Early Warning Bagi Petani: Jangan Serahkan Kedaulatan Pangan ke Mesin AI
ASKARA - Sebuah peringatan dini atau early warning yang keras disuarakan untuk para petani Indonesia di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Peringatan itu mengemuka dalam acara rutin Ngaji Pertanian yang digelar Serikat Tani Islam Indonesia (STII) sebagai ruang belajar mingguan untuk menguatkan iman, memperluas wawasan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap bumi sebagai amanah Allah SWT.
Pada edisi pertengahan September ini, STII mengangkat tema yang sangat relevan dan provokatif: "Turbulensi AI (Artificial Intelligence) dan Kedaulatan Pangan". Acara digelar secara daring melalui Zoom Meeting, pada Sabtu pagi, 19 September 2026, pukul 07.00 - 08.30 WIB.
Acara yang dihadiri para pegiat pertanian, pemerhati lingkungan, pejuang ketahanan pangan, serta Pengurus Daerah STII (PD STII) se-Indonesia ini dibuka langsung oleh Ketua Harian PB STII, Hilman Ismail Metareum, didampingi Sekjen PB STII, Didi M Rosidi.
Hadir sebagai pemateri utama, Ir. Boimin, Ph.D, lulusan Beasiswa Doktoral dari salah satu Universitas di Amerika Serikat, yang juga putra asli Ngawi, Jawa Timur.
Jangan Biarkan Mesin Menguasai Manusia
Dalam tausiyah pertaniannya, Boimin mengajak seluruh petani untuk tidak anti-teknologi, tetapi harus menguasai teknologi secara terukur, terkendali, dan humanis.
"Penguasaan teknologi pertanian dan teknologi pangan harus dikuasai oleh manusia secara terukur dan terkendali. Jangan sampai penguasaan teknologi murni oleh mesin berbasis AI semata tanpa pengawalan manusia," tegas Boimin.
Menurutnya, ini adalah early warning demi kemaslahatan umat manusia di masa depan. Ia mengungkapkan fakta mengejutkan, bahwa di negara-negara maju termasuk Amerika Serikat, saat ini sedang terjadi persaingan sengit antara pencipta teknologi AI dengan produsen makanan.
Banyak produsen makanan yang mulai menggunakan AI secara liar tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan konsumen akhir. Akibatnya, muncul ancaman rekayasa bahan makanan yang tidak terkontrol.
Ancaman Kuliner Nusantara dan Soal Halal
Boimin juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa sebagai warisan budaya. Kekayaan itu harus dikawal oleh petani Indonesia sendiri.
"Berbagai macam hasil kekayaan pertanian Indonesia dengan ragam kulinernya harus dikawal oleh masyarakat petani itu sendiri, untuk menghindari rekayasa bahan-bahan makanan," ujarnya.
Ia secara khusus menyoroti soal kehalalan. Sumber bahan makanan hasil rekayasa teknologi harus tetap dalam pengawasan manusia, agar tetap terjamin kehalalan dan kebaikan sumbernya.
Senada dengan Boimin, Ketua Harian PB STII Hilman Ismail Metareum menegaskan bahwa teknologi pangan harus memperhatikan sisi 'halalan thoyyiban'.
"Penciptaan teknologi pangan harus menjaga keragaman kuliner Indonesia sebagai warisan leluhur bangsa," kata Hilman.
Di akhir sesi, Boimin memberikan pesan kunci untuk masa depan:
"Petani Indonesia harus dapat meningkatkan kapasitas diri dalam hal literasi ketahanan pangan, sehingga dapat mengawasi makanan yang bersumber dari luar, dan juga mampu meningkatkan penggunaan teknologi pangan, demi masyarakat Indonesia yang makmur sejahtera."
Ngaji Pertanian ini menjadi pengingat, bahwa menjadi petani di era AI bukan hanya soal cangkul dan panen, tetapi juga soal literasi, iman, dan kedaulatan menjaga apa yang masuk ke piring rakyat Indonesia.

Komentar