OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Dalam artikelnya di Foreign Affairs berjudul "North Korea’s Enemies Within" (30 Oktober 2026), Jieun Baek menyajikan tesis tajam: ancaman terbesar bagi eksistensi rezim Kim Jong Un tidak datang dari luar, melainkan dari dalam lingkar elit Pyongyang sendiri. Baek membongkar ilusi stabilitas mutlak Korea Utara dan menunjukkan bahwa loyalitas di bawah kepemimpinan Kim hanyalah sebuah "teater bertahan hidup" yang rapuh.
Sejak berkuasa pada 2011, Kim Jong Un menerapkan politik paranoid berupa pembersihan massal (sweeping purges) demi menegakkan kepatuhan absolut. Namun, Baek menilai strategi ini kontraproduktif. Alih-alih melahirkan kesetiaan ideologis, ketakutan konstan justru memicu disafeksi mendalam di kalangan kelas atas. Elit Korea Utara menyadari posisi mereka sangat rentan—meminjam istilah mantan diplomat Thae Yong Ho, "semakin dekat Anda dengan matahari, semakin besar peluang Anda untuk terbakar". Mereka adalah "budak sekali pakai" (disposable slaves) yang memiliki kekuasaan besar ke bawah, tetapi tidak berdaya ke atas.
Argumen Baek didukung oleh data krusial dari Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan: jumlah pembelotan dari kelas atas di era Kim Jong Un melonjak hingga 2,5 kali lipat dibanding gabungan era Kim Il Sung dan Kim Jong Il. Ketika para pembelot ini—yang mencakup diplomat senior dan agen intelijen—memilih kabur, mereka membawa sinyal bahwa pilar penyangga rezim menganggap Pyongyang tidak lagi memiliki masa depan yang layak.
Secara kritis, Baek memperkenalkan konsep kesetiaan pura-pura. Struktur Korea Utara bertahan bukan karena para pejabat tingginya beriman pada ideologi negara, melainkan karena atmosfer saling tidak percaya yang ekstrem. Sesi kritik diri rutin dan pengawasan ketat memaksa setiap individu menampilkan kepatuhan koreografis demi menyelamatkan diri dan keluarga. Efek destruktif dari sistem paranoid ini adalah kelumpuhan komunikasi: tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan rekan kerjanya. Namun, skenario ini ibarat bom waktu geopolitik. Loyalitas yang berbasis murni pada ketakutan memiliki batas kedaluwarsa. Baek mengingatkan bahwa ketika Korea Utara dihadapkan pada krisis multidimensi yang nyata, rantai komando yang terlihat kokoh ini dapat runtuh seketika. Tanpa adanya kepercayaan internal, para elit tidak akan ragu untuk saling mengkhianati atau meninggalkan Kim Jong Un demi menyelamatkan diri mereka sendiri.
Kesimpulannya, artikel Baek memberikan perspektif jujur yang sering diabaikan oleh analis Barat: kekuatan luar biasa Kim Jong Un dalam mengontrol informasi dan senjata nuklir nyatanya dibangun di atas fondasi sosial-politik yang keropos. Elit Pyongyang, yang selama ini dianggap sebagai pelindung rezim, pada hakikatnya adalah "musuh dalam selimut" terbesar yang siap meledakkan sistem dari dalam ketika momentum itu tiba. Insya Allah, para penguasa Indonesia berkenan belajar management by fear dari Kim Jong Un demi tidak melakukan kekeliruan yang sama.