ASKARA - Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah untuk dikenang, melainkan panggilan untuk meneruskan perjuangan melalui tindakan nyata. Cinta Tanah Air menemukan maknanya ketika persatuan dirawat, martabat manusia dihormati, dan kepentingan bersama ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Jejak Sejarah, Denyut Kebangsaan
Kehadiran Gereja Katolik di Batavia memperoleh landasan kelembagaan pada 1807, ketika Tahta Suci mendirikan Prefektur Apostolik Batavia. Lebih dari satu abad kemudian, sejarah mencatat sebuah peristiwa yang menyimpan makna simbolis: rapat pertama Kongres Pemuda II, pada 27 Oktober 1928, berlangsung di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Perhimpunan Pemuda Katolik, di kawasan Waterlooplein, sekarang Lapangan Banteng, Jakarta. Gedung tersebut berada di dekat Gereja Katedral Jakarta.
Di tempat itulah para pemuda dari berbagai latar belakang membicarakan persatuan dan kebangsaan Indonesia. Sehari sebelum ikrar Sumpah Pemuda diputuskan, benih kesadaran tentang satu Tanah Air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan telah menemukan ruang perjumpaannya.
Pertautan sejarah ini bukan sekadar kebetulan geografis. Ia menjadi pengingat bahwa ruang-ruang perjumpaan, termasuk yang disediakan oleh Gereja, dapat ikut menyumbang bagi tumbuhnya kesadaran kebangsaan. Di sana, perbedaan tidak dihapus, tetapi dipertemukan dalam cita-cita yang lebih besar: Indonesia.
Dalam terang iman, kita dapat membaca jejak sejarah tersebut sebagai kesempatan untuk merefleksikan karya Roh Kudus yang menggerakkan manusia menuju persaudaraan, tanpa mengabaikan kenyataan sejarah dan peran para pelaku perjuangan itu sendiri.
Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, kemudian menegaskan sebuah pilihan mendasar: bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Para pemuda mewariskan lebih dari sekadar ikrar. Mereka menanamkan kesadaran bahwa persatuan merupakan pilihan yang harus diperjuangkan sekaligus tanggung jawab yang mesti dipelihara.
Warisan yang Diuji Zaman
Hampir satu abad berlalu. Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi pertanyaan mendasarnya tetap sama: sejauh mana cita-cita persatuan itu sungguh-sungguh hidup dalam perilaku kita?
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Besarnya proporsi penduduk usia produktif, terutama generasi muda, membuka peluang bagi kemajuan bangsa. Namun, peluang demografis tidak dengan sendirinya melahirkan kemajuan. Masa depan Indonesia bergantung pada kualitas manusia, kejernihan nurani, kecakapan berpikir, dan kesediaan bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya.
Di sinilah pendidikan karakter menemukan relevansinya. Korupsi, kesenjangan sosial, ketidakadilan, kerusakan lingkungan hidup, serta persaingan ekonomi yang mengabaikan kepentingan bersama merupakan tantangan nyata bagi cita-cita kebangsaan. Egosentrisme dalam penggunaan kekuasaan, pemusatan kepentingan pada kelompok tertentu, dan persaingan geopolitik yang semakin tajam juga menuntut masyarakat memiliki daya kritis dan kematangan moral.
Kita tidak cukup hanya mengagumi keberanian para pemuda pada 1928. Kita perlu menguji diri: apakah semangat persatuan masih menjadi dasar tindakan, atau justru berhenti sebagai slogan? Apakah perbedaan menjadi kekuatan untuk bekerja sama, atau diperalat untuk mempertajam keterbelahan?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi zaman, melainkan untuk membangun kesadaran baru. Sebab, nasionalisme yang sehat tidak menutup mata terhadap persoalan bangsa. Sebaliknya, cinta Tanah Air mendorong keberanian untuk mengenali masalah, mengoreksi kekeliruan, dan memperbaiki keadaan.
Dari Ikrar Menuju Tindakan
Cinta Tanah Air tidak cukup diukur dari kata-kata, simbol, atau kemeriahan upacara. Cinta itu menemukan maknanya dalam kesediaan melayani, menjaga persaudaraan, menghormati martabat manusia, memperjuangkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan bersama.
Bagi generasi muda dan mahasiswa, warisan Sumpah Pemuda merupakan undangan untuk mengembangkan pengetahuan yang berpihak pada kemanusiaan, keberanian berpikir kritis, integritas, serta kepedulian sosial. Bagi mereka yang memilih jalan pengabdian sebagai aparatur negara, termasuk prajurit TNI dan anggota Polri, semangat tersebut menemukan bentuknya dalam profesionalisme, disiplin, kesetiaan kepada konstitusi, penghormatan terhadap hukum, dan pelayanan kepada masyarakat.
Pengabdian tidak kehilangan makna ketika dilakukan tanpa sorotan. Justru dalam kesetiaan menjalankan tugas, keberanian menolak penyimpangan, dan ketulusan melindungi sesama, cinta Tanah Air memperoleh wujud yang konkret.
Di sinilah kepemimpinan menjadi penting. Pemimpin tidak cukup menguasai kewenangan; ia harus mampu mempertanggungjawabkan penggunaannya. Jabatan bukan kesempatan untuk mengutamakan diri, melainkan kepercayaan untuk melayani. Kekuatan bukan alasan untuk merendahkan pihak lain, melainkan tanggung jawab untuk melindungi martabat manusia.
Iman yang Menggerakkan Pengabdian
Gereja Katolik memiliki kekayaan refleksi tentang kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Melalui ajaran serta kesaksian kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Fransiskus, hingga Leo XIV, Gereja terus mengingatkan dunia akan martabat manusia, pentingnya solidaritas, panggilan menuju perdamaian, dan tanggung jawab merawat kehidupan bersama.
Keempat paus tersebut hadir dalam konteks zaman dan tekanan yang berbeda. Namun, ajaran sosial Gereja yang mereka wartakan memberi landasan bagi refleksi tentang kepemimpinan yang berakar pada kebenaran, kasih, tanggung jawab moral, dan kebaikan bersama.
Bagi umat Katolik Indonesia, iman bukan alasan untuk menjauh dari persoalan bangsa. Iman justru memanggil umat untuk hadir, mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat, membangun persaudaraan lintas perbedaan, serta memperjuangkan tata kehidupan yang semakin manusiawi.
Dalam konteks Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), panggilan tersebut diwujudkan melalui pendampingan rohani bagi umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri. Pembinaan iman, moral, dan mental rohani bukan sekadar kegiatan keagamaan, melainkan bagian dari upaya membentuk pribadi yang matang, berintegritas, dan mampu menghayati pengabdian sebagai tanggung jawab kepada Tuhan, sesama, dan Tanah Air.
Kehadiran Gereja di lingkungan TNI dan Polri menemukan maknanya ketika kehidupan iman sungguh menjiwai pelaksanaan tugas. Kesetiaan kepada Tuhan semestinya berjalan seiring dengan penghormatan terhadap martabat manusia, tanggung jawab profesional, dan komitmen terhadap kepentingan bangsa.
Merawat Sejarah, Menggerakkan Nurani
Memperingati Sumpah Pemuda berarti melanjutkan pekerjaan sejarah yang belum selesai. Persatuan tidak hadir dengan sendirinya. Ia membutuhkan manusia yang bersedia mendengarkan, mengendalikan kepentingan pribadi, menghargai perbedaan, dan bekerja bersama demi masa depan yang lebih baik.
Karena itu, refleksi kebangsaan perlu diterjemahkan menjadi gerakan moral dan sosial: membangun budaya antikorupsi mulai dari diri sendiri, memperluas kepedulian kepada sesama yang rentan, merawat lingkungan hidup, menolak diskriminasi, serta membiasakan diri menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang bermartabat.
Langkah-langkah itu mungkin sederhana, tetapi memiliki daya ubah ketika dilakukan secara konsisten dan bersama-sama. Pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas; ia tumbuh dalam keteladanan. Nasionalisme tidak selesai dalam pidato; ia hidup dalam pengabdian. Iman tidak cukup diucapkan; ia harus menjelma dalam tindakan kasih.
Pada akhirnya, warisan Sumpah Pemuda bukanlah beban untuk mengagungkan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Generasi 1928 telah menunjukkan bahwa perbedaan dapat dipertemukan dalam cita-cita bersama. Tugas generasi sekarang ialah membuktikan bahwa cita-cita itu tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.
Mengemban warisan sejarah cinta akan Tanah Air berarti berani mengubah ikrar menjadi tindakan, pengetahuan menjadi kebijaksanaan, dan iman menjadi pengabdian. Dari sanalah kesadaran kebangsaan bertumbuh menjadi gerakan nyata, dituntun oleh nurani yang jernih dan akal sehat, demi Indonesia yang semakin adil, bersaudara, dan bermartabat.
Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr