Kamis, 04 Juni 2026 | 10:01
NEWS

Dinilai Telah Lukai Kebhinnekaan, Ridwan Kamil Desak Arteria Dahlan Minta Maaf ke Masyarakat Sunda

Dinilai Telah Lukai Kebhinnekaan, Ridwan Kamil Desak Arteria Dahlan Minta Maaf ke Masyarakat Sunda
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil (Dok Humas Jabar)

ASKARA - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengimbau agar Anggota Komisi III DPR RI Arteria Dahlan segera meminta maaf kepada masyarakat Sunda di seluruh Indonesia terkait protesnya kepada Jaksa Agung ST Burhanuddin dalam rapat di Komisi III DPR, Senin lalu (17/1). 

"Jadi saya mengimbau Pak Arteria Dahlan sebaiknya meminta maaf ya kepada masyarakat Sunda di Nusantara ini, tapi kalau tidak dilakukan pasti akan bereskalasi karena sebenarnya orang Sunda itu pemaaf ya, jadi saya berharap itu dilakukan," ujar Kang Emil, sapaan akrabnya menukil Humas Pemprov Jabar, Rabu (19/1). 

Menurut Kang Emil, pernyataan yang dilontarkan Arteria Dahlan telah melukai kebhinnekaan. Suami Atalia Praratya itu mengingatkan Arteria Dahlan dengan cara baik-baik karena sejatinya orang Sunda itu memiliki sifat silih asih, silih asah, dan silih asuh. 

"Menurut saya kekayaan, keberagaman makanya Pancasila Bhinneka Tunggal Ika itu mewakili semangat itu. Jadi kalau ada yang rasis seperti itu menurut saya harus diingatkan tentunya dengan baik-baik dulu," imbuhnya. 

Ridwan Kamil juga menyesali protes Arteria Dahlan lantaran telah melukai sebagian besar warga Sunda di seluruh Indonesia. Terkait bahasa daerah, dia menyebut merupakan kekayaan Nusantara yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu dan patut untuk dilestarikan. 

"Jadi, saya menyesalkan statement dari Pak Arteria Dahlan terkait masalah bahasa ya, yang ada ratusan tahun, ribuan tahun menjadi kekayaan Nusantara ini," katanya.

Dalam beberapa agenda kunjungan kerja ke berbagai provinsi di Indonesia, Ridwan Kamil sering melafalkan bahasa daerah disela sambutannya. Hal itu dilakukan guna melestarikan bahasa daerah agar tetap ada hingga anak cucu kita di masa depan.  

"Saya sudah cek ke mana-mana, media bisa buktikan saya kira tidak ada di rapat yang sifatnya formal dari A sampai Z bahasa Sunda. Yang ada itu ucapan selamat pembuka pidato atau penutup pidato atau di tengah-tengah ada celetukan-celetukan yang saya kira wajar-wajar saja kan begitu," tuturnya.

"Makanya harus ditanya mana buktinya yang membuat tidak nyaman. Bayangan saya kelihatan tidak seperti yang disampaikan persepsinya seperti itu. Seperti di sini kan saya akhiri 'Matur Suksma' saya ke Aceh saya bilang 'Teurimong Geunaseh' kan begitu, saya ke Jogja kemarin bilang 'Matur Nuwun' Pak Sultan dan sebagainya, itu kan malah keren," sambungnya. 

Ridwan Kamil berharap, kejadian seperti ini tidak menimbulkan perbedaan sebagai perdebatan. Melainkan melihatnya dari sisi keberagaman dan sebagai kekayaan bahasa daerah di Indonesia. 

"Kita ini terbagi dua dalam melihat perbedaan, ada yang melihat perbedaan itu sebagai kekayaan, sebagai rahmat. Saya berharap mayoritas kita melihat perbedaan seperti itu. Ada yang melihat perbedaan sebagai sumber kebencian. Itu yang harus kita lawan," tandasnya.

Sementara, Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi (AMS), Noery Ispandji Firman  menyebut, masyarakat Sunda itu memiliki sifat pemaaf. Untuk itu, dia juga meminta agar Arteria Dahlan menarik ucapannya lalu meminta maaf kepada seluruh orang Sunda di Nusantara. 

"Kami ini bangsa Sunda itu bangsa pemaaf dan kami hanya meminta Arteria Dahlan menarik ucapannya kemudian maaf kepada warga Sunda, itu saja. Kalau tidak dilakukan saya kira kami akan melangkah ke beliau langsung, mudah-mudahan sadar bahwa ucapan itu tampaknya tidak tepat sebagai seorang politisi maupun wakil rakyat," imbuhnya.

Noery meyakini, di setiap kegiatan rapat yang bersifat formal, para pejabat tidak sepenuhnya menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi. 

"Saya juga meyakini tidak ada yang namanya satu instansi rapat pakai berbahasa daerah. Kami menjunjung tinggi kebhinekaan, kebersamaan persatuan yang di mana kita saling menghargai, toleran," kata Noery.

Komentar