Jumat, 30 Juli 2021 | 16:54
OPINI

True story: Covid Itu Merenggut Nyawa Suamiku

True story: Covid Itu Merenggut Nyawa Suamiku
Pemakaman Jenazah Korban Virus Corona(int)

Oleh: Elva Tazar *)

Suara itu sangat tenang bahkan tak ada kesan kesedihan yang dalam sementara gemuruh di dadaku masih tersisa, ntah mengapa aku merasa dibalik kata katanya yang tenang ada kesedihan yang dalam. Awalnya aku mengira akan mendengarkan suara isak tangis ternyata dugaanku keliru.

"Sudah dari bulan Februari suamiku tugas di Sidoarjo El, semenjak itu kami tak bertemu karena Covid ini,  Jakarta kan PSBB, kami hanya komunikasi vidio call saja," kata Indah.

Aku diam menyimak curhat sahabatku, kemudian Indah  melanjutkan, " 2 minggu yang lalu suamiku sakit ternyata positif Covid dan dirawat di Rumah Sakit Umum Sidoarjo, aku tidak ke Sidoarjo dilarang suamiku karena tidak akan bisa bertemu dan tanggal 15 Juli, lalu suamiku meninggal, Covid itu  merenggut  nyawa suamiku, langsung dikuburkan aku hanya mendengar kabar itu via telpon dari sakit hingga dikuburkan. Suamiku kos di Sidoarjo kami tak punya saudara disana."

Cerita Indah tenang sementara aku yang mendengarkan merasa dadaku sesak tak bisa kubayangkan beban yang ditanggung sahabat masa kuliahku ini. Aku kenal suami Indah  karena saat semester 4 dia menikah, Indah mengenalkan suaminya padaku, bahkan aku pernah ditraktir Indah nonton film di Bandung Indah Plaza, bersama  suaminya.

Masih aku ingat betapa dengan semangatnya Indah cerita pengalaman bulan madunya di Bali, dia berkisah hotel tempat mereka nginap ada hantunya. Jadi batal deh malam pertama karena diganggu hantu. Kami pun tertawa geli sekaligus  takut  baru dengar kisah horor malam pengantin baru. 

Ya, semua itu masih jelas dalam ingatanku. Indah tidak menyelesaikan kuliahnya, dia hijrah ke Jakarta , aku masih di Bandung menyelesaikan kuliahku. Walau lama tak bertemu,  kami hanya komunikasi lewat grub alumni.  Saat anak sulungnya menikah, aku pun tak bisa hadir, namun persahabatanku dengan Indah tak pernah putus. Sampai aku dengar suami Indah meninggal, dan wafatnya di kotaku Sidoarjo.

Bagaimana kalau aku berada diposisi Indah?, 5 bulan berpisah dengan suami hingga kematian suaminya pun dia tak bisa  melihatnya. Tak banyak yang dapat aku katakan karena temanku ini memang luar biasa kuat. Lalu Indah bertanya padaku, "El,  tahu dimana tempat pemakaman covid di Sidoarjo ? Kalau sudah berakhir wabah ini aku mau pindahkan makam suamiku ke Jakarta,"

Subhanallah perih hati ini mendengar keinginan sahabatku ini. "Indah agama kita melarang memindahkan kuburan, sejatinya suami indah sudah ada di alam yang berbeda dengan kita. Suami Indah bukan di Sidoarjo  hanya jasadnya saja yang dikubur menyatu dengan tanah Sidoarjo tapi ruhnya ada dialam barzah, Indah bisa berdoa dimana saja kapan saja karena alam barzah itu beda dengan dunia ini yang dibatasi ruang dan waktu. Tak harus ziarah dan berdoa di kuburannya."

Aku berusaha menjelaskan. "Oh gitu yaa El.  Kalau sudah habis masa iddah, aku ke Sidoarjo mau ya antarkan aku ke kuburan covid?," tanya Indah. "Tentu Indah, anytime aku siap menjemputmu di bandara dan mengantarkanmu yaa," jawabku.

Lama kami berbincang di telepon, sungguh aku kagum dengan kesabaran  ibu 2 anak ini. Sebelum telepon  diakhiri aku berpesan pada Indah untuk Ikhlas agar beban kesedihannya berkurang  karena kalau tidak ikhlas justru akan semakin memperberat hidupnya.

Semua sudah menjadi ketentuan Allah sebagai orang beriman kematian itu sudah ada waktunya tak akan mundur atau maju sedetik pun, Covid hanya penyebab dari datangnya ajal suami nya. Berkali kali Indah mengucapkan terimakasih atas  nasehatku. Walaupun aku menyadari menasihati mudah yang sulit itu adalah mempraktekkan seperti yang saat ini dialami Indah. Namun sudah kewajiban  hamba Allah untuk saling menasehati.

Setelah selesai perbincangan dengan Indah. Aku merenung sendiri, jujur aku sangat kuatir dengan wabah yang  makin mengganas ini, Covid-19 tak bisa kita anggap remeh kita harus benar benar mengikuti protokol covid pakailah masker jika keluar rumah dan jaga jarak  serta selalu cuci tangan, ini adalah ikhtiar yang wajib kita patuhi, bahkan sekarang sudah  ada vaksin,  namun tak ada yang bisa menjamin taat prokes dan divaksin akan bebas dari  virus ini. 

Jika sudah ikhtiar ternyata masih kena juga itu sudah takdir yang harus kita terima dengan sabar dan Iikhlas.  Covid bukan singa yang kelihatan dan bisa kita lari menyelamatkan diri,  tapi virus ini tak terlihat namun ada dimana mana. Hasbullah wa niakmal wakil  hanya Allah sebaik baiknya pelindung kita

Semoga Allah lindungi kita dari segala kejahatan makhlukNya temasuk Covid-19 dan bagi yang positif terpapar Covid  semoga Allah berikan kesembuhan  serta yang wafat Allah berikan tempat yang indah di alam barzah. Wafat karena wabah, salah satu wafat dalam keadaan syahid. Masha Allah.

*) Penulis Novel Amak, IG @elvatazar, Youtube ElvaTazar

Komentar