Senin, 14 Juni 2021 | 13:26
COMMUNITY

Berpikir Kritis dan Kreatif Tanpa Mengabaikan Etika

Berpikir Kritis dan Kreatif Tanpa Mengabaikan Etika
Dedi Gunawan Widyatmoko (Dokumentasi pribadi)

ASKARA - Saat ini kita semua dihadapkan pada era di mana banyak hal/keadaan sering berubah-ubah dengan cepat, tidak bisa diprediksi, kompleks/rumit dan membingungkan. Dalam Bahasa Inggris hal ini disingkat dengan istilah VUCA (volatile, unpredictable, complex and ambiguous). Dalam menghadapi hal tersebut, banyak ahli yang membuat konsep cara berpikir yang disebut Conceptual Thinking yang terdiri dari Critical Thinking, Creative Thinking dan Ethical Reasoning.

Konsep berpikir kritis dan kreatif tanpa mengabaikan etika adalah sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan saat ini dalam kehidupan sehari-hari baik sebagai individu/personal maupun sebagai kelompok sosial dari sebuah organisasi di manapun kita berada. Berpikir kritis pada intinya adalah menentukan dan menilai persoalan dengan mencari jawaban atas apa, bagaimana dan mengapa atas persoalan tersebut. Berpikir kritis juga berarti mencari hal yang benar. 

Di era kemudahan akses komunikasi dan informasi saat ini, penyebaran berita bohong sangatlah massif. Sebagai individu, kita harus mengklarifikasi kebenaran setiap hal termasuk berita kepada sumber yang terpercaya. Klarifikasi adalah bagian dari berpikir kritis.

Sering dalam memberitakan sebuah hal, media memberi perspektif sesuai kepentinganya masing-masing dan mengemasnya sesuai framing yang diinginkan. Jadi sebagai penerima berita dan info yang bijaksana, kita harus berpikir kritis tentang ada apa di balik pemberitaan tersebut untuk menghindari penilaian yang salah dan bias. Membandingkan berita yang sama dari media lain akan memberi kita perspektif baru akan berita tersebut. Hal terbaik tentu saja dengan mengecek langsung pada kenyataan di lapangan. Tapi hal ini tentu saja butuh waktu dan upaya yang tidak mudah.

Berpikir moderate atau berimbang adalah prasyarat bagi kita sebelum menentukan sesuatu. Kumpulkan informasi yang valid sebanyak-banyaknya sebelum menentukan sesuatu dan tetaplah berpikir logis. Pemahaman yang benar adalah syarat dasar dalam melakukan sesuatu dengan benar.

Setelah bisa mendefinisikan hal/persoalan pasti kita perlu untuk mengambil aksi. Diam tanpa berbuat apa-apa adalah salah satu aksi. Kita tidak perlu bereaksi atas semua hal. Sebuah komentar bisa juga dikatagorikan sebagai sebuah aksi. Sering kita perlu mengabaikan banyak hal untuk mendapatkan kedamaian hati.

Untuk sesuatu yang benar-benar membutuhkan aksi nyata kita harus berpikir sekreatif mungkin dengan mengkaji, mengkalkulasi, menilai dan merenungkan berdasarkan pengalaman kita masing-masing. Kita perlu berpikir yang kreatif karena tidak ada dua hal yang benar-benar sama di dunia ini. Masalah yang berbeda perlu ditangani dengan aksi yang berbeda. Tidak mungkin juga berharap hasil berbeda dari upaya yang sama (Albert Einstein). Pada fase ini; ilmu, nilai-nilai, pengalaman dan sifat kita akan keluar dengan otomatis.

Setelah berpikir kritis dan kreatif, kita perlu untuk memperhatikan etika yang berlaku di lingkungan kita masing-masing. Dalam hal ini, nilai-nilai agama dan budaya perlu untuk diperhatikan. Ada juga adab-adab khusus yang berlaku di lingkungan khusus misalnya adab yang berlaku di lingkungan desa pasti berbeda dengan adab di lingkungan kota. 

Sebagai kesimpulan, kombinasi terbaik dari berpikir kritis, berpikir kreatif dan pertimbangan etika akan mengasilkan solusi yang menyeluruh, tepat sasaran, efektif, effisien dan aplikatif di era ini. Ketiganya adalah sebuah paket. Kita tidak dapat mengabaikan salah satu dan memprioritaskan lainnya. 
Demikian semoga ada manfaatnya.

Dedi Gunawan Widyatmoko
(Opini pribadi dan tidak mewakili instansi manapun)

Komentar