Selasa, 16 Juni 2026 | 01:59
OPINI

Saya Hanya Bertanya

Saya Hanya Bertanya
Ilustrasi (Dok pribadi)

Semakin hari semakin muncul pertanyaan liar di benak saya. Jika gunakan teori konspirasi, hampir sebagian besar wabah dunia di era modern ini selalu berkaitan dengan hidung, mulut, tenggorokan dan paru-paru. Tersamar dengan sebuah penyakit yang setiap manusia pasti mengalaminya dan tak pernah ada obatnya. Itulah influenza. 

Kita tarik beberapa wabah dunia paling belakangan. Sars, Mers, Flu Burung dan kini Corona. Semua menyerupai Influenza. 

Tak ada penjelasan paling tegas perbedaan antara semua wabah itu dengan influenza biasa. Tak ada penjelasan tegas penyebab mortalitas wabah Corona ini. Apakah disebabkan oleh virus Covid-19 langsung atau mortalitas yang disebabkan terdapatnya penyakit lain dari para pasien terpapar virus Covid-19. Tak ada juga penjelasan berapa rata-rata usia korban yang mengalami mortalita. Sempat saya dengar infonya rata-rata berada di usia di atas 60th. Dan tak ada korban anak-anak. Itupun info yang tidak resmi dan saya anggap tidak valid.

Semua informasi begitu kabur. Jika kita pukul rata dengan gejala Influenza, maka pasti akan kita temukan angka fantastis dari mereka yang dianggap terpapar Covid-19. Karena bercampur dengan penderita influenza yang semua manusia umum mengalaminya. Apalagi ini skala dunia. Angka mortalitasnya pun pasti fantastis, karena bercampur dengan tingkat kematian akibat penyakit lain.

Tentu saja, di tengah kepanikan dan ketakutan yang mondial, wabah ini berimplikasi sosial, kultural, ekonomi, hukum, politik dan semua segi kehidupan manusia dunia.

Jika kita menarik garis di antara dua titik, atas wabah ini, maka kita hanya menemukan kata "Virus Corona" di titik awal dan "Kelumpuhan Kehidupan" di titik ujungnya. Sementara garis di antara dua titik itu hingga kini tak pernah jelas.

Jika Covid-19 itu adalah jenis Influenza, maka sudah bisa dipastikan itu tidak ada obatnya. Karena memang Influenza tak pernah ada obatnya selain hanya obat pereda. Jalan untuk mengatasinya hanyalah vaksin. Jalan untuk menangkalnya adalah meningkatkan stamina tubuh, gunakan masker, rajin cuci tangan, physical distancing, social distancing, karantina lokal, lock-down dan segala macam istilah yang ujungnya adalah pembekuan kehidupan manusia. 

Itulah cara mengatasi wabah Influenza jika sudah jadi wabah dunia. Tapi apakah wabah Covid-19 ini serupa dengan wabah Influenza? Jika tidak sama, mengapa semua gambarannya mirip wabah Influenza?

Hingga kini tak ada satu pun yang memberi penjelasan secara tegas. Yang kita tahu hanyalah gejalanya, cara penyebarannya, cara menangkalnya dan vaksin (bukan obat) yang ditunggu seluruh dunia. Itu semua adalah gambaran wabah Influenza.

Dan pertanyaannya tetap kembali: apakah Covid-19 adalah sejenis Influenza?

Saya bukanlah ahli mikrobiologi apalagi kedokteran. Saya hanya menggunakan logika independen saya.

Jika ternyata benar dugaan saya, maka rasanya menjadi benar apa yang dikatakan Karl Marx: 

Histoire se répète toujours deux fois: la première fois comme tragédie, la deuxième fois comme farce. 

(Sejarah selalu mengulang dirinya sendiri: pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon).

Menjadi miris pula jika berkaca dari novel La Peste karya Albert Camus yang menggambarkan absurditas manusia di tengah kondisi wabah.

Saya hanya bertanya.

 

Smile Arif Suryopranoto
Pemerhati Sosial Masyarakat

Komentar