Oleh: Salomita Lyons
ASKARA - "Kamu itu menggerus rezekiku!"
Kalimat itu pernah dilontarkan langsung oleh salah satu bos saya ketika masih bekerja. Saya cukup terkejut mendengarnya. Bukankah hasil kerja yang baik seharusnya membuat seorang atasan bangga?
Ternyata tidak selalu.
Ada pemimpin yang justru merasa terusik ketika anak buahnya semakin pintar, semakin dikenal, dan mulai memiliki pengaruh sendiri.
Dari pengalaman sederhana itu saya belajar satu hal: tidak semua pemimpin siap melihat orang yang dibesarkannya tumbuh lebih besar.
Dalam dunia kerja kita mengenal istilah “anak emas”. Tetapi bagaimana jika anak emas itu tumbuh menjadi "anak macan?"
Semakin kuat. Semakin percaya diri. Semakin dikenal.
Dan yang paling membuat tidak nyaman: mulai memiliki daya tawar.
Di titik itulah hubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpinnya diuji.
Soeharto dan Wakil-Wakilnya
Sejarah politik Indonesia memberi banyak contoh menarik tentang bagaimana seorang pemimpin memilih orang di sekelilingnya.
Selama lebih dari tiga dekade berkuasa, Presiden Soeharto memiliki sejumlah wakil presiden dengan latar belakang dan karakter yang berbeda. Ada Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Umar Wirahadikusumah, Soedharmono, Try Sutrisno, hingga B.J. Habibie.
Apakah Soeharto sengaja memilih orang-orang yang tidak akan mengancam posisinya?
Kita tidak memiliki dasar untuk memastikan motif tersebut. Karena itu, terlalu sederhana jika sejarah mereka dibaca hanya dengan kacamata “takut disaingi”.
Tetapi ada pelajaran penting di sana: seorang pemimpin selalu berhadapan dengan pilihan tentang siapa yang diberi ruang untuk tumbuh.
Habibie menjadi contoh yang menarik. Ia bukan anak muda ketika menjadi wakil presiden. Usianya sekitar 61 tahun. Namun, kapasitas intelektual, pengalaman teknologi, dan jejaring internasionalnya membuat sosok Habibie memiliki karakter politik tersendiri.
Pada akhirnya, sejarah mencatat Habibie bukan sekadar sebagai wakil presiden. Ia menjadi presiden setelah Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998.
Artinya, orang yang semula berada di samping pemimpin bisa saja suatu hari berdiri di posisi yang berbeda.
Prabowo dan Gibran
Fenomena yang berbeda terlihat dalam politik hari ini.
Prabowo Subianto memilih Gibran Rakabuming Raka sebagai pasangan dalam Pilpres 2024. Gibran merupakan figur muda yang ketika terpilih berusia 36 tahun dan kemudian dilantik sebagai wakil presiden pada usia 37 tahun.
Ia bukan hanya memiliki usia yang relatif muda. Ia juga merupakan putra Presiden Joko Widodo, figur yang memiliki pengaruh besar dalam politik Indonesia.
Pilihan tersebut tentu memiliki konsekuensi politik.
Gibran memperoleh panggung nasional yang jauh lebih besar. Dari sana, ia memiliki kesempatan membangun pengalaman, jaringan dan basis politiknya sendiri.
Apakah suatu hari Gibran akan menjadi “anak macan”?
Belum tentu.
Apakah Prabowo melihatnya sebagai ancaman?
Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan itu.
Namun, politik memiliki hukum yang sederhana: kekuatan politik seseorang dapat berubah seiring waktu.
Wakil hari ini belum tentu menjadi wakil selamanya.
Begitu pula hubungan politik yang hari ini terlihat harmonis, belum tentu memiliki kepentingan yang sama dalam setiap momentum politik berikutnya.
Ungkapan “jangan sampai ada dua matahari” memang sering digunakan dalam politik.
Tetapi menurut saya, masalahnya bukan apakah ada dua matahari.
Masalah sebenarnya adalah apakah pemimpin cukup besar untuk membiarkan orang lain ikut bersinar.
Dedi Mulyadi dan Fenomena Anak Macan dari Daerah
Nama Dedi Mulyadi juga menarik diamati.
Sebagai Gubernur Jawa Barat, Dedi memiliki gaya komunikasi politik yang khas dan basis popularitas sendiri. Namanya juga mulai muncul dalam perbincangan mengenai peta politik nasional menuju Pilpres 2029.
Survei dapat berubah. Konstelasi partai bisa bergeser. Kandidat bisa bertambah atau berkurang.
Karena itu, terlalu dini menyimpulkan siapa yang akan maju, siapa yang menjadi pasangan, dan siapa yang akan menjadi pesaing.
Termasuk wacana mengenai kemungkinan Dedi dipasangkan dengan Gibran.
Namun, justru di sinilah menariknya politik.
