Selasa, 09 Juni 2026 | 20:15
NEWS

Menunggu Hasil Rukyat Penentuan 1 Syawal

Menunggu Hasil Rukyat Penentuan 1 Syawal
Pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kemenag Cecep Nurwendaya memberikan keterangan soal ketampakan hilal awal Syawal 1441 Hijriah. (Kemenag)

ASKARA - Kementerian Agama menyampaikan tidak ada referensi empirik visibilitas atau ketampakan hilal awal Syawal 1441 Hijriah bisa teramati di seluruh wilayah Indonesia pada Jumat (22/5).

Pernyataan itu disampaikan pakar astronomi dari Tim Falakiyah Kemenag Cecep Nurwendaya saat memaparkan posisi hilal menentukan 1 Syawal 1441 H pada Sidang Isbat Awal Syawal 1441 H di Kantor Kemenag Jakarta.

"Semua wilayah Indonesia memiliki ketinggian hilal negatif antara minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat. Hilal terbenam terlebih dahulu dibanding matahari," ujar Cecep. 

Cecep menuturkan, Tim Falakiyah Kemenag melakukan pengamatan hilal di 80 titik di seluruh Indonesia. 

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Sidang Isbat Awal Syawal 1441 H hanya dihadiri secara fisik oleh Menteri Agama Fachrul Razi, Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi, Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto, Ketua MUI KH Abdullah Jaidi, dan Direktur Jenderal Bimas Islam Kamaruddin Amin. 

Sementara para pimpinan ormas, pakar astronomi, Badan Peradilan Agama, serta para pejabat Eselon I dan II Kemenag mengikuti jalannya sidang melalui konferensi video.

Penetapan awal bulan Syawal didasarkan pada hisab dan rukyat. Proses hisab sudah ada dan dilakukan oleh hampir semua ormas Islam. 

"Saat ini kita sedang melakukan proses rukyat dan sedang menunggu hasilnya. Secara hisab, awal Syawal 1441 Hijriah jatuh pada hari Minggu. Ini sifatnya informatif, konfirmasinya menunggu hasil rukyat dan keputusan sidang isbat," jelas Cecep.

Cecep menambahkan, rukyat adalah observasi astronomis. Karena itu, harus ada referensinya. 

"Kalau ada referensinya diterima, sementara kalau tidak berarti tidak bisa dipakai," ujarnya. 

Komentar