Senin, 06 Juli 2026 | 16:57
OPINI

44 Calon Paskibraka Menelusuri Kembali Jejak Asli Indonesia Raya

Melalui Hikayat Bangsa – Napak Tilas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, para Capaska Jakarta Barat diajak membuka arsip primer dan menelusuri sejarah otentik lahirnya lagu kebangsaan Indonesia

44 Calon Paskibraka Menelusuri Kembali Jejak Asli Indonesia Raya
44 Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kota Administrasi Jakarta Barat Tahun 2026 memperoleh pembekalan (Dok Dario)

Oleh: Dr. Dario Turk

ASKARA – Di tengah padatnya rangkaian Pemusatan Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat), 44 Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Capaska) Kota Administrasi Jakarta Barat Tahun 2026 memperoleh pembekalan yang berbeda dari latihan fisik maupun baris-berbaris. Pada Kamis malam, 2 Juli 2026, bertempat di HARRIS Suites Puri Mansion, Kembangan, Jakarta Barat, mereka diajak menelusuri jejak otentik lahirnya lagu kebangsaan Indonesia melalui pemaparan Ibu Endang Wahyuningsih Josoprawiro Turk, Ketua Umum Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara, dalam materi bertajuk “Hikayat Bangsa – Napak Tilas Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.”

Kegiatan ini diselenggarakan atas undangan resmi Pengurus Kota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Jakarta Barat melalui Surat Nomor SUM.065/PPI-10.01/VI/2026. Selama dua jam, dari pukul 20.00 hingga 22.00 WIB, ke-44 putra-putri terbaik Jakarta Barat tersebut mengikuti pembekalan yang dipandu moderator Salsabila Azhara Putri Rifa, Paskibraka Angkatan 2025.

Sejak awal suasana terasa berbeda. Para Capaska tidak hanya mendengarkan kisah sejarah, tetapi diajak membuka arsip-arsip primer, membaca dokumen sezaman, menelaah foto-foto langka, serta memahami perjalanan lahirnya Indonesia Raya berdasarkan sumber-sumber autentik. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa sejarah tidak sekadar dihafal, melainkan harus dipahami melalui bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Keistimewaan malam itu juga terletak pada hadirnya tiga generasi keluarga besar Wage Rudolf Soepratman. Ibu Sastriany Josoprawiro, cucu Ngadini Soepratini—kakak kandung WR Soepratman—hadir bersama putrinya, Ibu Endang Wahyuningsih Josoprawiro Turk, dan cucunya, Antea Putri Turk, sebagai tiga generasi penerus garis keluarga Ngadini Soepratini.

Pembekalan ini menjadi berbeda dari pelajaran sejarah konvensional karena yayasan mengajak peserta memahami sejarah melalui sumber primer, bukan sekadar mengulang narasi yang selama ini kurang tepat. Melalui komparasi surat kabar pergerakan, arsip kolonial, peta sezaman, dokumen keluarga, dan berbagai referensi primer lainnya, para Capaska diajak melihat bagaimana fakta sejarah dapat diverifikasi secara ilmiah. Pendekatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa penghormatan terhadap lagu kebangsaan harus diawali dengan penghormatan terhadap kebenaran sejarahnya.

Melalui lebih dari lima puluh slide, peserta menelusuri perjalanan hidup Wage Rudolf Soepratman (1903–1938), mulai dari bukti-bukti mengenai tempat kelahirannya di Meester Cornelis—kini Jatinegara—hingga berbagai hasil penelitian Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara. Paparan juga mengulas misteri rekaman perdana tahun 1927 bersama Yo Kim Tjan dari NV Populair, piringan hitam Republik Indonesia RI.267-1 dengan aransemen orkes simfoni pimpinan Jos Cleber, serta dua belas lagu ciptaan WR Soepratman yang kembali diperkenalkan kepada publik dalam konser peraih Rekor MURI pada 10 November 2023. Bersama lagu-lagu tonil seperti Indonesia Tjantik dan Ratap Si Parto, penelitian yayasan menunjukkan bahwa sang komponis sedikitnya telah menciptakan dua puluh lagu sepanjang hidupnya.

Puncak acara hadir ketika Antea Putri Turk, 17 tahun, duta Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara sekaligus cicit buyut Ngadini Soepratini—kakak kandung WR Soepratman—membawakan lima karya WR Soepratman. Dengan vokal yang penuh penghayatan, Antea membawakan Indonesia Raya Tiga Stanza, Indonesia Hai Iboekoe, serta lagu tonil (tooneel) Indonesia Tjantik dan Ratap Si Parto. Penampilan itu mencapai klimaks ketika ia kemudian mengangkat biola dan mempersembahkan Indonesia Raja menggunakan notasi perdana sebagaimana pertama kali diterbitkan di surat kabar Sin Po pada 10 November 1928. Untuk sesaat, para Capaska seakan dibawa kembali ke malam bersejarah hampir satu abad silam ketika melodi tersebut pertama kali diperkenalkan kepada bangsa Indonesia.

Suasana semakin hidup ketika sesi tanya jawab berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai sejarah Indonesia Raya, proses penelitian, hingga pentingnya membedakan fakta sejarah dari narasi yang tidak didukung bukti primer.

Di penghujung acara, Ketua PPI Jakarta Barat, Tedi Setiyadi, S.Tr.Kes., menyerahkan plakat penghargaan kepada Ibu Endang Wahyuningsih Josoprawiro Turk. Momen penuh makna juga tercipta ketika Bambang T. Baskoro, Purna Paskibraka DKI Jakarta, menyerahkan buku Berkibarlah Benderaku kepada keluarga besar yayasan sebagai simbol pertemuan antara penjaga tradisi pengibaran bendera dan penjaga warisan sejarah pencipta lagu kebangsaan.

Acara kemudian ditutup dalam suasana hangat ketika ke-44 Capaska bersama-sama menyanyikan lagu “Terima Kasih Kakak” dengan iringan gitar Bambang T. Baskoro sebagai ungkapan apresiasi kepada narasumber.

Bagi Yayasan Wage Rudolf Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara, forum edukasi seperti ini merupakan bagian dari komitmen untuk meluruskan, mendokumentasikan, dan menghidupkan kembali sejarah lagu kebangsaan Indonesia melalui arsip dan sumber-sumber primer yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, setiap kali Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh khidmat, sesungguhnya kita sedang meneruskan hikayat besar bangsa yang dimulai oleh seorang pemuda, sebuah biola, dan keyakinannya.

 

* Penulis adalah Pembina Yayasan WR Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara serta peneliti sejarah WR Soepratman, “Indonesia Raya”, dan periode pergerakan nasional Indonesia (1900–1945), berbasis di Jakarta.

 

Komentar