Jumat, 06 November 2026 | 17:11
OPINI

Mitos Penyakit Mental

Mitos Penyakit Mental
Mitos Penyakit Mental (Dok Askara)

ASKARA - Thomas Szasz dalam bukunya The Myth of Mental Illness bilang hal yang jelas bersifat anti psikiatri sambil juga anti Freud  : penyakit mental itu mitos. Bukan karena orang tidak menderita, tapi karena penderitaan itu tidak sama dengan penyakit.

Penyakit itu ada di tubuh. Diabetes ada di pankreas. Kanker ada di paru-paru. Patah tulang ada di tulang. Tapi di mana letak penyakit mental? Di otak? Di pikiran? Di jiwa?

Szasz bilang, kalau kita tidak bisa menemukan lesi di otak, maka itu bukan penyakit. Itu adalah masalah hidup. Masalah hidup bukan penyakit, tapi masalah perilaku. Dan itu dijelaskan lebih jauh di dalam sub-babnya yang paling terkenal: Foundations of a Theory of Personal Conduct.

Menurut Szasz, manusia bukan obyek dan pasien. Manusia adalah subyek dan agen moral. Ia bertindak, ia memilih, ia bertanggung jawab. Kalau seseorang berperilaku aneh, itu bukan karena otaknya rusak. Itu karena ia memiliki cara hidup yang berbeda, atau ia sedang memainkan peran yang tidak dimengerti oleh masyarakat.

Psikiatri, kata Szasz, adalah alat kekuasaan yang menyamar sebagai ilmu kedokteran. Dulu gereja membakar orang yang berbeda dengan label penyihir. Sekarang psikiatri mengurung orang yang berbeda dengan label skizofrenia.

Dulu orang yang tidak mau bekerja disebut pemalas. Sekarang disebut depresi. Dulu orang yang terlalu percaya diri disebut sombong. Sekarang disebut manik. Dulu orang yang sedih karena kehilangan disebut berduka. Sekarang disebut gangguan depresi mayor.Masyarakat tidak suka perilaku yang menyimpang, tapi masyarakat tidak mau mengakuinya. Maka masyarakat menciptakan mitos penyakit mental untuk membenarkan pengurungan. Lebih mudah bilang "dia sakit" daripada bilang "dia tidak mau mengikuti aturan kita".

Di Mitos Penyakil Mental , Szasz membuat perbedaan penting: penyakit adalah sesuatu yang terjadi pada tubuh tanpa persetujuan. Perilaku adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang dengan tujuan.

Orang yang berbicara sendiri di jalan bukan karena otaknya rusak. Ia sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat oleh kita. Itu adalah perilaku komunikasi, bukan penyakit. Orang yang menolak makan bukan karena lambungnya sakit. Ia menolak makan karena ia sedang protes. Itu adalah perilaku politik, bukan penyakit.

Tentu saja ini satir yang menyakitkan. Karena kita semua pernah merasa tertekan, cemas, dan ingin menyerah. Dan kita ingin ada nama untuk penderitaan kita. Kita ingin dokter bilang, "Kamu sakit, ini obatnya." Itu jauh lebih mudah daripada dokter bilang, "Kamu tidak sakit, kamu hanya tidak tahu cara menjalani hidup."

Szasz bukan bilang penderitaan itu tidak nyata. Szasz bilang penderitaan itu nyata, tapi bukan penyakit. Sama seperti kemiskinan itu nyata, tapi bukan penyakit. Kebodohan itu nyata, tapi bukan penyakit. Perceraian itu nyata, tapi bukan penyakit.

Mitos penyakit mental adalah mitos yang nyaman. Ia membebaskan kita dari tanggung jawab. Kalau kita depresi, bukan salah kita. Itu salah otak kita. Kalau kita marah-marah, bukan salah kita. Itu salah hormon kita.

Padahal dalam teori perilaku pribadi, manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas perbuatannya. Ia bisa memilih untuk menjadi lebih baik, atau memilih untuk menjadi lebih buruk. Ia bisa memilih untuk mengubah cara hidupnya, atau memilih untuk tetap dalam penderitaannya.

Psikiatri memberi kita pil untuk melupakan masalah hidup. Szasz memberi kita cermin untuk melihat masalah hidup. Dan cermin itu jauh lebih menakutkan daripada pil.

 

Editor: Dar Edi Yoga