Kamis, 23 Juli 2026 | 11:02
COMMUNITY

Gerbang Gaib Gunung Arjuno (Tamat)

Gerbang Gaib Gunung Arjuno (Tamat)
Dok. Wahyu Pujiningsih

ASKARA - Kami pun kembali ke shelter dan bersiap-siap ke Puncak Arjuno. Kami ditemani oleh Pak Andik yang katanya ingin berdoa di atas puncak. Kami membawa beberapa makanan ringan dan air. 

Persiapan pun selesai dan dari Mahkuto Romo kami memulai perjalanan kami menuju ke Candi Sepilar. Kami menaiki tangga-tangga yang sebelumnya kami duduk-duduk di tempat ini. Candi Sepilar ini dikawal oleh sembilan arca yang menggambarkan raksasa yang sedang mengawal Pandawa. Suasana angker dan menyeramkan sangat terasa, kami berjalan meniti jalan setapak yang dikelilingi patung-patung Buto. Katanya sih di Sepilar inilah juga terdapat Pasar Setan atau Pasar Dieng seperti halnya di Gunung Lawu atau Gunung Merbabu.

"Ih mrinding aku lewat kene medeni patunge wajahe ora santuy blas podo megelno koyok arep ngejak tawuran." 
(Ih mrinding aku lewat sini menakutkan wajah patungnya gak santuy sekali pada menyebalkan semua kayak mau ngajak tawuran.) Ujar Mamad.
"Kapan awakmu gak mrinding iku Mad, Mad. Perasaan awakmu mrinding terus, iling a pas nang Putuk Lesung dirimu kebelet boker padahal aku cuma ngomong genderuwo terus tak tinggal ndelik awakmu mlayu celonomu gong mok unggahne terus mlayu sampek kejongor-jongor.
(Kapan kamu gak merinding itu Mad, Mad. Perasaan kamu itu merinding terus, kamu ingat pas di Putuk Lesung dirimu kebelet boker padahal aku cuma ngomong genderuwo terus aku tinggalin sembunyi kamu lari sampai celanamu belum dinaikkan lari sampai jatuh-jatuh) ujarku sambil ketawa .
"Kaget goblok WC-ne horor og, tarah dirimu i nggitili og dadi konco. Clonoku gong tak unggahne tapi kan aku sarungan."
(Kaget goblok WC-nya horor, emang dirimu itu teman nggitili. Celanaku belum aku naiki tapi kan aku makai sarung.) jawab Mamad sambil nonjok lenganku.
"Heleh tarah kalian itu para kaum halu." ujar Ozie sambil ketawa.

Kami pun lanjut jalan menuju arah kanan menyusuri satu bukit, sampailah di Candi Wesi. Katanya sih dulu semasa Bung Karno masih muda dan belum menjadi Presiden RI beliau sering ke Candi Wesi ini.
Di sini bisa dilihat tiga Arca Pandawa, dahulunya terdapat lima buah patung namun patung Nakula dan Sadewa telah hilang dicuri.

Di sebelah kiri bangunan Candi Sepilar bisa dilihat sebuah kuburan yang menurut cerita merupakan tempat muksanya Eyang Semar. Pada bulan Suro tempat ini banyak didatangi para penganut aliran Kejawen untuk memohon doa bagi keselamatan hidupnya.

Kami pun break beberapa menit di sini kemudian lanjut jalan menuju ke Candi Mangunggale Suci. Candi ini hanyalah sebuah batu yang ditata seperti pondasi yang di atasnya terletak sebuah marmer yang bertuliskan huruf Jawa dan di bawahnya lagi tertulis Sura Dira Jaya Diningrat Lebur Dining Pangastuti (Kejahatan pasti kalah oleh kebaikan). Dan di bawah tulisan ini tersebutlah nama Maha Resi Agung Prawira Harjana. Katanya sih dia ini adalah pengikut setia Bung Karno.

