OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Dalam bahasa Indonesia, ada kata yang nasibnya aneh: _menyadap_.
Awalnya, kata ini sangat polos. Sangat desa. Sangat wangi getah.
1. Menyadap yang Suci
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, _menyadap_ artinya mengambil nira atau getah dari pohon dengan cara melukai kulitnya sedikit, lalu menampung tetesannya.
Petani menyadap pohon karet. Petani menyadap pohon aren. Tidak ada yang marah. Pohonnya tidak protes. Tetesan itu dikumpulkan pelan-pelan, pagi demi pagi, sampai penuh satu tempurung. Lalu dijual. Halal. Jujur. Produktif.
Menyadap di sini adalah kerja. Kerja yang sabar dan menunggu.
2. Menyadap yang Berubah Makna
Lalu bahasa pun berbelok. Seperti dalam linguistik yang disebut _perluasan makna_.
Dari menyadap pohon, manusia mulai menyadap suara. Menyadap telepon. Menyadap percakapan.
Logikanya sama: melukai sedikit, tanpa ketahuan, lalu menampung tetesan informasi sedikit demi sedikit sampai penuh.
Bedanya, kalau pohon karet rela disadap, manusia tidak.
Di sinilah kata yang suci itu berubah menjadi kata yang kotor. Sadap tidak lagi tentang getah, tapi tentang kekuasaan
3. Watergate: Ketika Sadap Menjatuhkan Presiden
Puncaknya terjadi pada 1972 di Amerika Serikat, dalam skandal Watergate.
Orang-orang Presiden Richard Nixon menyadap kantor Partai Demokrat di Gedung Watergate. Mereka memasang alat sadap, mencuri dokumen, merekam pembicaraan.
Awalnya dianggap masalah kecil. Pencurian biasa. Tapi karena wartawan Washington Post terus menyadap balik informasi, akhirnya ketahuan: presidenlah yang memerintahkan penyadapan itu.
Nixon jatuh bukan karena ia menyadap. Nixon jatuh karena ia berbohong bahwa ia tidak menyadap.
Sejak itu, dunia belajar: dalam demokrasi, menyadap lawan politik adalah dosa besar. Bukan karena alatnya canggih, tapi karena niatnya busuk: ingin menang bukan dengan gagasan, tapi dengan mengintip.
4. Menyadap di Indonesia Masa Kini
Kini kata itu kembali ramai di Indonesia.
Di warung kopi, di grup WhatsApp, di podcast politik, orang ribut soal isu penyadapan. Siapa menyadap siapa? Siapa merekam siapa? Siapa membocorkan rekaman siapa?
Linguistik kita pun ikut berubah. Dulu orang bilang "disadap". Sekarang orang bilang "direkam diam-diam", "dibocorkan", "di-spyware", "di-WhatsApp-kan".
Tapi maknanya tetap sama dengan petani karet dulu: ada yang melukai kulit demokrasi sedikit, lalu menampung tetesan rahasianya.
Yang menyedihkan, praktik intel politik kini tidak lagi hanya dilakukan negara untuk menangkap teroris. Ia telah menjadi alat untuk menjatuhkan lawan, untuk menakut-nakuti kritikus, untuk membuat semua orang merasa diawasi, sehingga semua orang takut bicara.
Ini yang disebut para ahli sebagai chilling effect bukan lagi mulut yang dibungkam, tapi keberanian yang disadap habis
Pada hakikatnya dalam demokrasi, yang boleh disadap adalah pohon karet, bukan manusia. Yang boleh direkam adalah rapat terbuka, bukan percakapan pribadi. Yang boleh diintip adalah kekuasaan, bukan warga yang mengkritik kekuasaan.
Karena negara yang sibuk menyadap rakyatnya adalah negara yang takut pada rakyatnya sendiri. Dan rakyat yang takut bicara, lama-kelamaan negara akan seperti pohon karet yang getahnya habis: kering, diam, dan mati perlahan.