Selasa, 21 Juli 2026 | 21:05
COMMUNITY

Catatan Ekspedisi Elpala

Hari Pertama Ekspedisi, Belajar Melangkah dalam Kebersamaan

Hari Pertama Ekspedisi, Belajar Melangkah dalam Kebersamaan
Hari pertama ketika Tim Ekspedisi Citatih Elpala tiba di Cimelati (Dok Elpala)

ASKARA - Hari pertama Ekspedisi Cicatih Elpala menjadi awal perjalanan yang penuh dinamika, semangat, dan kebersamaan bagi para peserta. Meski sempat mengalami keterlambatan keberangkatan, semangat tim untuk menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) menuju Sungai Cicatih tidak sedikit pun surut.

Kisah itu diceritakan Tiffany Sheena, salah satu dari empat anggota tim inti Ekspedisi Cicatih Elpala bersama Muhammad Nabil, Galuh Parto Legawa, dan Muhamad Sabil. Baginya, hari pertama bukan sekadar awal sebuah petualangan, tetapi juga awal mengenal arti persaudaraan yang sesungguhnya.

Menurut Tiffany, rombongan semula dijadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 06.00 WIB. Namun, karena koordinasi transportasi belum sepenuhnya tuntas, keberangkatan baru dilakukan sekitar pukul 07.30 WIB. Tim tiba di base camp di kawasan Cimelati sekitar pukul 10.00 WIB.

Setibanya di lokasi, seluruh peserta langsung disibukkan dengan tugas masing-masing. Ada yang melakukan pengepakan ulang perlengkapan, mengurus perizinan pendakian (SIMAKSI), menyiapkan logistik, hingga mengatur konsumsi untuk perjalanan beberapa hari ke depan.

Di tengah kesibukan itu, Tiffany mengaku mengalami momen sederhana yang justru membekas di benaknya. Pandangannya tertuju pada sebuah bendera Merah Putih yang terpasang di lengan kanan baju lapangan milik Muhammad Nabil.

"Aku bertanya, 'Masih ada nggak?' Ternyata Nabil masih menyimpan beberapa patch Merah Putih dan langsung memberikannya kepadaku," kenangnya.

Patch kecil itu kemudian dijahit Tiffany di lengan kanan baju lapangannya pada malam hari. Baginya, Merah Putih bukan sekadar atribut, melainkan simbol semangat dan tanggung jawab yang akan dibawa sepanjang ekspedisi.

Sebelum memulai pendakian etape pertama, seluruh peserta mengikuti briefing dan doa bersama yang dipimpin tokoh setempat sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon keselamatan selama perjalanan.

Perjalanan menuju Pos 4 ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Tiffany mengaku sempat terkejut menghadapi karakter jalur yang cukup berat.

"Awalnya aku kaget karena medannya lumayan berat. Tapi setelah mencoba menikmati perjalanan dan mengatur ritme langkah, semuanya terasa lebih ringan," tuturnya.

Karena kemampuan dan ritme berjalan setiap peserta berbeda, rombongan pun terbagi menjadi beberapa kelompok. Muhammad Nabil, Ahmad Farel, A. Wirara Jagatraya, Habibie Teguh Zaelani, Gibran Ramadhan, dan Joko Purnomo Aji bergerak lebih dahulu untuk melakukan survei lokasi perkemahan.

Semula tim merencanakan mendirikan bivak di Pos 5. Namun, setelah melakukan survei, Muhammad Nabil bersama Surya Pagi Asa memutuskan lokasi tersebut tidak layak digunakan. Medan yang terlalu rapat, dipenuhi tanaman berduri, serta keterbatasan ruang menjadi pertimbangan utama.

Dengan mempertimbangkan faktor keselamatan dan kondisi fisik peserta yang mulai kelelahan menjelang malam, seluruh tim akhirnya sepakat membangun bivak di Pos 4.

Malam pertama di tengah hutan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Sebagian peserta tidur menggunakan hammock, sementara lainnya membangun bivak sederhana karena keterbatasan pohon yang cukup kuat untuk memasang hammock.

Setelah memasak makan malam, seluruh anggota kembali berkumpul untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun rencana perjalanan keesokan harinya.

Namun, malam itu juga menjadi ujian pribadi bagi Tiffany. Di tengah udara dingin pegunungan, sakit perut yang sebelumnya sempat dirasakan kembali kambuh hingga membangunkannya dari tidur.

Di saat itulah ia merasakan makna persaudaraan yang sesungguhnya.

"Teman-teman dan para senior langsung bangun membantu. Mereka membuatkan air hangat, memberikan obat, menenangkan aku, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa keberatan karena harus terbangun di tengah malam," ujarnya.

Perhatian sederhana itu justru menjadi kenangan paling berharga pada hari pertama ekspedisi.

"Dari situ aku tahu, aku tidak salah memilih menjalani ekspedisi bersama orang-orang seperti mereka," kata Tiffany.

Bagi Tiffany, hari pertama Ekspedisi Cicatih Elpala bukan hanya tentang menapaki jalur pendakian menuju hutan Halimun Salak. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pelajaran bahwa sebuah ekspedisi tidak hanya dibangun oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh rasa saling peduli, kepercayaan, dan persaudaraan yang tumbuh di antara setiap langkah. Di tengah hutan, ketika alam menjadi ruang belajar, para peserta menemukan bahwa arti sebuah perjalanan sesungguhnya adalah manusia-manusia yang berjalan bersama di dalamnya.

Bersambung

Komentar