Senin, 15 Juni 2026 | 21:53
NEWS

Kementan Klaim Keampuhan Kalung Antivirus, Sherina Munaf: Covid-19 Bukan Nyamuk

Kementan Klaim Keampuhan Kalung Antivirus, Sherina Munaf: Covid-19 Bukan Nyamuk
Kalung Antivirus Covid-19 berbasis Eucalyptus (Dok Kementan)

ASKARA - Kementerian Pertanian mengumumkan pembuatan kalung sebagai antivirus berbasis eucalyptus.

Kalung yang disebut sebagai antivirus Covid-19 ini bahkan sempat mewarnai jagad Twitter. Tidak sedikit netizen mengolok temuan yang rencananya akan dipasarkan pada bulan Agustus 2020 ini. 

"Coba Pak Mentan pakai kalung anti virus tsb tanpa masker dan cuci tangan, cuek ajalah. Lalu pecicilan nglaku2 di Zona Merah Covid-19, bila perlu ajak presiden selfi2. Nanti kalau kalian selamat baru deh saya mau beli itu kalung," cuit netizen @DonAdam86 yang dikutip Askara, Minggu (5/7).

Penyanyi Sherina Munaf pun mempertanyakan kehadiran temuan Kementan itu.

"Kalung Antivirus Eucalyptus Anti Corona mau diproduksi massal? Setahu saya Covid-19 itu virus. Bukan nyamuk," tulis anak dari Komisaris Garuda, Triawan Munaf ini.

"Ini Mentan Syahrul Yasin Limpo @kementan memproduksi masal kalung anti-Covid 19? Benarkah IDI & LIPI jk minyak kayu putih bisa sembuhkan Covid-19? Atau soal bisnis sj? Rasuah anggaran? Ya Tuhan, menteri Pak @jokowi periode 2 spt gini ya? Kapan diganti?" tulis @ayangutriza

Kepala Badan Litbang Pertanian, Fadjry Djufry menyebutkan, Eucalyptus mampu bekerja melegakan saluran pernapasan, kemudian menghilangkan lendir, pengusir serangga, disinfektan luka, penghilang nyeri, mengurangi mual, dan mencegah penyakit mulut. 

Menurutnya, minyak atsiri eucalyptus citridora mampu menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gammacorona virus, dan betacoronavirus. 

Penemuan tersebut juga disebutkan telah disimpulkan melalui uji molecular docking, dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. 

Laboratorium tempat penelitian eucalyptus ini juga telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosavety level 3 (BSL 3) milik Balai Besar Penelitian Veteriner. 

Selain itu, Virologi Kementan juga telah melakukan penelitan sejak 10 tahun lalu dan tidak jarang menguji golongan virus corona seperti influenza, beta corona dan gamma corona.

"Setelah kita uji ternyata Eucalyptus yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus mulai dari avian influenza hingga virus corona. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus," ungkapnya.

Berbagai studi menyebut obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus (struktur anatomi di paru-paru). Fadjry mengklaim hanya dengan konsentrasi 1 persen sudah cukup membunuh virus 80-100 persen.

Sementara itu, bahan aktif utamanya terdapat pada cineol-1,8 yang bermanfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro atau main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus corona. 

Fadjry mengatakan, penelitian menunjukkan Eucalyptol ini mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan.

Terkait dengan banyaknya keraguan terhadap kalung antivirus tersebut, Fadjry mengatakan, saat ini banyak negara berlomba-lomba menemukan antivirus corona, dan antivirus ini dipastikan bukanlah vaksin ataupun obat oral.

"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan, paling tidak ini bagian dari upaya kita, minyak eucalyptus ini juga sudah turun menurun digunakan orang dan sampai sekarang tidak ada masalah, sudah puluhan tahun lalu orang mengenal eucalyptus atau minyak kayu putih, meskipun berbeda sebenarnya, tetapi masih satu famili hanya beda genus di taksonomi," pungkasnya.

Komentar