Ventilator Buatan UI Lulus Uji Klinis, Siap Diproduksi Massal
ASKARA - Ventilator transport lokal yang dikembangkan Tim Ventilator Universitas Indonesia bernama Covent-20 dinyatakan lulus uji klinis manusia untuk mode ventilasi CMV (Continuous Mandatory Ventilation) dan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) oleh Kementerian Kesehatan.
Saat ini Tim Ventilator UI tengah menyelesaikan tahapan akhir produksi dengan beberapa mitra strategis industri sesuai standar produksi alat kesehatan. Agar Covent-20 dapat segera didistribusikan ke rumah sakit rujukan dan rumah sakit darurat.
Rencananya, pada tahap awal, UI akan memproduksi 200 unit Covent-20. Di mana dana pembuatannya merupakan hasil penggalangan donasi beberapa perusahaan dan komunitas di bawah koordinasi Ikatan Alumni Fakultas Teknik UI (Iluni FTUI).
"Covent-20 merupakan wujud nyata komitmen UI dalam mendukung penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Ini merupakan bagian dari bakti kami sebagai peneliti untuk mempersembahkan riset yang tidak hanya membantu perkembangan sains dan teknologi tetapi juga riset dan inovasi yang mendorong kemandirian bangsa dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia," jelas Rektor UI Ari Kuncoro, Selasa (16/6).
Dekan FTUI Hendri D.S. Budiono mengatakan, uji klinis pada manusia yang dilakukan Covent-20 terbagi dua tahap. Pertama, uji untuk mode ventilasi CPAP pada pasien dewasa yang dirawat di IGD RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RSUI dalam periode bulan Mei 2020.
Kedua, uji untuk mode ventilasi CMV dilakukan di Pusat Simulasi Respirasi RSP Persahabatan pada 3 Juni sesuai dengan protokol uji dari Kemenkes.
"Hasil uji klinis ini membuktikan bahwa kedua fungsi Covent-20 berjalan dengan sangat baik dan direkomendasikan untuk digunakan pada penanganan pasien," ujarnya.
Sementara itu, Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat FTUI dan anggota Tim Ventilator UI Muhamad Sahlan mengatakan, di bawah koordinasi Iluni FTUI, pihaknya telah menerima permohonan dari 180 rumah sakit baik rujukan Covid-19 maupun darurat di seluruh Indonesia untuk menerima Covent-20.
"Pada tahap awal kami akan menyiapkan 200 unit ventilator Covent-20 untuk distribusikan. Penyaluran akan ditentukan berdasarkan tingkat urgensi dan utilitas, serta rekomendasi donatur," jelasnya.
Adapun, Dekan Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam menambahkan bahwa salah satu faktor penyebab kematian pasien Covid-19 akibat keterbatasan ventilator. Oleh karenanya, ketersediaan vertilator menjadi sangat penting.
"Ventilator yang diciptakan oleh UI kolaborasi FK dan FT ini sudah lolos uji klinik dan sudah dapat izin produksi dari Kemenkes bisa menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan ventilator sehingga dapat mencegah kematian," tuturnya.
Salah satu anggota Tim Dokter Covent-20 yang turut mengawal proses uji klinis Andi Ade Wijaya Ramlan menjelaskan, Covent-20 mampu memberikan ventilasi tekanan positif dengan mode CMV sehingga dapat digunakan sebagai alternatif untuk membantu pasien yang mengalami kesulitan bernafas dan perlu dikontrol oleh mesin (time-triggered).
Sedangkan mode CPAP dapat membantu pemberian oksigen kepada pasien yang masih sadar dan bernafas spontan. Pasien yang dipilih untuk uji klinis Covent-20 adalah yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel sesuai persyaratan minimal subjek pasien dan protokol dari Tim Uji Klinis Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan," jelas Andi.
Sebelum lulus uji klinis manusia, Covent-20 juga dinyatakan lulus uji produk dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Jakarta pada 29 April. Kemudian Covent-20 menjalankan proses pra uji klinis pada hewan yang diselenggarakan di Indonesian Medical Education and Research Institute FKUI.

Komentar