Rabu, 17 Juni 2026 | 19:57
COMMUNITY

Tahniyah Atas Diresmikannya Kalender Hijriah Global Tunggal

Tahniyah Atas Diresmikannya Kalender Hijriah Global Tunggal
Kalender Hijriah Global Tunggal

ASKARA - Dengan penuh syukur, Muhammadiyah menetapkan 1 Muharram 1447 H jatuh pada Kamis, 26 Juni 2025, berdasarkan perhitungan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Momentum ini menjadi tonggak sejarah penting umat Islam menuju unifikasi kalender hijriah yang ilmiah, cerdas, dan mencerahkan, demi membangun peradaban Islam global yang lebih terintegrasi dan berkemajuan.

Dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang mendalam, kita menyambut tahniyah atas telah diluncurkannya dan diberlakukannya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) secara resmi oleh Muhammadiyah. Organisasi Islam modernis tertua dan paling progresif di Indonesia ini kembali menorehkan sejarah penting dalam dinamika peradaban Islam dunia. Penetapan 1 Muharram 1447 H pada hari Kamis, 26 Juni 2025, didasarkan pada sistem KHGT yang berbasis astronomi global, metode yang telah lama diperjuangkan Muhammadiyah untuk menyatukan penanggalan umat Islam sedunia.

Pemberlakuan KHGT bukan sekadar penyesuaian kalender, tetapi merupakan bentuk ijtihad kolektif yang mencerminkan komitmen Muhammadiyah terhadap modernisasi Islam yang berakar pada ilmu pengetahuan dan maqashid syariah. Kalender ini memadukan data hisab hakiki kontemporer dengan prinsip unifikasi global, menjadikan penanggalan hijriah tidak lagi terpecah berdasarkan batas-batas geopolitik negara, tetapi terintegrasi secara universal dalam satu sistem tunggal yang bisa diakses dan dipedomani oleh umat Islam di seluruh dunia.

KHGT disusun berdasarkan kriteria visibilitas hilal global (Global Criteria of Moon Visibility) yang telah ditetapkan melalui berbagai kajian ilmiah oleh para pakar astronomi Islam dari dalam dan luar negeri. Kriteria yang digunakan Muhammadiyah adalah ketinggian bulan minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat yang secara konsisten digunakan dalam penetapan awal bulan hijriah. Pendekatan ini merupakan bentuk komitmen terhadap kepastian hukum dan rasionalitas ilmiah, sekaligus menghindari kontroversi musiman yang kerap muncul setiap tahun ketika terjadi perbedaan penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

KHGT juga menjadi langkah strategis Muhammadiyah dalam menjawab problem klasik umat Islam: fragmentasi kalender hijriah. Selama ini, umat Islam hidup dalam realitas ironi: satu agama, satu kitab, satu kiblat, tetapi memiliki tanggal hari raya yang berbeda. Melalui KHGT, Muhammadiyah menawarkan solusi yang rasional, berkelanjutan, dan dapat diterapkan oleh umat Islam lintas mazhab dan negara, tanpa harus bergantung pada pengamatan lokal yang seringkali tidak seragam.

Perjalanan menuju KHGT bukanlah proses instan. Ia merupakan akumulasi dari berbagai Musyawarah Nasional (Munas), Muktamar, simposium internasional, hingga forum-forum astronomi lintas negara. Dalam Muktamar ke-48 di Surakarta tahun 2022, Muhammadiyah menyepakati penggunaan KHGT sebagai bagian dari strategi tajdid dalam bidang tarjih. Bahkan sebelum itu, Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah telah mengembangkan software hisab dan sistem digitalisasi kalender Islam yang menjadi rujukan internasional.

Dengan diberlakukannya KHGT mulai 1 Muharram 1447 H, Muhammadiyah menegaskan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan ilmu dan rasionalitas. Islam tidak anti terhadap sains, justru menjadikan ilmu sebagai pondasi dalam pengambilan kebijakan publik keagamaan. Penetapan tanggal dalam Islam bukan hanya soal ibadah, tetapi juga menyangkut sistem sosial, pendidikan, ekonomi, hingga hubungan internasional. Karena itu, unifikasi kalender Islam merupakan bagian dari strategi globalisasi umat Islam dalam kerangka peradaban.

