Senin, 20 Juli 2026 | 16:44
COMMUNITY

Senyap Berkarya, Tim Pendukung Sukseskan Ekspedisi Cicatih Elpala

Senyap Berkarya, Tim Pendukung Sukseskan Ekspedisi Cicatih Elpala
Raihana Hayatunufus (paling kiri) bersama tim Ekspedisi Cicatih Elpala (Dok Elpala)

ASKARA - Setiap ekspedisi besar selalu memiliki dua wajah. Yang pertama adalah mereka yang terlihat di depan kamera, menembus hutan, mendaki gunung, dan mengarungi sungai. Wajah lainnya adalah mereka yang bekerja tanpa banyak sorotan, memastikan setiap langkah berjalan aman, setiap logistik tersedia, setiap komunikasi tersambung, dan setiap anggota tim dapat kembali dengan selamat.

Begitulah kisah di balik suksesnya Ekspedisi Cicatih Elpala 2026. Selain tim yang menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak hingga mengarungi Sungai Cicatih menuju Pelabuhan Ratu, terdapat tim pendukung yang menjadi tulang punggung seluruh operasi lapangan.

Operasional base camp dikendalikan Raihana Hayatunufus, Syahira Putria Adantie, dan Akmal Kurniawan. Ketiganya memastikan seluruh kebutuhan logistik, komunikasi, administrasi, hingga koordinasi antartim berjalan tanpa hambatan. Mereka didukung tim Rumah Elpala yang terdiri atas Wina Maria, Mohammad Farish, Surya Pagi Asa, Hendrata Yudha, Susan Indahwati, Hizkia Mandagie, Onaria Fransisca, dan Tomi Budiarto.

Bagi mereka, keberhasilan ekspedisi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan tim di lapangan, tetapi juga oleh kesiapan tim pendukung yang bekerja di balik layar. Setiap keputusan, distribusi logistik, hingga arus informasi harus berjalan tepat waktu agar perjalanan tetap aman.

Raihana Hayatunufus menceritakan, pekerjaan tim base camp telah dimulai sejak hari pertama kedatangan di Cimelati pada 4 Juli 2026. Saat sebagian orang masih melihat lokasi ekspedisi, tim base camp langsung bekerja menyusun tata letak tenda, membangun posko, menyiapkan logistik bagi tim yang akan masuk hutan, hingga menjalin komunikasi dengan masyarakat setempat.

"Pendekatan dengan warga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan berjalan lancar. Kami ingin masyarakat merasa menjadi bagian dari ekspedisi ini," ujarnya, Minggu (19/7/2026).

Memasuki 5 Juli 2026, suasana base camp semakin ramai dengan kedatangan tim talent, tim pendukung, dan para alumni Elpala. Seluruh peserta bergotong royong menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan baik di dalam hutan maupun di base camp. Sebelum perjalanan dimulai, seluruh tim mengikuti doa bersama yang dipimpin sesepuh Desa Cimelati sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan memohon keselamatan selama ekspedisi.

Ketika tim utama mulai memasuki kawasan Gunung Salak, pekerjaan tim base camp justru semakin padat. Mereka menyiapkan peta perjalanan, radio komunikasi, mencatat setiap perkembangan tim di lapangan, serta memastikan seluruh informasi terdokumentasi dengan baik hingga aktivitas berakhir setiap malam.

Rutinitas itu terus berlangsung pada 6 dan 7 Juli. Di tengah kesibukan tim yang berada di hutan, tim logistik terus mengatur pengiriman kebutuhan tambahan bagi peserta yang masih berada di jalur pendakian. Ketika tim kembali ke base camp, malam diisi dengan evaluasi, makan bersama, dan obrolan ringan yang mempererat persaudaraan antargenerasi Elpala.

Pada 8 Juli, seluruh tim berpindah menuju base camp berikutnya di kawasan Saka Alam, Leuwi Lalay. Perpindahan tersebut menjadi awal memasuki etape pengarungan sungai yang membutuhkan koordinasi lebih intensif antara tim lapangan dan tim pendukung.

Sehari kemudian, 9 Juli, pengarungan Sungai Cicatih mulai dilakukan. Sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, peserta menjalani latihan dan pengarungan didampingi tim Wanadri. Sementara itu, tim base camp tetap siaga memantau perkembangan melalui radio komunikasi dan memastikan seluruh kebutuhan peserta terpenuhi.

Tantangan terbesar datang pada 10 Juli saat tim melakukan pengarungan sungai sejauh hampir 30 kilometer. Selama sekitar delapan jam mereka berada di atas perahu karet mengikuti arus Sungai Cicatih. Di sisi lain, tim pendukung telah lebih dahulu bergerak menyiapkan lokasi singgah berikutnya, logistik, serta makanan hangat untuk menyambut peserta yang tiba dalam kondisi lelah.

"Rasa lelah seolah terbayar ketika melihat seluruh tim tiba dengan selamat. Malam itu kami menikmati hidangan laut yang disiapkan tim logistik. Sederhana, tetapi menjadi momen kebersamaan yang tidak akan terlupakan," kenang Raihana.

Ekspedisi akhirnya ditutup pada 11 Juli 2026. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, peserta berkumpul untuk beristirahat sebelum kembali ke rumah masing-masing. Tidak ada pesta ataupun seremoni mewah, hanya pelukan, tawa, dan cerita yang akan dikenang sepanjang hidup.

Bagi Raihana, seluruh tim pulang bukan hanya membawa dokumentasi dan pengalaman menjelajah alam, tetapi juga membawa pelajaran tentang arti kepercayaan, kerja sama, pengorbanan, dan persaudaraan.

"Di hari terakhir kami tidak pulang dengan tangan kosong. Kami pulang membawa sukacita yang kami ciptakan bersama dalam setiap langkah perjalanan. Di balik setiap keberhasilan ekspedisi, selalu ada tim yang bekerja tanpa ingin dikenal. Dan justru di sanalah makna persaudaraan itu benar-benar terasa," tuturnya.

Kisah tim pendukung Ekspedisi Cicatih Elpala menjadi pengingat bahwa sebuah ekspedisi bukan hanya tentang mereka yang berada di garis depan, tetapi juga tentang orang-orang yang bekerja dalam senyap. Mereka mungkin jarang terlihat di layar kamera, namun dedikasi, ketulusan, dan kerja keras merekalah yang menjadi fondasi keberhasilan seluruh perjalanan.

 

Komentar