ASKARA - Di tengah riuhnya aktivitas Car Free Day (CFD) di kawasan Kapsul Waktu, depan Kantor Bupati Merauke, Sabtu (24/10/2026), aroma olahan sagu mengundang perhatian warga.
Di antara deretan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tampak Mama Lidia Mikan, perempuan asli Suku Mandobo dari Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, menawarkan sejumlah produk olahan sagu buatannya.
Ada Sagu Sep Kelapa dan Sagu Sep Ayam yang menjadi salah satu produk andalannya. Bagi Mama Lidia, berjualan di arena CFD bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan pangan lokal Papua kepada masyarakat yang lebih luas.
Arena CFD yang digelar Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Merauke setiap Sabtu dan Minggu menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus bertemu langsung dengan konsumen.
Khusus bagi mama-mama Orang Asli Papua (OAP), ruang tersebut menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa bahan pangan lokal seperti sagu dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Setiap pekan, sekitar 25 pelaku UMKM turut meramaikan kawasan trotoar Kapsul Waktu yang juga menjadi salah satu pusat aktivitas olahraga masyarakat Merauke.
Di balik produk sagu seharga Rp25.000 per bungkus yang dijajakan Mama Lidia, terdapat cerita tentang keluarga, ketekunan, dan keberanian mencoba.
Sehari-hari, perempuan lima anak ini bekerja sebagai tenaga kesehatan di RSUD Merauke. Di sela kesibukannya, ia mengembangkan keterampilan memasak dan mengolah sagu bersama tiga anak perempuannya.
Usaha tersebut mulai dirintis sejak 2021 dengan mengusung nama Trio Papua Sagu.
“Awalnya hanya coba-coba mengeksplor bakat memasak. Lama-lama saya tertarik untuk serius mendalaminya. Ternyata bisa menghasilkan,” ujar Mama Lidia kepada Askara.
Dari percobaan sederhana di rumah, produk sagu itu perlahan berkembang. Salah satu produk yang mendapat perhatian adalah Sagu Sep, olahan yang kemudian ikut memperluas perjalanan usaha Mama Lidia.
Ketua DPD Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Papua Selatan, Fannie Hetharia, termasuk yang merasakan langsung produk olahan tersebut.
Menurut Fannie, produk Sagu Sep buatan Mama Lidia memiliki keunggulan dari sisi rasa, ukuran, maupun harga. Karena itu, DPD IWAPI Papua Selatan kemudian turut merangkul Mama Lidia sebagai bagian dari binaan bidang ekonomi kreatif.
“Kami bangga bisa saling membantu sesama perempuan untuk saling mendukung. Alasan kami merangkul Mama Lidia karena beliau dapat menjadi sosok inspiratif bagi mama-mama Papua lainnya,” kata Fannie.
Sagu dari Boven Digoel
Ada proses panjang sebelum tepung sagu berubah menjadi produk siap dipasarkan.
Mama Lidia membawa bahan tepung sagu dari Kabupaten Boven Digoel. Bersama anak-anaknya, bahan tersebut diolah melalui sejumlah tahapan, mulai dari perendaman, penirisan, penjemuran, hingga disangrai dua kali.
Setelah itu, sagu diayak secara manual sebelum dikemas menjadi produk yang siap dipasarkan.
Trio Papua Sagu juga telah memiliki label halal MUI, menjadi salah satu modal penting dalam memperluas kepercayaan konsumen.
Dalam satu bulan, Mama Lidia mampu memproduksi sekitar 200 bungkus tepung sagu berukuran 500 gram.
Pemasarannya tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung. Produk Trio Papua Sagu juga dipasarkan secara daring dan telah menjangkau konsumen di Yogyakarta hingga Jakarta.
Untuk pasar lokal, produk tersebut dipasarkan melalui sejumlah supermarket dan toko oleh-oleh di Merauke.
Perjalanan usaha Mama Lidia juga tidak berjalan sendirian. Ia mendapatkan dukungan dan pendampingan dari Rumah BUMN, Dinas Perindagkop Kabupaten Merauke, Dinas terkait di Provinsi Papua Selatan, serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Merauke.
Dari Sagu, Menopang Keluarga
Bagi Mama Lidia, keberhasilan UMKM yang dirintis bersama anak-anaknya memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar angka penjualan.
Usaha tersebut perlahan menjadi sumber tambahan pendapatan keluarga sekaligus ruang bagi anak-anaknya untuk belajar bekerja, mengolah produk, dan mengenal dunia usaha.
“Pendapatan dari UMKM ini sangat membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan bisa untuk menyekolahkan anak-anak,” tutur Mama Lidia dengan semangat.
Kisah Mama Lidia memperlihatkan bagaimana bahan pangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Papua dapat menjadi kekuatan ekonomi keluarga ketika diolah dengan kreativitas dan ketekunan.
Dari Boven Digoel, sagu dibawa ke Merauke. Dari dapur sederhana, produk itu kemudian bergerak ke pasar yang lebih luas.
Bagi Mama Lidia, setiap bungkus sagu yang terjual bukan hanya soal keuntungan. Di dalamnya ada kerja bersama dengan anak-anak, ada upaya menjaga pangan lokal, dan ada harapan agar semakin banyak perempuan Papua berani mengembangkan potensi yang mereka miliki.
Car Free Day pun akhirnya bukan sekadar tempat berolahraga. Bagi Mama Lidia dan para pelaku UMKM lainnya, trotoar Kapsul Waktu menjadi panggung kecil untuk membuktikan bahwa produk lokal, jika dirawat dengan ketekunan, dapat berjalan semakin jauh.