Dari Candi Manunggale Suci kita berjalan ke arah kiri mendaki bukit terjal di antara pohon-pohon pinus. Dengan menyusuri punggungan bukit, jalan setapak berada di pinggiran jurang dalam yang berbatuan, dan deru angin kencang serta kabut yang sering muncul menambah seramnya suasana.
Mendaki di jalur ini harus ekstra hati-hati. Setelah berjalan sekitar 1 jam kita berbelok ke kanan mengikuti alur punggung bukit yang semakin terjal dan berbatu-batu. Dari tempat ini kita bisa melihat jurang dalam yang sangat indah.

Saya dan Pak Andik jalan duluan sedangkan Ozie dan Mamad tertinggal jauh di belakang. 
"Buh..." terdengar suara Ozie memanggilku.
"Ayo tak tunggu neng kene!" 
(Ayo aku tungguin di sini!) jawabku sambil teriak.
Saya menunggu Mamad dan Ozie beberapa menit sedangkan Pak Andik jalan duluan. Heran, dia kok bisa jalan secepat itu padahal track-nya nanjak, kayak gak punya capek. 
"Ih neng kene suangar ya. Rasane aura dewaku muncul."
(Ih di sini sangar ya. Rasanya aura dewaku muncul) ujar Mamad.
 "Dewa halu a? " tanyaku.
"Kurang ajar, hei saikimu aku ki wes dadi dewa."
(Kurang ajar, hei sekarang aku itu udah jadi dewa) jawab Mamad.
"Kaet kapan dadi dewa kok aku gak eroh?"
(Sejak kapan jadi dewa kok aku gak tau?) tanyaku.
"Kaet kita munggah neng Semeru sak jok'e iku aku wes dadi dewa."
(Semenjak kita naik ke Semeru sejak itu aku udah jadi dewa) jawab Mamad 
"Lha og iso?"
(Kok bisa?) tanyaku lagi.
"Yo iyolah kan Puncak Semeru iku puncake para dewa la pas aku wes sampai puncak para dewa, aku dadi dewa. Awakmu nek nyeluk aku gak oleh Mamad kudu Dewa Mamad."
(Ya iyalah kan Puncak Semeru itu puncaknya para dewa pas aku udah sampai puncak para dewa, aku jadi dewa. Kamu kalau manggil aku gak boleh Mamad harus Dewa Mamad) jawab Mamad.
Saya pun ketawa mendengar ucapannya Mamad "Hah sak merdekamu ae lah saudara." 
"Ayo dewa lanjut!" ujar Ozie sambil ketawa terbahak-bahak. 

Kami pun melanjutkan perjalanan. Dengan berjalan sekitar 2 jam menyusuri punggung bukit yang berbatuan kita akan sampai di pertemuan dua buah punggung bukit, kemudian kita menyusuri lereng jurang yang mengitari Puncak Arjuna. Setengah jam kemudian dengan mengitari Puncak Arjuna yang banyak batu besarnya selanjutnya kami harus menempuh padang rumput yang banyak ditumbuhi bunga edelweis dan cantigi. Saya dan Mamat jalan sambil makan nyemilin daun cantigi yang masih muda, hmm udah kayak embek aja kita. Jalur ini sangat terjal melintasi tanah yang berdebu, sekitar setengah jam kita akan sampai di Puncak Gunung Arjuna yang disebut Puncak Ogal-agil atau Puncak Ringgit, sebelumnya kita harus melewati batu-batuan yang berserakan. 

Para peziarah membangun undak-undakan yang tersusun dari batu-batu andesit yang ditata rapi untuk melangkah ke Puncak Gunung Arjuna. Sampailah kami di puncak. Pak Andik berdoa, kami mulai mengalai di puncak. Satu jaman kita berada di sini kita turun kembali ke shelter. Mamad sama Pak Andik udah ngacir duluan, saya sama Ozie tertinggal jauh di belakang. Jam menunjukkan pukul 4, kami sampai di Alas Lali Jiwo. Hutan angker yang menurut ahli spiritual daerah ini banyak dihuni oleh para jin. Menurut kepercayaan setempat, orang yang mempunyai niat jahat jika melewati daerah tersebut akan tersesat dan lupa diri. Di hutan ini juga kadang terdengar suara gamelan Jawa. Katanya sih kalau kita mendengar suara gamelan Jawa berarti penghuni sini sedang ngunduh mantu. Jika kita melewati tempat ini dan mendengar gamelan Jawa sebaiknya jangan melanjutkan perjalanan karena bisa tersesat. Sampai di Alas Lali Jiwo ini saya merinding, tiba-tiba kabut perlahan-lahan turun, ya ampun makin serem aja ini hutan bulu kuduku berdiri. Kami mempercepat langkah kami menyusul Mamad dan Pak Andik. 

