Senin, 08 Juni 2026 | 10:53
NEWS

Prof Rokhmin Dahuri: Potret Kehidupan di Zaman Keemasan Umat Islam Mirip Peradaban Bangsa Berbasis Pancasila

 Prof Rokhmin Dahuri: Potret Kehidupan di  Zaman Keemasan Umat Islam Mirip Peradaban Bangsa Berbasis Pancasila
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS

ASKARA - Guru Besar Manajemen Pembangunan Pesisir dan Lautan – IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS mengatakan, potret kehidupan masyarakat dunia yang maju, adil-makmur di zaman keemasan umat Islam (Abad-7 sampai Abad-18) Mirip Peradaban Bangsa Berbasis Pancasila.

Yakni berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Ketika umat Islam melaksanakan Islam secara kaffah dan ittiba’ (Fatukh Makkah s/d sebelum Revolusi Industri) Umat Islam menguasai IPTEK, maju, hidup sejahtera, dan menguasai 2/3 wilayah dunia,” ujar Prof. Rokhmin Dahuri saat memberikan tausiyah pada Ngaji Bareng Online Jamaah Pengajian Ustadz Hasanuddin Thayieb, Rabu, 16 Februari 2022.

Saat itu, terangnya, Umat Islam menjadi pusat keunggulan (center of excellence) IPTEK dunia, dan para ilmuwan dan teknolog dari seluruh penjuru dunia belajar kepada ilmuwan dan teknolog muslim secara gratis (tidak perlu hak paten).

Perguruan Tinggi pertama dan terbaik di dunia adalah Bayt Al-Hikmah di Baghdad pada 832 M di masa Khalifah Al-Mansur (754 – 775 M) dan Al-Ma’mun (813 – 833 M), Kekhilafahan Abasyiah.  Oxford University dan Sorbone University meniru Bayt Al-Hikmah.

“Perekonomian; pendidikan; interaksi sosial, politik, dan budaya berjalan atas dasar persaudaraan karena Allah, Tuhan Pencipta Alam Semesta.  Bahkan Agama, keyakinan, jiwa, harta, dan hak-hak sipil warga non-muslim dilindungi oleh Negara Islam,” ungkapnya.

Lewat paparannya berjudul “Islam Menjamin Kehidupan Insan Yang Sukses,  Bahagia Di Dunia Dan Akhirat”, Prof. Rokhmin menuturkan, kehidupan sosial berlangsung secara harmonis, anak-anak yatim terpelihara, yang kaya membantu dan memberdayakan (empowering) yang miskin, yang miskin tidak iri terhadap yang kaya dan bekerjasama dengan yang kaya dengan mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Ekonomi dan perdagangan diatur dalam koridor efisiensi dan keadilan, tidak ada kecurangan serta penipuan karena masyarakatnya memahami dan mentaati hukum Allah dan Rasul Nya secara istiqamah.

Masyarakatnya mencintai dan gemar menuntut IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), dan pemerintahnya mendorong serta memfasilitasi aktivitas penelitian, pengembangan, penguasaan, dan penerapan IPTEK dalam segenap aspek kehidupan.

“Para pemimpinnya (Kepala Negara, Menteri, Gubernur, Bupati, dan lainnya) hidup sederhana dan sangat mencintai rakyatnya,” kata Prof Rokhmin yang juga anggota Dewan Pembina Baitul Muslimin Indonesia ( BAMUSI ) ini.

Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong itu mencontohkan akhlaq dan perilaku pemimpin Muslim: “Kalian memilihku sebagai khalifah, tetapi aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Oleh karena itu, turutilah aku sepanjang sesuai aturan Allah SWT dan Rasulullah SAW (Al-Qurán dan Hadits), kalau tidak tinggalkan aku.” (Khalifah Abu Bakar Ashidiq)

“Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya.  Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya” (Khalifah Umar bin Khattab).

“Hasilnya, pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Azis, Harun Al-Rasyid, Muhammad Al-Fatih, dan lainnya, tidak ada satu pun penduduk Khilafah (Negara) Islam yang miskin.  Bahkan, zakat, infaq, shodaqoh, dan IPTEK pun diekspor ke seluruh penjuru dunia,” ujarnya.

Hampir seluruh IPTEK modern dari zaman Revolusi Industri sampai sekarang berasal dari karya-karya monumental Ilmuwan Muslim di era Kejayaan Umat Islam (Wallace-Murphy, 2007; Qureshi, 2007).

Maka, Prof Rokhmin mengingatkan  yang harus kita umat Islam lakukan antara lain: 1. Melaksanakan Islam secara kaffah (keseluruhan) dan ‘itibba (menurut cara-cara Rasulullah Muhammad saw, para Sahabat Nabi saw, dan Ulama yang benar); 2. Senantiasa meningkatkan IMTAQ kepada Allah SWT; 3. Menjadi muslim dan muslimah dengan IMTAQ yang kokoh dan akhlak mulia; 4. Menuntut, Menguasai, dan Mengamalkan IPTEK; 5. Perkuat dan kembangkan Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathoniah, dan Ukhuwah Basariyah; dan 6. Waspada dengan istijraj.

“Istijraj adalah suatu keadaan seorang yang tidak beriman kepada Allah dan kelakuannya maksiat bahkan melawan Allah, tetapi kehidupan dunianya nampak sukses: jabatan tinggi, harta melimpah, keturunan banyak, popularitas menjulang tinggi, dan kesenangan duniawi lainnya,” jelas Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat 2022 – 2026 itu.

Terlebih, sambungnya, godaan setan lewat hal-hal yang dilarang Allah seolah indah dan benar, sebaliknya yang perintah Allah seakan buruk, beban, dan memberatkan.

“Dunia itu fana dan sandiwara belaka.  Sedangkan, akhirat itu kekal, kehidupan sejati, surga bagi muslim yang beriman dan takwa, dan neraka bagi orang kafir, munafik serta pendosa yang belum sempat bertobat,” pungkas penerima penghargaan Dosen Teladan I Tingkat Nasional (1995) dan Indonesian Development Award (1999) itu.

Komentar