Lebih dari itu, KHGT juga membuka ruang besar bagi diplomasi Islam global. Selama ini, keterpisahan kalender menjadi penghalang dialog dan kerja sama lintas negara. Dengan KHGT, umat Islam memiliki pijakan bersama untuk menyusun agenda-agenda strategis: mulai dari jadwal ibadah haji yang konsisten, penetapan hari besar keagamaan, sampai penyesuaian kalender pendidikan dan ekonomi syariah lintas negara. KHGT adalah prasyarat penting menuju satu umat yang terhubung secara spiritual, sosial, dan intelektual.

Penting dicatat bahwa KHGT tidak meniadakan peran rukyat (pengamatan hilal), tetapi mendudukkan rukyat sebagai bagian dari pengayaan data, bukan satu-satunya dasar. Dalam pandangan Muhammadiyah, hisab hakiki kontemporer lebih presisi dan terpercaya secara konsisten. Hal ini selaras dengan perkembangan teknologi dan keilmuan yang menjadikan pengamatan hilal dapat dihitung secara akurat dengan margin kesalahan yang sangat kecil. Maka, KHGT adalah bentuk tajdid dalam metode istikmal penanggalan Islam yang berorientasi pada objektivitas dan efisiensi.

Respon umat Islam terhadap KHGT cukup beragam. Sebagian besar kalangan intelektual, astronom, dan aktivis Islam global menyambut baik langkah Muhammadiyah. Bahkan para tokoh dari Malaysia, Turki, Mesir, hingga Afrika Selatan mengapresiasi langkah ini sebagai awal dari unifikasi kalender hijriah internasional yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa KHGT bukan milik Muhammadiyah semata, tetapi merupakan kontribusi Muhammadiyah untuk dunia Islam yang lebih besar.

Namun demikian, Muhammadiyah tetap membuka ruang dialog dan pendekatan gradual agar KHGT bisa diterima luas oleh berbagai ormas, lembaga fatwa, dan pemerintahan negara-negara Islam. KHGT bukan dipaksakan, tetapi ditawarkan sebagai sistem yang siap pakai, bisa diadopsi, diuji, dan dikembangkan bersama. Sebagaimana prinsip tarjih, KHGT mengedepankan ijtihad jamai’ dan prinsip toleransi dalam perbedaan. Muhammadiyah tidak memaksakan keseragaman mutlak, tetapi mengajak untuk bersatu atas dasar ilmu dan maslahat umat.

Momentum ini harus disambut oleh umat Islam Indonesia dengan penuh kebanggaan dan kesadaran. KHGT menjadi salah satu warisan peradaban penting dari bangsa Indonesia untuk dunia. Di tengah krisis global dan fragmentasi dunia Islam, Indonesia melalui Muhammadiyah mengambil posisi sebagai pelopor pembaruan yang cerdas, ilmiah, dan inklusif.

Kita berharap KHGT menjadi awal dari era baru penanggalan hijriah yang lebih sistematis, ilmiah, dan unifikatif. Muhammadiyah telah menunjukkan bahwa Islam bisa maju dengan ilmu pengetahuan, bisa bersatu dalam perbedaan, dan bisa memimpin dunia melalui keteladanan ilmiah yang konsisten.

Semoga Allah SWT memberkahi langkah ini, menerima ijtihad para ulama dan cendekiawan, serta menyatukan hati umat Islam untuk menapaki jalan kemajuan bersama, dengan satu kalender yang merekatkan bukan memecah belah, yang menyatukan bukan menyisihkan.

Allahu Akbar! Selamat Tahun Baru 1447 H. Selamat datang KHGT!
Satu kalender untuk satu umat.
Ilmiah. Cerdas. Mencerahkan. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar