Sabtu, 07 November 2026 | 22:10
COMMUNITY

Masa Depan Bulutangkis Indonesia Ada di Daerah, Ricky Soebagdja Dukung Gerakan PB Cakra Champ

Masa Depan Bulutangkis Indonesia Ada di Daerah, Ricky Soebagdja Dukung Gerakan PB Cakra Champ
Sekretaris Jenderal PBSI, Ricky Achmad Soebagdja foto bersama di PB Cakra Champ (Dok Melva)

ASKARA - Masa depan kejayaan bulutangkis Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada klub-klub besar di kota. Potensi atlet muda tersebar hingga pelosok Nusantara dan membutuhkan kesempatan pembinaan yang merata. Gagasan inilah yang mendapat sambutan positif Sekretaris Jenderal PBSI, Ricky Achmad Soebagdja, terhadap gerakan PB Cakra Champ mengembangkan youth badminton development di seluruh Indonesia.

Indonesia memiliki wilayah luas dengan potensi bibit atlet bulutangkis yang melimpah. Namun, tidak semua daerah memiliki akses pembinaan, pelatih, kurikulum, dan fasilitas yang memadai.

Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Ricky ketika menerima audiensi Pengurus Besar (PB) Cakra Champ di kantor PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, pada pertengahan Oktober 2026.

Ricky menyambut positif inisiatif PB Cakra Champ yang ingin memperluas pembinaan dan pencarian bakat atlet muda hingga berbagai wilayah Indonesia.

“Kita bangsa besar. Banyak sekali bibit atlet bulutangkis yang tersebar di seluruh wilayah. Hanya saja, pembinaannya memang belum maksimal,” ujar Ricky.

Dalam pertemuan tersebut, Ricky didampingi Arief Mizan dari Bidang Teknologi Informasi dan Riset & Pengembangan PBSI. Sementara PB Cakra Champ diwakili Ketua Roso Daras dan Pembina Rizki Yulian.

KURIKULUM DAN STANDARISASI PEMBINAAN

Audiensi tersebut juga menindaklanjuti komunikasi PB Cakra Champ dengan Ketua Umum PBSI, Mohammad Fadil Imran. Atas arahan Ketua Umum, Roso Daras kemudian berdiskusi dengan Ricky untuk membahas kebutuhan teknis pengembangan pembinaan atlet.

Salah satu perhatian utama adalah penyusunan kurikulum dan silabus pelatihan yang terstandarisasi. Hal ini dinilai penting karena PB Cakra Champ memiliki jaringan tempat latihan di sejumlah daerah yang membutuhkan pedoman pembinaan seragam dan terukur.

“Salah satu concern kami adalah kurikulum dan silabus pelatihan. Karena PB Cakra Champ memiliki banyak tempat latihan di banyak daerah, diperlukan standardisasi kurikulum dan silabus. Karena itu, kami mohon arahan dan rekomendasi direktur teknik terkait hal tersebut,” kata Roso.

Ricky mengungkapkan, PBSI saat ini juga tengah menyelesaikan kurikulum pelatihan. Karena itu, gagasan PB Cakra Champ dinilai sejalan dengan agenda pembenahan pembinaan yang sedang dikerjakan federasi.

“Jadi pas sekali ini momentumnya. Kita sedang membicarakan persoalan yang sama. Terkait sosok yang memenuhi kualifikasi sebagai direktur teknik atau pembinaan prestasi, nanti kami bahas terlebih dahulu bersama teman-teman, tentang siapa saja yang bisa kami rekomendasikan,” ujar peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996 tersebut.

BELAJAR DARI TRADISI KLUB BESAR

Pembahasan kemudian berkembang pada pentingnya pembinaan atlet usia muda secara berjenjang dan berkelanjutan.

Selama ini, klub-klub besar seperti Djarum, Jaya Raya, dan Exist dikenal memiliki tradisi pembinaan usia dini yang kuat. Mereka mampu mengembangkan pemain sejak tahap awal hingga menembus persaingan nasional dan internasional.

Keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang fasilitas latihan dan kualitas pelatih, tetapi juga manajemen organisasi, kesinambungan pendanaan, serta jaringan kemitraan.

Bahkan, klub-klub besar turut mengembangkan pola perekrutan pemain potensial dari klub-klub kecil di berbagai daerah.

Model tersebut menunjukkan bahwa pembinaan atlet membutuhkan ekosistem yang kuat. Tidak cukup hanya menyediakan lapangan dan pelatih, tetapi juga harus ditopang sistem manajemen dan kerja sama yang mampu menjaga keberlanjutan program.

BULUTANGKIS, WARISAN KEBANGGAAN BANGSA

Bagi Indonesia, bulutangkis bukan sekadar cabang olahraga. Di dalamnya melekat sejarah panjang, kebanggaan nasional, dan perjuangan para atlet yang telah mengharumkan nama Merah Putih di panggung dunia.

Roso Daras mengingatkan, tradisi juara bulutangkis Indonesia memiliki perjalanan panjang sejak era Hindia Belanda pada 1930-an, hingga pembentukan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) pada 1951 di Bandung.

Sejarah tersebut melahirkan nama-nama besar seperti Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Minarni, Imelda Wiguna, hingga Susi Susanti.

Mereka bukan sekadar atlet berprestasi, melainkan simbol perjuangan dan kebanggaan bangsa yang membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan kekuatan bulutangkis dunia.

Tradisi juara itu harus terus dijaga. Namun, mempertahankan kejayaan tidak cukup dengan mengandalkan sejarah dan prestasi masa lalu. Diperlukan regenerasi yang kuat melalui pembinaan sejak usia dini.

TALENT SCOUTING DARI SABANG SAMPAI ROTE

Ricky dan Roso Daras memiliki pandangan yang sama bahwa pembinaan usia dini merupakan fondasi penting untuk menjaga kesinambungan prestasi bulutangkis Indonesia.

Karena itu, pencarian bakat atau talent scouting perlu diperluas agar tidak hanya terpusat di kota-kota besar dan klub-klub yang sudah mapan.

PB Cakra Champ ingin membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak muda di berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan dan mengembangkan potensinya.

“Selama ini pembinaan usia dini sudah bagus. Yang kami lakukan dengan memperluas talent scouting dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Rote, lebih kepada tekad pemerataan,” ujar Roso.

Gagasan tersebut membawa pesan penting: calon juara tidak selalu lahir dari pusat-pusat pembinaan besar. Mereka bisa tumbuh dari kota kecil, desa, bahkan wilayah terluar Indonesia, selama memperoleh kesempatan, pendampingan, dan sistem pembinaan yang tepat.

Semakin luas pencarian bakat dilakukan, semakin besar pula peluang Indonesia menemukan generasi penerus para juara dunia.

Pada akhirnya, menjaga kejayaan bulutangkis Indonesia bukan hanya tentang mempertahankan medali dan gelar juara. Lebih dari itu, membangun sistem pembinaan yang adil dan merata agar setiap anak bangsa, dari Sabang sampai Rote, memiliki kesempatan yang sama untuk mengibarkan Merah Putih di panggung dunia.

Sebab, masa depan bulutangkis Indonesia tidak hanya berada di pusat-pusat pembinaan besar. Masa depan itu juga tumbuh di daerah, menunggu ditemukan, dibina, dan diberi kesempatan untuk menjadi juara. 

 

Editor: Dar Edi Yoga