Ikhlas Bukan Pasrah
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Bahasa kita sering menipu. “Ikhlas” dan “pasrah” dipakai silih berganti buat menghibur orang gagal. Padahal kalau dibedah pakai semantika linguistik, dua kata ini jalannya berlawanan arah.
“Ikhlas” dari Arab ikhlas akarnya kh-l-ṣ artinya murni, bersih, tanpa campuran. Jadi ikhlas = niat yang disaring. Tidak ada pamrih, tidak ada tuntut balas. Subjeknya tetap aktif. Dia memilih memberi walau hasilnya tidak pasti.
“Pasrah” dari bahasa Jawa, artinya menyerahkan, menyerah. Subjeknya jadi objek. Dia lepas kendali. “Ya sudah, terserah Tuhan” sering jadi kode untuk “Gue capek mikir, gue berhenti gerak”.
Secara semantis, ikhlas punya kontrol internal. Pasrah sering berakhir kontrol eksternal. Satu tetap pegang setir walau tidak nentuin tujuan. Satu lepas setir dan tidur di jok belakang.
Sebut “ikhlas”. Konotasinya tenang tapi kuat. Kayak air. mengalir, menerima batu, tapi lama-lama batu itu halus. Ikhlas itu kerja batin. Sakit tetap sakit, tapi tidak busuk jadi dendam.
Sebut “pasrah”. Konotasinya lemas, mati rasa. Kayak daun kering. Ditiup angin ke mana saja. Deru campur debu, Pasrah sering dipakai buat membenarkan diam. “Udah pasrah aja” = “Udah berhenti berjuang aja”.
Makanya orang ikhlas masih bisa senyum sambil jualan besok pagi. Orang pasrah senyumnya kosong, karena besoknya dia tidak yakin mau ngapain.
Kalau kamu bilang “Aku ikhlas kamu pergi”, kamu tetap subjek. Kamu akui sakitnya, kamu proses, kamu pilih melepas dengan sadar. Setelah itu kamu bangun lagi. Ikhlas = menerima realita + tetap bertanggung jawab atas hidupmu.
Kalau kamu bilang “Aku pasrah sama nasib”, kamu pindah jadi objek. Kamu serahkan narasi hidup ke “takdir”, “hoki”, “pejabat”. Setelah itu kamu menunggu. Pasrah = menolak realita dengan cara pura-pura rela. Ikhlas tulus, pasrah akibat terpaksa. Tak berdaya.
Bahasa membentuk aksi. Negara suka kita “pasrah” biar tidak banyak menuntut. Tapi agama ngajarin “ikhlas” supaya kita tetap gerak walau hasilnya bukan kita yang menentukan.
Semantika menyadarkan bahwa ikhlas itu menerima tanpa berhenti. Pasrah itu berhenti karena mengaku menerima. Ikhlas bilang: “Ya Allah, ini hasil terbaik yang bisa aku usaha. Aku ridho, dan aku lanjut.”. Pasrah bilang: “Ya sudah, mau gimana lagi.” Lalu scroll HP sampai lupa.
Jadi kalau hidup sedang berat, pilih kata yang bikin kamu berdiri, bukan yang bikin kamu rebahan selamanya.
Ikhlas bukan pasrah. Ikhlas itu pasrahnya orang berakal: menyerahkan hasil, tapi tidak menyerahkan usaha.

Komentar