Jumat, 04 September 2026 | 04:07
COMMUNITY

Studi Tiru Pimpinan Cabang Muhammadiyah Metro Barat Lintas Provinsi

Studi Tiru Pimpinan Cabang Muhammadiyah Metro Barat Lintas Provinsi
Foto bersama (dok.pcm)

ASKARA — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Metro Barat menempuh perjalanan lintas provinsi menuju Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat melalui agenda studi tiru yang dirancang untuk menyerap inovasi, memperkuat tata kelola organisasi, serta mengembangkan Amal Usaha Muhammadiyah. Kegiatan lima hari ini menjadi ikhtiar memperluas wawasan dan membangun jejaring gerakan Persyarikatan.

Sebanyak 14 peserta diberangkatkan dalam kegiatan Studi Tiru PCM Metro Barat yang secara resmi dilepas pada Kamis, 3 September 2026. Rombongan bertolak dari titik kumpul MBC Swalayan Kota Metro menuju sejumlah daerah yang selama ini dikenal memiliki praktik pengelolaan organisasi, dakwah, dan Amal Usaha Muhammadiyah yang berkembang.

Peserta studi tiru terdiri atas tujuh anggota pleno PCM Metro Barat dan empat Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Metro Barat. Rombongan juga mendapat pendampingan langsung dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Metro, Kustono, S.Ag., serta Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PDM Kota Metro.

Kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan organisasi dari satu daerah ke daerah lain. Studi tiru dirancang sebagai ruang belajar langsung untuk melihat, mendengar, berdialog, dan menyerap pengalaman dari berbagai cabang serta ranting Muhammadiyah yang dinilai memiliki keunggulan dan inovasi dalam menjalankan program Persyarikatan.

Bendahara PCM Metro Barat, Slamet Tedy Siswoyo, menjelaskan bahwa agenda yang berlangsung selama lima hari itu diarahkan untuk memperluas wawasan para pimpinan sekaligus menggali berbagai praktik baik yang dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan Muhammadiyah di Metro Barat.

Menurutnya, perkembangan organisasi pada era yang terus berubah menuntut pimpinan di tingkat cabang dan ranting untuk tidak hanya menjalankan rutinitas program, tetapi juga membuka diri terhadap pengalaman dan inovasi yang berkembang di daerah lain.

Karena itu, studi tiru menjadi salah satu cara untuk mempertemukan pengalaman lokal dengan gagasan baru. Apa yang berhasil diterapkan di suatu daerah dapat dipelajari, dianalisis, lalu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di daerah lain.

“Agenda selama lima hari ini dirancang untuk menyerap berbagai inovasi dari pimpinan Muhammadiyah dan percontohan AUM unggulan di Pulau Jawa,” ujar Slamet Tedy Siswoyo sebagaimana dikutip dalam laporan PDM Kota Metro.

Rangkaian perjalanan dimulai dengan kunjungan ke Daerah Istimewa Yogyakarta. PCM Metro Barat menjadwalkan studi banding ke PCM Minggir, Sleman, serta PCM Prambanan.

Dua tujuan tersebut dipilih sebagai bagian dari upaya mempelajari dinamika pengelolaan organisasi Muhammadiyah pada tingkat cabang. Bagi rombongan PCM Metro Barat, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana kepemimpinan kolektif, perencanaan program, penguatan ranting, hingga aktivitas dakwah dijalankan dalam konteks sosial masyarakat yang berbeda.

Cabang Muhammadiyah memiliki posisi penting dalam struktur Persyarikatan. Pada tingkat inilah berbagai gagasan organisasi bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat dan menjadi gerakan nyata melalui program dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi, serta pembinaan umat.

Karena itu, penguatan cabang tidak cukup hanya dilakukan melalui rapat dan evaluasi internal. Organisasi juga membutuhkan ruang belajar yang lebih terbuka agar para pimpinan dapat melihat secara langsung praktik-praktik yang telah berhasil diterapkan oleh cabang lain.

