ASKARA - Ada kerinduan yang tidak selalu bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika seseorang datang ke hadapan Bunda Maria. Ada doa yang dipanjatkan dalam keheningan, rasa syukur yang mengalir dari hati, serta harapan yang dipercayakan kepada Tuhan.
Semangat itulah yang membawa umat Lingkungan Yohanes Maria Vianney dan Lingkungan Santo Hermes, BSD, Tangerang, melakukan perjalanan ziarah ke Gua Maria Cisantana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).
Rombongan berangkat bersama dari Vanya Park, BSD. Perjalanan ini bukan sekadar bepergian menuju tempat ziarah, melainkan kesempatan untuk sejenak melepaskan diri dari rutinitas, mendekatkan hati kepada Tuhan, sekaligus mempererat persaudaraan sebagai satu keluarga dalam iman.
Di Gua Maria Cisantana, setiap umat datang membawa cerita dan pergumulan hidup masing-masing. Ada yang membawa doa untuk keluarga, memohon kesehatan, menyerahkan persoalan hidup, maupun mengucap syukur atas berkat Tuhan yang telah diterima.
Di hadapan Bunda Maria, mereka menemukan ruang untuk berdoa, merenung, dan memperbarui harapan. Dalam kesederhanaan doa, umat diajak kembali menyadari bahwa Tuhan senantiasa hadir dan menyertai setiap langkah kehidupan.
Bagi umat Katolik, devosi kepada Bunda Maria bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan untuk semakin mengenal dan mengasihi Yesus Kristus. Melalui keteladanan Maria yang rendah hati, taat, dan setia kepada kehendak Allah, umat diajak semakin teguh menjalani panggilan iman.
Usai ziarah, perjalanan rohani dilanjutkan ke Gereja Santo Yusuf, Cirebon, untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Dalam perayaan misa, seluruh pengalaman perjalanan, sukacita, pergumulan, dan ujud doa dipersembahkan kepada Tuhan.
Ziarah bersama dua lingkungan ini menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya tumbuh melalui doa pribadi, tetapi juga melalui kebersamaan, saling menguatkan, dan kepedulian antarsesama.
Pada akhirnya, perjalanan ziarah bukan semata-mata tentang jarak yang ditempuh atau tempat yang dikunjungi. Lebih dari itu, ada perjalanan batin yang ingin diperbarui: hati yang semakin bersyukur, iman yang semakin teguh, dan kasih yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab, pulang dari tempat ziarah bukan berarti perjalanan iman berakhir. Justru di sanalah perjalanan sesungguhnya dimulai: membawa damai, kasih, dan terang Kristus ke tengah keluarga serta sesama.