Kami sampai di shelter istirahat sejenak lalu packing, habis Solat Maghrib kami turun. Kami sempat ditahan sama Pak Andik dan temannya juga sama ibu yang ada di sana tapi karena Ozie harus segera kembali ke Semarang dan Mamad juga harus kerja kami pun memutuskan untuk pulang hari itu juga. 

Jalan malam hari melewati situs-situs itu rasanya tegang mulu yang ada. Apalagi pas lewat Pondok Rahayu yang angker masya Allah spot jantung. Si Mamad yang penakut dia gak mau jalan baris dia maunya jalan jejeran. Kalaupun baris dia minta di tengah gak mau di depan/belakang. "Bruak !" Saya terjatuh karena berhenti mendadak. Saya kaget karena tiba-tiba ada bayangan hitam melintas sekelebatan di depan saya. 
"Gak popo Buh?
(Gak papa Buh) tanya Ozi.
"Gak popo, iku mau opo? "
(Gak papa, itu tadi apa?) tanyaku.
"Gak popo mereka baik kok gak ganggu kita, mereka cuma ngawasi kita tok."
(Gak papa mereka baik kok gak ganggu kita, mereka cuma ngawasi kita aja)
"Kalian nyawang opo to rek?"
(Kalian lihat apa teman-teman?) tanya Mamad
"Wes ayo mlaku!"
(Udah ayo jalan!) ujar Ozie.

Kami pun lanjut jalan. Sampai di Petilasan Eyang Semar kami ketemu orang rombongan 5 orang sedang berada di dalam shelter, kami pun gabung numpang istirahat dengan mereka. Kami kira mereka pendaki yang mau naik ke atas ternyata mereka itu para peziarah yang sedang nyepi di sini. Mereka memberi kami makanan. Setelah beberapa menit kami di sini kami pun pamit lanjut jalan lagi. Sampai di Pos 2 ya Allah makin merinding aja, bau dupa sangat menyengat. Ketika di pertengahan antara Pos 2 ke Pos 1 setelah melewati Candi Kursi Ozie gak kuat jalan, dia tiba-tiba lemas. Katanya tasnya semakin lama semakin berat, kami pun break di area kebun kopi. Saya dan Ozie pun tukeran tas, dia bawa tas saya yang lebih ringan. Dan ternyata benar tasnya Ozie makin lama semakin berat. 

Kami break lagi di dekatnya Gua Anta Boega. Kami duduk berdoa membaca ayat-ayat yang kami bisa dan tasnya Ozie pun kembali normal. Sesampainya di basecamp kami numpang nginap di sini dan keesokan paginya kami pulang. Sampai di kosan ada yang aneh, celana yang kupakai tiba-tiba ada di jemuran entah itu celanaku atau celana temanku kos yang mirip dengan punyaku. Saya gak berani ngecek akhirnya saya biarkan aja di situ sampai tiga hari, eh hilang sendiri. Pas saya pulang ke rumah, kaos yang saya buang juga tiba-tiba ada di dalam lemari saya dan masih kotor, bekas tanahnya pun masih menempel. Saya cerita pada orang tua saya tentang pertemuan saya dengan Pak Andik kemudian bapak saya membakar baju saya dan saya pun dibawa ke kyai untuk dirukyah. 
Tamat. Terima kasih sudah membaca cerita saya. 

Wahyu Pujiningsih
(Pencinta alam, tinggal di Madiun)

Sebelumnya:
Gerbang Gaib Gunung Arjuno (4)

Komentar