ASKARA - Hati manusia senantiasa bergerak menuju sesuatu yang dianggap paling berharga. Ada yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar kekayaan, kedudukan, dan pujian manusia. Ada pula yang menjadikan dunia sebagai sarana beribadah dan akhirat sebagai tujuan utama. Sesungguhnya, ke mana hati diarahkan, ke sanalah langkah kehidupan mengikuti, dan dari sanalah manusia belajar memahami makna keberhasilan sejati.
Ungkapan tersebut mengandung pelajaran mendalam tentang arah hati, kesungguhan niat, dan tujuan hidup seorang hamba. Ketika dunia menjadi pusat perhatian, pikiran, tenaga, dan waktunya akan banyak tercurah untuk memenuhi keinginan duniawi. Sebaliknya, ketika akhirat menjadi tujuan utama, seseorang akan berusaha menjadikan setiap aktivitasnya bernilai ibadah, tanpa harus meninggalkan tanggung jawab kehidupan di dunia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surah Asy-Syura ayat 20:
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Artinya: "Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat, akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya. Dan barang siapa menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat." (QS. Asy-Syura: 20).
Ayat ini mengajarkan bahwa niat menentukan arah perjuangan manusia. Allah memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berusaha, tetapi keuntungan dunia tidak boleh membuat manusia melupakan kehidupan setelah kematian. Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, dan pujian manusia dapat menghilang. Namun, amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas menjadi bekal yang diharapkan mendatangkan keselamatan di akhirat.
Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang pentingnya menjadikan akhirat sebagai orientasi kehidupan. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah nomor 4105, beliau bersabda:
مَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ
Artinya: "Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan menjadikan kemiskinan di hadapan matanya, mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebatas yang telah ditetapkan baginya." (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini bukan janji bahwa orang yang berorientasi pada akhirat pasti kaya secara materi atau terbebas dari kesulitan. Pesan utamanya adalah ketenteraman batin, kecukupan hati, dan kemampuan menata kehidupan dengan bijaksana. Orang yang selalu merasa kurang akan sulit menikmati nikmat, sedangkan orang yang bersyukur mampu menemukan kecukupan di tengah keterbatasan.
Islam tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas: 77).
Ayat ini memberikan keseimbangan yang indah. Bekerja, mencari nafkah halal, menuntut ilmu, membangun usaha, merawat keluarga, dan membantu sesama merupakan bagian dari tanggung jawab kehidupan. Semuanya dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, serta tidak melalaikan kewajiban kepada Allah.
Karena itu, marilah kita memeriksa kembali isi hati. Apakah kita bekerja hanya demi pujian? Apakah kita bersedih berlebihan ketika kehilangan harta, tetapi tidak merasa kehilangan ketika meninggalkan salat? Apakah kita begitu sibuk mengejar pengakuan manusia hingga lupa memperbaiki hubungan dengan Allah?
Hati yang terarah kepada akhirat akan melahirkan kejujuran ketika berusaha, kerendahan hati ketika berhasil, kesabaran ketika diuji, dan rasa syukur ketika menerima nikmat. Ia tidak menjadikan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan, juga tidak menganggap kemiskinan sebagai kehinaan. Baginya, kemuliaan terletak pada ketakwaan dan kesungguhan menjalani amanah kehidupan.
Dunia adalah ladang tempat menanam, sedangkan akhirat merupakan tempat menuai hasilnya. Jangan biarkan kesibukan mengumpulkan dunia mengeringkan hati dari zikir, mengurangi kepedulian kepada sesama, dan menjauhkan kita dari petunjuk Ilahi. Luruskan niat, perbaiki amal, dan jadikan setiap langkah sebagai jalan mendekat kepada Allah. Semoga hati kita tidak diperbudak dunia, tetapi mampu mengelola dunia dengan bijaksana demi meraih rida-Nya dan kebahagiaan abadi di akhirat.