Prof. Rokhmin Dahuri di Forum Internasional Qingdao: Laut Indonesia Harus Jadi Kekuatan Pangan Global, Bukan Sekadar Penghasil Ikan
ASKARA– Paradigma pembangunan kelautan Indonesia harus naik kelas. Tidak lagi sekadar mengejar volume produksi, tapi harus bertransformasi menjadi kekuatan pangan global dan pusat ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.
Seruan tegas itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI yang juga pakar kelautan nasional, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., dalam forum bergengsi 2026 Global Ocean Development Forum di Qingdao, Tiongkok, Kamis (17/9).
Di hadapan para pembuat kebijakan, akademisi, dan pelaku industri maritim dunia, Guru Besar IPB University ini menegaskan bahwa masa depan Indonesia ada di laut.
"Paradigma lama harus kita tinggalkan. Laut masa depan bukan sekadar penghasil bahan pangan protein konvensional, melainkan penyedia bahan baku strategis bagi industri farmasi, bioenergi, hingga biomaterial berbasis kelautan," ujar Prof. Rokhmin.
Potensi Raksasa yang Belum Optimal
Prof. Rokhmin memaparkan data yang menunjukkan betapa strategisnya posisi Indonesia. Mengutip data FAO, Indonesia telah kokoh sebagai produsen akuakultur terbesar kedua di dunia pada 2024 dengan capaian produksi yang menembus 15,75 juta ton.
Capaian ini menjadi modal besar, namun menurutnya belum dimanfaatkan secara maksimal untuk masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi. Potensi laut Indonesia masih terkunci pada produksi primer, padahal nilai tambahnya ada di hilirisasi.
Tawarkan Konsep Revolusioner: Bay-based Ecological Marine Ranching
Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Rokhmin menawarkan sebuah konsep terobosan bernama Bay-based Ecological Marine Ranching. Ini bukan sekadar budidaya ikan, tapi sebuah pendekatan terpadu yang menyinergikan ekologi dan ekonomi.
Konsep ini bertumpu pada empat pilar utama:
1. Konservasi & Pemulihan Ekosistem: Menjaga daya dukung laut agar tetap lestari untuk jangka panjang.
2. Restorasi Habitat: Merehabilitasi ekosistem pesisir seperti mangrove dan terumbu karang untuk menjamin keberlanjutan stok ikan.
3. Perikanan Budidaya Modern: Mengembangkan budidaya yang presisi, berbasis sains, teknologi, dan ramah lingkungan.
4. Kesejahteraan Masyarakat Pesisir: Memastikan transformasi ini berujung pada peningkatan pendapatan dan taraf hidup nelayan serta pembudidaya lokal.
Dorong Kolaborasi Strategis Indonesia-Tiongkok
Dalam forum tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu juga secara khusus mendorong penguatan kemitraan bilateral Indonesia-Tiongkok. Ia menilai Tiongkok memiliki keunggulan teknologi yang bisa diakselerasi untuk kemajuan akuakultur Indonesia.
Kolaborasi yang ditawarkan meliputi transfer teknologi budidaya mutakhir, penerapan sistem pengawasan digital (digital monitoring), inovasi bioteknologi kelautan, hingga penguatan industri hilir yang terintegrasi.
"Ekonomi biru mencakup seluruh aktivitas ekonomi dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, konsumsi, hingga distribusi di kawasan pesisir dan kelautan. Masa depan peradaban pangan dan kemakmuran bangsa kita bertumpu pada kemampuan mengelola potensi laut secara cerdas, adil, berdaya saing, dan berkelanjutan," pungkas Prof. Rokhmin.
Forum Global Ocean Development Forum 2026 di Qingdao sendiri menjadi ajang strategis untuk merumuskan arah pembangunan kelautan dunia yang berkelanjutan di tengah tantangan krisis pangan dan perubahan iklim global.

Komentar