Senin, 26 Oktober 2026 | 12:19
OPINI

Revolusi Petani Melawan Pajak

Revolusi Petani Melawan Pajak
Ilustrasi revolusi petani melawan pajak (Dok Askara)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Tahun 1381, Inggris terbakar. Bukan karena perang melawan negara lain, tapi karena perang melawan rajanya sendiri: Richard II. Nama pemberontakan itu dalam buku sejarah disebut Peasants' Revolt atau Revolusi Petani. Tapi ini bukan sekadar pemberontakan. Ini adalah revolusi rakyat pertama di Inggris.

Penyebabnya satu: pajak. Disusul 1773  Pesta Teh Boston melawan pajak teh yang menyebabkan kopi popular di Amerika dan 1775 Perang Kemerdekaan Amerika Serikat dari belenggu penjajahan Inggris yang kemudian 1789 mengobarkan awal Revolusi Prancis.

Sejak abad ke-14, Inggris berperang melawan Prancis dalam Perang Seratus Tahun. Perang itu mahal. Raja membutuhkan dana. Raja Edward III sudah wafat. Digantikan Richard II yang baru berusia 14 tahun. Para penasihatnya kehabisan gagasan. Lalu mereka menemukan cara paling gampang : memalak rakyat miskin.

Pada tahun 1377, 1379, dan 1380, pemerintah memberlakukan Poll Tax, pajak kepala. Setiap orang di atas 15 tahun wajib membayar jumlah yang sama: 4 pence di tahun 1380, naik tiga kali lipat dari sebelumnya. Kaya dan miskin bayar sama. Bangsawan dan petani bayar sama.

Padahal sebelumnya, pajak tidak pernah dipikul kaum petani seperti ini. Pajak tradisional Inggris dibebankan kepada tanah dan perdagangan. Kaum petani yang tidak punya tanah hanya membayar upeti kepada tuan tanahnya. Pajak kerajaan adalah urusan bangsawan, gereja, dan pedagang kaya.

Poll Tax mengubah semua itu. Untuk pertama kali, negara langsung masuk ke gubuk petani dan menarik uang dari mulut anak-anak mereka. Padahal saat itu Inggris baru saja dilanda Black Death 1348, pagebluk yang membunuh 40% penduduk. Petani kekurangan tenaga kerja. Harga pangan naik. Upah tidak naik karena ada undang-undang yang melarang petani minta upah lebih tinggi.

Mereka lapar, lelah, dan kemudian dipajaki.

Meletuslah amarah di desa-desa Essex dan Kent pada Mei 1381. Pemimpinnya adalah Wat Tyler, seorang veteran perang, dan John Ball, pendeta radikal yang tersohor dengan khotbahnya: "When Adam delved and Eve span, who was then the gentleman?"  . Kalimat itu mengguncang. Artinya, semua manusia sama di mata Tuhan. Tidak ada yang lahir untuk jadi tuan dan budak.

Pada 12 Juni 1381, 50.000 petani berjalan kaki ke London. Mereka membakar penjara, menghancurkan arsip pajak, membunuh pejabat pemungut pajak, dan membuka gerbang penjara. Raja Richard II, yang baru berusia 14 tahun, ketakutan. Ia menemui mereka di Mile End dan berjanji akan menghapus pajak, menghapus perbudakan, dan membagi tanah.

Petani percaya. Wat Tyler maju untuk berunding di Smithfield pada 15 Juni. Tapi walikota London menikamnya dari belakang. Tyler tewas. Raja muda itu kemudian berteriak, "Aku pemimpin kalian! Ikuti aku!" dan membubarkan massa. Begitu petani kembali ke desa, janji raja dibatalkan. Para pemimpin pemberontakan diburu dan digantung. John Ball digantung, dipenggal, dan kepalanya dipajang di gerbang kota.

Revolusi petani melawan pajak gagal secara politik. Tapi ia berhasil secara sejarah.

Poll Tax tidak pernah diberlakukan lagi selama 600 tahun. Baru Margaret Thatcher berani mengulanginya pada 1990, dan ia pun jatuh karena pajak yang sama. Kedua, pemberontakan ini menjadi pelajaran pertama bagi Inggris bahwa rakyat tidak bisa diperas tanpa batas. Raja bisa berkuasa, tapi bukan atas pajak yang tidak adil.

Richard II mungkin menang di Smithfield. Tapi rakyat Inggris memenangkan satu hal: mereka membuktikan bahwa pajak yang semula tidak dipikul rakyat tidak bisa begitu saja dibebankan ke rakyat. Karena ketika pajak menjadi penindasan, revolusi adalah jawaban paling masuk akal.

Semoga yang abad XIV terjadi di Inggris menjadi pelajaran bagi penguasa abad XXI di Indonesia untuk jangan sewenang-wenang kreatif membebani rakyat dengan pajak . Jangan langkahi ambang batas kesabaran rakyat.

 

Editor: Onaria Fransisca