Minggu, 07 Juni 2026 | 09:32
COMMUNITY

Bayi Kapal 2010 Itu Kini Terbaring Sakit: Syifa Hanya Ingin Dipeluk Ibunya

Bayi Kapal 2010 Itu Kini Terbaring Sakit: Syifa Hanya Ingin Dipeluk Ibunya
Syifa (dok.askara)

ASKARA - Di sebuah kamar perawatan RSUD Andi Sultan Daeng Radja, Bulukumba, terbaring seorang gadis 16 tahun dengan tubuh kurus dan tatapan kosong. Namanya Syifa. Selama 16 tahun hidupnya, hanya satu kalimat yang terus ia ucapkan ketika ditanya apa yang paling ia inginkan: “Saya cuma mau ketemu Ibu.”

Kisah Syifa bermula pada tahun 2010, di atas gelombang Selat Makassar. Di dalam Kapal Penumpang yang berlayar dari Pelabuhan Tuno, Nunukan menuju Pelabuhan Pare-Pare, seorang perempuan tanpa identitas melahirkan seorang bayi perempuan. Proses persalinan itu dibantu oleh penumpang lain, seorang bidan bernama Ibu Rajakati asal Herlang, Bulukumba.

Namun saat kapal merapat di Pare-Pare dan seluruh penumpang turun, sang ibu tak kunjung menampakkan diri. Bayi merah itu ditinggalkan begitu saja di atas kapal, tanpa nama, tanpa sehelai keterangan.

Ibu Rajakati yang tak tega akhirnya membawa bayi itu pulang ke Bulukumba. Nama “Syifa” ia berikan dengan harapan anak itu menjadi penyembuh luka. Bayi itu kemudian ia titipkan kepada seorang kakek bernama Sajuang yang beralamat di Ela-Ela, Bulukumba. Di tangan Kakek Sajuang, Syifa tumbuh menjadi remaja.

16 Tahun Rindu yang Menggerogoti

Meski dibesarkan dengan kasih sayang keluarga angkatnya, ada lubang besar di hati Syifa yang tak bisa ditambal apa pun: rindu pada ibu kandung. Kerinduan itu tak pernah padam, justru semakin menguat seiring usianya.

“Dia sering melamun. Kalau lihat ibu menggendong anaknya di TV, dia langsung diam,” cerita salah satu kerabat yang merawatnya.

Rasa rindu yang dipendam bertahun-tahun itu kini berdampak pada fisiknya. Syifa harus dirawat intensif di RSUD Andi Sultan Daeng Radja. Kondisinya memprihatinkan. Tubuhnya kurus, lemah, dan menurut tim medis ia sangat membutuhkan dukungan moril serta kasih sayang orang tua.

Di tengah keterbatasannya berbicara karena sakit, Syifa tetap mengulang permintaan yang sama: bertemu ibunya. Ia tidak marah. Ia tidak menuntut penjelasan. Ia hanya ingin menatap wajah perempuan yang melahirkannya, dan merasakan pelukan yang tak pernah ia dapat selama 16 tahun.

Pesan untuk Sang Ibu: “Anakmu Tidak Marah, Dia Hanya Rindu”

Keluarga yang merawat Syifa kini hanya bisa pasrah dan berharap keajaiban. Mereka tidak akan menghakimi. Mereka tidak akan menuntut. Mereka hanya ingin Syifa sembuh, dan kunci kesembuhannya diyakini ada pada pertemuan dengan ibu kandungnya.

“Bu, di mana pun kita berada, kalau ibu membaca ini, tolong datanglah. Anakmu sedang sakit dan rindu sekali pada ibu,” ucap T. Riswindu, salah satu pihak yang kini mendampingi Syifa. “Syifa tidak menuntut banyak. Dia hanya ingin dipeluk. Di sini banyak yang sayang sama Syifa dan siap menjadikan ibu bagian dari keluarga. Jangan takut. Dia darah dagingmu.”

Syifa kini dirawat penuh cinta oleh orang-orang di sekitarnya. Namun pelukan ibu kandung tetap menjadi obat yang tak tergantikan.

Bagi siapa pun yang mengenal atau memiliki informasi terkait perempuan yang melahirkan di Kapal Penumpang jurusan Nunukan–Pare-Pare pada tahun 2010, dengan bantuan bidan Ibu Rajakati asal Herlang, Bulukumba, dimohon keikhlasannya untuk menghubungi nomor berikut:

0878-2730-0192 a.n. T. Riswindu84

Satu kali Anda membagikan kisah ini, bisa menjadi jalan Syifa bertemu ibunya. Mari bantu Syifa wujudkan penantian 16 tahunnya sebelum semuanya terlambat.

Komentar