Ketika Kalender Hujan Indonesia Mulai Bergeser
ASKARA - Kemarau belum selesai, tetapi Indonesia sudah menghadapi persoalan berikutnya: musim hujan yang datang lebih lambat. El Niño sangat kuat yang beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) bukan sekadar istilah klimatologi. Keduanya sedang mengubah ritme air yang menentukan kapan petani menanam, waduk terisi, hutan terjaga dari api, dan masyarakat memperoleh air.
BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur dari rerata klimatologis di 529 Zona Musim, mencakup 61,08 persen wilayah Indonesia. Saat prediksi itu diumumkan, 556 ZOM atau 61,91 persen daratan Indonesia masih mengalami musim kemarau. Sejumlah titik pengamatan bahkan mencatat lebih dari 60 hari tanpa hujan.
Sinyalnya kuat. Pemantauan BMKG pada Dasarian II September mencatat anomali suhu muka laut Niño3.4 mencapai +2,97 derajat Celsius. Indeks ENSO Juli-Agustus-September berada di +2,63, menunjukkan El Niño sangat kuat. Pada saat bersamaan, indeks IOD dasarian mencapai +0,935. Kombinasi keduanya mengurangi pasokan uap air dan memperkuat kondisi kering di banyak wilayah Indonesia.
Namun Indonesia tidak mengalami musim secara seragam. Sebagian wilayah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November, sebagian lainnya Desember. Karena itu, hujan yang turun beberapa hari tidak otomatis menandakan kemarau telah berakhir. Pada pertengahan September, hujan lebat masih tercatat secara lokal di Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Utara, Sumatera Utara dan Papua ketika kondisi kering justru mendominasi banyak daerah lain.
Persoalan terbesar ada pada dampaknya. Bagi pertanian, mundurnya hujan dapat mengacaukan kalender tanam. Menanam terlalu cepat berisiko membuat tanaman kekurangan air, tetapi terlambat menanam dapat mempersempit periode produksi. Pertanian tadah hujan berada pada posisi paling rentan. Informasi iklim karena itu seharusnya diterjemahkan sampai tingkat sentra produksi menjadi keputusan kapan menanam, varietas apa yang dipilih, dan bagaimana cadangan air disiapkan.
Ancaman lain datang dari kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan satelit BMKG pada 7–16 September menunjukkan konsentrasi hotspot berkepercayaan tinggi antara lain mencapai 3.177 titik di Kalimantan Tengah, 1.305 di Sumatera Selatan, 1.088 di Kalimantan Barat dan 960 di Papua Selatan. Semakin lama kondisi kering berlangsung, semakin besar kebutuhan menjaga hutan, perkebunan dan terutama lahan yang mudah terbakar.
Ironisnya, terlambatnya musim hujan tidak berarti persoalan selesai ketika hujan akhirnya datang. BMKG memperkirakan 147 ZOM akan mengalami musim hujan dengan sifat lebih basah dari normal, sementara puncak hujan di banyak wilayah terkonsentrasi pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Indonesia karena itu harus bersiap menghadapi kompleksitas risiko: kekurangan air lebih lama di satu periode, kemudian potensi hujan tinggi pada periode berikutnya.
Di sinilah prediksi iklim seharusnya berubah menjadi kebijakan. Pemerintah daerah perlu mengetahui berapa cadangan waduk dan embung, daerah mana yang terancam defisit air, kapan kalender tanam harus disesuaikan, serta kawasan mana yang paling rawan karhutla. Informasi klimatologi kehilangan sebagian nilainya apabila baru ditindaklanjuti setelah sumur mengering, tanaman gagal tumbuh atau api telanjur meluas.
El Niño juga tidak berarti seluruh Indonesia akan mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama. Topografi, dinamika atmosfer lokal dan karakter setiap Zona Musim membuat dampaknya berbeda. Prakiraan pun bersifat dinamis dan perlu terus diperbarui. Karena itu, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan kemampuan membaca risiko secara lebih presisi.
Musim hujan 2026/2027 akhirnya bukan sekadar persoalan kapan tetes pertama jatuh dari langit. Ia menjadi ujian apakah Indonesia mampu mengubah peringatan dini menjadi tindakan dini. Alam sudah memberikan sinyal: kalender hujan sedang bergeser. Tantangannya adalah memastikan kalender kebijakan bergerak lebih cepat sebelum kekeringan berubah menjadi krisis air, pangan dan kebakaran.

Komentar