Kemampuan menunda kepuasan atau delayed gratification dapat membantu individu menjadi lebih disiplin dalam mengambil keputusan, membawa dampak positif bagi daya juang dan motivasi individu. Individu yang mampu menahan diri dari tindakan instan atau jalan pintas yang merugikan akan cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi dalam mencapai tujuannya. Selain itu, kemampuan menunda kepuasan juga membantu individu memprioritaskan tindakan yang lebih penting dan bermanfaat dalam jangka panjang.

Di Indonesia, banyak yang kesulitan memperoleh pendapatan yang layak, karena kurang disiplin dalam mengelola keuangan dan tidak memiliki kemampuan delayed gratification yang baik. Individu cenderung memenuhi keinginan instan, seperti membeli barang-barang yang tidak diperlukan atau meminjam uang dengan bunga yang tinggi.

Dengan kemampuan delayed gratification yang baik, individu dapat menghindari tindakan merugikan dalam jangka panjang seperti meminjam uang dengan bunga tinggi, membawa dampak positif bagi pendapatan individu karena tidak terjebak dalam cicilan yang terus-menerus. Selain itu, dengan kemampuan delayed gratification yang baik, individu dapat memprioritaskan pengeluaran dan melakukan investasi yang bermanfaat dalam jangka panjang, sehingga potensi pendapatan yang lebih besar dapat tercapai.

Disiplin keuangan sangat penting bagi setiap orang, terutama masyarakat Indonesia yang kurang dalam mengatur keuangan. Literasi keuangan hanyalah langkah awal dalam mengembangkan disiplin keuangan yang baik. Disiplin keuangan melibatkan kemampuan mengendalikan pengeluaran, membuat keputusan keuangan yang bijaksana, dan mempersiapkan diri untuk masa depan. Di Indonesia, disiplin keuangan penting untuk mengatasi masalah keuangan dan meningkatkan kesejahteraan.

Berikutnya, keberkahan akan membanjiri bangsa Indonesia yang bertakwa sesuai dengan firman Allah "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi." (Q.S. Al-A’raf: 96). Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjanjikan keberkahan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Oleh karena itu, apabila bangsa Indonesia semakin bertakwa dan beriman, maka dapat dipastikan bahwa keberkahan juga akan melimpah pada bangsa tersebut.

Dampak positif yang dihasilkan antara lain kemajuan di berbagai sektor, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Selain itu, dengan meningkatnya ketakwaan di kalangan masyarakat, diharapkan juga dapat meminimalisir tingkat korupsi yang selama ini merugikan negara dan masyarakat Indonesia. Semoga dengan semakin meningkatnya ketakwaan di kalangan masyarakat Indonesia, bangsa ini dapat meraih kemajuan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa depan.

Disiplin dan kemampuan menahan diri dari korupsi, serta meningkatnya ketakwaan, dapat membawa dampak positif bagi kemajuan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dengan disiplin dan kemampuan menahan diri, masyarakat dapat menjadi lebih produktif dan inovatif, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, dengan pengurangan korupsi dan alokasi fiskal yang lebih besar untuk rakyat, sektor publik dapat memberikan layanan publik yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Dan segala macam keberkahan akan turun bagi bangsa Indonesia yang bertakwa, seperti yang dijanjikan dalam firman Allah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meningkatkan disiplin, kemampuan menahan diri, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai bagian dari upaya kita untuk merevolusi Indonesia ke depan. Wallahua’lam

Komentar