Dedi membangun pengaruh melalui kepemimpinan daerah. Gibran berada di pusat kekuasaan sebagai wakil presiden. Keduanya memiliki jalur politik dan karakter yang berbeda.
Jika kelak mereka berada dalam satu barisan, tentu menjadi kekuatan.
Tetapi jika suatu saat mereka berada dalam arena yang sama dengan kepentingan berbeda, itu pun merupakan konsekuensi alamiah politik.
Begitu pula berbagai spekulasi mengenai arah politik Prabowo, hubungan Gerindra dengan tokoh-tokoh lain, maupun kemungkinan koalisi menuju 2029.
Semuanya masih dinamis.
Jangan mengubah kemungkinan menjadi kepastian.
Tetapi jangan pula mengabaikan kemungkinan hanya karena hari ini hubungan politik terlihat baik-baik saja.
Ketika Pemimpin Takut Tersaingi
Kembali ke dunia kerja.
Saya pernah merasakan sendiri bagaimana keberhasilan anak buah bisa dipandang sebagai ancaman.
Padahal, bukankah seorang pemimpin seharusnya merasa berhasil ketika orang yang dibinanya mampu melampaui dirinya?
Kalau seorang guru melahirkan murid yang lebih hebat, bukankah itu prestasi?
Kalau seorang pelatih melahirkan atlet yang kemudian menjadi juara, bukankah itu kebanggaan?
Kalau seorang pemimpin melahirkan kader yang kemudian mampu memimpin lebih besar, bukankah itu warisan?
Masalah muncul ketika pemimpin justru berpikir:
“Kalau dia terlalu hebat, posisi saya terancam.”
Maka anak buah mulai dibatasi.
Popularitasnya diredam.
Prestasinya dikecilkan.
Pengaruhnya dicurigai.
Bahkan keberhasilannya dianggap sebagai ancaman terhadap pemimpinnya.
Pada titik itu, organisasi sebenarnya sedang menggali lubang untuk dirinya sendiri.
Sebab pemimpin yang hanya berani membesarkan orang-orang yang tidak mungkin melampauinya pada akhirnya akan dikelilingi orang-orang yang memang tidak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh.
Loyalitas Bukan Berarti Harus Meredup
Tentu, anak buah juga memiliki tanggung jawab.
Loyalitas tetap penting. Etika harus dijaga. Jangan sampai kemampuan berubah menjadi kesombongan. Jangan sampai popularitas membuat seseorang lupa siapa yang dahulu memberinya kesempatan.
Tetapi loyalitas tidak berarti harus terus-menerus mengecilkan diri agar atasan tetap terlihat besar.
Loyalitas bukan seni meredupkan diri.
Loyalitas adalah kemampuan bekerja bersama tanpa kehilangan integritas.
Begitu pula seorang pemimpin.
Ia tidak harus takut ketika anak buahnya menjadi lebih dikenal. Justru di situlah kualitas kepemimpinan terlihat.
Pemimpin yang percaya diri akan berkata:
“Silakan tumbuh. Kalau suatu hari kamu lebih hebat daripada saya, berarti saya berhasil.”
Sebaliknya, pemimpin yang merasa harus selalu menjadi pusat perhatian akan melihat setiap orang berbakat sebagai potensi pesaing.
Anak Macan Harus Dibesarkan
Memelihara "anak macan" memang berisiko.
Ia bisa tumbuh kuat.
Ia bisa memiliki suara sendiri.
Ia bisa memiliki pengikut.
Dan suatu hari, ia mungkin tidak lagi membutuhkan kandang yang dibuat oleh orang yang membesarkannya.
Tetapi bukankah memang itu tujuan membangun manusia?
Pemimpin sejati bukan orang yang memastikan dirinya selalu menjadi yang paling bersinar.
Pemimpin sejati adalah orang yang mampu menyalakan cahaya orang lain tanpa takut cahayanya sendiri menjadi redup.
Dalam politik, kita belum tahu bagaimana hubungan Prabowo, Gibran, Dedi Mulyadi dan tokoh-tokoh lainnya menjelang 2029. Terlalu dini menentukan siapa menjadi pasangan, siapa menjadi pesaing, atau siapa yang akan berada di dalam dan di luar kekuasaan.
Tetapi satu hukum politik hampir selalu berlaku:
orang yang hari ini berada di belakang kita, suatu hari bisa berjalan sejajar dengan kita.
Bahkan bisa mendahului kita.
Karena itu, jangan takut membesarkan “anak macan”.
Yang jauh lebih berbahaya adalah pemimpin yang sengaja membesarkan anak kucing karena takut suatu hari ada yang mengaum lebih keras darinya.
Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukan seberapa lama ia mampu mempertahankan dirinya di puncak.
Melainkan seberapa banyak orang hebat yang berhasil ia lahirkan sebelum turun dari sana.