Setelah agenda di Yogyakarta, rombongan melanjutkan perjalanan dengan menghadiri agenda penyerahan mahasiswa kedokteran di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kunjungan tersebut memberi dimensi lain dalam perjalanan studi tiru PCM Metro Barat. Tidak hanya mempelajari tata kelola cabang dan ranting, rombongan juga berkesempatan melihat perkembangan Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan tinggi.

Perguruan tinggi Muhammadiyah selama ini menjadi salah satu kekuatan penting dalam gerakan Persyarikatan. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, kaderisasi, pengabdian masyarakat, dan penguatan nilai-nilai Islam.

Dari Yogyakarta, perjalanan kemudian berlanjut menuju Jawa Tengah. Salah satu agenda utama adalah kunjungan studi tiru ke PRM Gunung Pring, Muntilan, Kabupaten Magelang.

Kunjungan ke tingkat ranting tersebut memiliki makna strategis. Ranting merupakan basis paling dekat dengan masyarakat dan menjadi salah satu titik penting keberlangsungan gerakan Muhammadiyah.

Di tingkat ranting, program Persyarikatan berhadapan langsung dengan kehidupan warga. Pengajian, pembinaan keluarga, kegiatan sosial, pendidikan, pengelolaan masjid hingga pemberdayaan ekonomi sering kali tumbuh dari kekuatan komunitas di tingkat akar rumput.

Karena itu, mempelajari keberhasilan ranting yang berkembang dapat menjadi bekal penting bagi para pimpinan cabang dan ranting dari Metro Barat.

Pengalaman organisasi yang diperoleh dari PRM Gunung Pring diharapkan dapat memberikan inspirasi tentang bagaimana sebuah ranting dapat membangun gerakan yang kuat, memiliki kedekatan dengan masyarakat, serta mampu menjalankan program secara berkelanjutan.

Studi tiru kemudian membawa rombongan menuju Jawa Barat. Dalam perjalanan tersebut, peserta dijadwalkan singgah untuk beribadah di Masjid Raya Al-Jabbar, Bandung.

Masjid yang menjadi salah satu ikon arsitektur keagamaan di Jawa Barat itu menjadi bagian dari perjalanan yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan organisasi, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual dan wawasan tentang pengelolaan ruang ibadah dalam konteks masyarakat modern.

Perjalanan berikutnya diarahkan ke Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Kunjungan ini menjadi salah satu agenda pembelajaran yang menarik karena membawa perhatian pada bagaimana masjid dapat menjadi ruang yang hidup, terbuka, dan memiliki daya tarik bagi generasi muda.

Masjid tidak lagi cukup dipahami hanya sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual. Dalam perkembangan masyarakat modern, masjid juga dituntut mampu menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan, kegiatan sosial, penguatan ekonomi, hingga ruang kreativitas generasi muda.

Model pengelolaan masjid yang mampu menghadirkan anak-anak muda menjadi salah satu pengalaman yang relevan untuk dipelajari oleh peserta studi tiru.

Bagi Muhammadiyah, masjid memiliki posisi yang sangat strategis dalam gerakan dakwah. Masjid bukan sekadar bangunan fisik, melainkan pusat pembinaan dan penggerak kehidupan umat.

Karena itu, pembelajaran mengenai manajemen masjid menjadi bagian penting dalam perjalanan PCM Metro Barat. Tantangannya adalah bagaimana masjid dapat tetap menjaga fungsi utamanya sebagai tempat ibadah sekaligus mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

Agenda terakhir rombongan dijadwalkan berlangsung di PCM Cileungsi, Bogor. Kunjungan tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran pengalaman mengenai pengelolaan organisasi Muhammadiyah di tingkat cabang.

Setiap cabang memiliki tantangan yang berbeda. Karakter masyarakat, kondisi geografis, potensi ekonomi, jumlah anggota, hingga keberadaan Amal Usaha Muhammadiyah memengaruhi pola gerakan yang dijalankan.

Karena itulah, studi tiru tidak dimaksudkan untuk menyalin seluruh program dari daerah lain secara mentah. Hal yang lebih penting adalah memahami gagasan, sistem, pola kerja, dan semangat yang melahirkan keberhasilan sebuah program.

Dari proses tersebut, PCM Metro Barat diharapkan dapat memilih berbagai pengalaman yang sesuai untuk kemudian dikembangkan berdasarkan kondisi sosial dan kebutuhan masyarakat di wilayahnya.

Agenda studi tiru ini juga menjadi kelanjutan dari semangat penguatan mutu dan kapasitas pimpinan AUM Muhammadiyah di Metro Barat. Sebelumnya, dalam kegiatan upgrading pimpinan AUM pendidikan, muncul dorongan agar pimpinan Muhammadiyah di Metro Barat melakukan studi tiru ke berbagai daerah yang telah memiliki keunggulan dalam pengelolaan organisasi maupun pendidikan.

Dorongan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa perkembangan zaman menuntut organisasi untuk terus belajar. Tantangan pendidikan, dakwah, manajemen lembaga, teknologi, dan perubahan karakter masyarakat tidak dapat dijawab hanya dengan pola lama.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan memiliki tradisi panjang dalam membuka ruang pembaruan. Semangat tersebut membutuhkan penerjemahan dalam bentuk program yang nyata, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Studi tiru menjadi salah satu jalan untuk mempercepat proses pembelajaran tersebut.

Namun, keberhasilan sebuah studi tiru pada akhirnya tidak diukur dari seberapa jauh perjalanan yang ditempuh atau berapa banyak tempat yang dikunjungi. Ukuran terpentingnya adalah sejauh mana pengalaman yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi perubahan nyata setelah peserta kembali ke daerah asal.

Catatan, gagasan, dan pengalaman yang diperoleh selama perjalanan harus menjadi bahan evaluasi dan perencanaan bersama.

PCM Metro Barat memiliki pekerjaan lanjutan setelah agenda lima hari itu berakhir. Berbagai inovasi yang ditemukan perlu didiskusikan, dipetakan, dan dipilah berdasarkan tingkat kebutuhan serta kemampuan organisasi.

Tidak semua model keberhasilan dapat diterapkan secara sama di Metro Barat. Namun, setiap pengalaman dapat menjadi bahan pembelajaran untuk menemukan model pengembangan yang lebih sesuai dengan karakter masyarakat setempat.

Dalam konteks itulah, perjalanan lintas DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Barat memiliki arti lebih dari sekadar kunjungan.

Ia menjadi perjalanan mencari gagasan, membangun jaringan, dan mempertemukan pengalaman.

Bagi organisasi yang ingin terus tumbuh, belajar dari keberhasilan orang lain bukanlah tanda kelemahan. Justru di situlah terdapat kesadaran bahwa kemajuan tidak lahir dari sikap merasa paling mampu.

Kemajuan membutuhkan keterbukaan.

Dan keterbukaan membutuhkan keberanian untuk keluar dari batas-batas kebiasaan.

PCM Metro Barat kini membawa pulang satu pekerjaan besar: mengubah pengalaman menjadi gagasan, gagasan menjadi program, dan program menjadi manfaat nyata bagi warga Persyarikatan serta masyarakat.

Studi tiru telah membuka jalan. Tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika rombongan kembali ke Metro Barat: apakah berbagai pelajaran dari perjalanan lintas provinsi itu mampu menjelma menjadi inovasi yang menghidupkan cabang, menguatkan ranting, memajukan Amal Usaha Muhammadiyah, dan memperluas manfaat dakwah di tengah masyarakat.

Sebab, perjalanan organisasi pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak tempat yang dikunjungi.

Melainkan oleh seberapa besar perubahan yang berhasil diwujudkan setelah perjalanan itu berakhir.

Komentar