Sabtu, 25 Juli 2026 | 12:20
NEWS

Mereka Memohon Hidup, Tetapi Kebiadaban OPM Kalahkan Rasa Kemanusiaan

Mereka Memohon Hidup, Tetapi Kebiadaban OPM Kalahkan Rasa Kemanusiaan
Suami istri yang mohon belas kasihan (Dok Askara)

ASKARA - Ada luka yang sulit disembuhkan. Ada tangis yang tak mampu dihapus oleh waktu. Dan ada duka yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Kematian sepasang suami istri di Papua, yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata OPM, bukan sekadar menambah daftar panjang korban kekerasan. Peristiwa itu menyisakan pertanyaan besar tentang di mana letak kemanusiaan ketika nyawa orang-orang yang tidak berdaya direnggut begitu saja.

Mereka bukan prajurit yang sedang bertempur. Mereka bukan pihak yang membawa senjata. Mereka hanyalah warga sipil yang bekerja mencari nafkah demi menghidupi keluarga dan membangun masa depan anak-anak mereka.

Laporan yang beredar menggambarkan detik-detik terakhir yang begitu memilukan. Disebutkan bahwa mereka memohon ampun dan berharap belas kasih. Namun, jika laporan tersebut benar, permohonan itu tidak mengubah nasib mereka. Kekerasan tetap terjadi hingga merenggut dua nyawa yang seharusnya dilindungi.

Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan pembunuhan terhadap warga sipil. Apa pun motifnya, siapa pun pelakunya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar. Ketika senjata diarahkan kepada orang-orang tak bersalah, yang terbunuh bukan hanya manusia, tetapi juga harapan akan damai.

Yang paling menyayat hati adalah membayangkan anak-anak yang kini harus menjalani hidup tanpa ayah dan ibu. Mereka kehilangan pelukan yang menenangkan, nasihat yang membimbing, dan kasih sayang yang tak tergantikan. Duka mereka akan membekas jauh lebih lama daripada gema tembakan yang mengakhiri hidup kedua orang tuanya.

Editorial ini mengutuk setiap bentuk kekerasan terhadap warga sipil. Tidak boleh ada ruang bagi tindakan yang menghilangkan nyawa orang tak berdosa. Konflik, perbedaan pandangan, maupun tujuan politik tidak pernah dapat dijadikan pembenaran untuk mengabaikan hak hidup seseorang.

Sudah saatnya semua pihak menempatkan kemanusiaan di atas kebencian. Sebab ketika tangisan anak-anak yatim tidak lagi mampu mengetuk hati, maka yang sedang kita hadapi bukan sekadar konflik, melainkan hilangnya nurani.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, dan semoga keadilan dapat ditegakkan melalui proses hukum yang berlaku. Bangsa ini tidak boleh pernah terbiasa menyaksikan air mata warga sipil sebagai harga dari kekerasan.

 

Komentar