Rabu, 30 November 2022 | 23:58
OPINI

Dilema Antara Gas Melon dan Kompor Listrik

Dilema Antara Gas Melon dan Kompor Listrik

Oleh: Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila

Sehabis sholat Isya saya jalan menyusuri jalan Mangku Bumi Jogyakarta yang sejuk udarah malam ini ,sambil melihat keramaian jalan akhirnya perut terasa lapar dan berhentilah untuk  ngopi dulu dan pesan nasi Goreng pak Man .

Sambil nyruput kopi kita ngobrol ngalor ngidul akhir nya topik nya tentang akan di ganti nya gas melon dengan kompor listrik.

Pak Man sudah 5 tahun jualan nasi goreng dia bercerita dulu bekerja di pabrik perakitan elektronik di Jakarta kemudian tahun 2017  kena PHK tidak banyak pilihan selain  kemudian pulang kampung ke Jogya untuk menyambung hidup keluarga nya  berganti profesi jualan nasi goreng.

Isu pergantian elpiji melon ini meresakan pedagang makanan saya rasa bukan pak Man saja yang resa  tetapi banyak penjual makanan akan gulung tikar ,bukan hanya penjual nasi goreng ,tetapi tukang jual gorengan ,Mei goreng ,tahu campur ,tahu Tek ,soto,dll.

Pokok nya semua penjual ma kanan yang digoreng di godok pasti terdampak dan yang ngak kebayang berapa lagi jutaan orang disektor informal ini akan gulung tingkar ,dan akibat nya tentu tidak main main berapa juta  keluarga  yang Ter PHK dari sektor informal ini berapa banyak keluarga berapa banyak  ibu ibu rumah tangga ,berapa banyak  anak anak yang akan semakin miskin dan   berapa banyak anak yang kekurangan gizi.

Kebijakan mengganti gas Melon itu harus dikaji benar dan apa yang akan terdampak pada masalah sosial masyarakat .

Kebijakan yang tiba saat dan tiba -tiba  karena produk listrik berlebih maka KW meter 450 dihapus di ganti dengan KW 900. Kebijakan sembrono seperti ini membahayakan dan akan terjadi perlawanan rakyat semesta .

Badan Anggaran (Banggar) DPR RI mengusulkan, agar menaikkan daya listrik subsidi dari 450 volt ampere (VA) menjadi 900 VA.

Usul tersebut disampaikan oleh Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah dalam rapat panitia kerja (panja) asumsi dasar RUU APBN 2023 di Gedung DPR RI, Senin (12/9/2022).

Mengganti gas elpiji menjadi listrik tentu bukan hal yang sederhana seperti pikiran Panggar DPR itu butuh sosialisasi budaya memasak dengan Gas Elpiji mengganti dengan listrik .

Harus nya DPR sebelum melakukan usulan menaikan kw meter melakukan kajian yang mendalam dampak yang akan terjadi pada rakyat kecil ,apa DPR itu menjadi tangan oligarkhy?

Sebab menghapus KW 450 itu untuk kepentingan siapa ? Kemudian dilanjutkan Menganti kompor gas dengan kompor listrik proyek siapa ?

Kebijakan yang mesengsarakan rakyat terus saja dilakukan

Dampak kenaikan BBM dan kenaikan kebutuhan hidup  belum usai dan membuat rakyat kecil semakin sulit memenuhi kebutuhan hidup, sekarang di gencet lagi dengan kenaikan  listrik akibat listrik menjadi KW 900.

Apakah rakyat kecil ini harus dihisaf darah nya ? Sungguh kejahatan yang nyata dan itu harus dilawan. Oleh sebab itu harus ada revolusi kembali ke UUD1945 dan Pancasila.

Gerakan Kedaulatan rakyat harus segerah bergerak ,membesar  menjadi bola salju tidak bisa dibiarkan kerusakan yang sudah sangat akut dan berdampak pada kehidupan rakyat .

Komentar