Selasa, 21 Juli 2026 | 06:27
COMMUNITY

STII Gagas Diskusi Strategis Masa Depan Asia Tenggara, Soroti Titik Buta dan Ketahanan Pangan Menuju 2030

STII Gagas Diskusi Strategis Masa Depan Asia Tenggara, Soroti Titik Buta dan Ketahanan Pangan Menuju 2030
Excellency Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd. Akin narasumber diskusi STII (dok.didi)

ASKARA – Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) mengambil langkah strategis dengan menginisiasi forum internasional bertajuk ASEAN Under Watch: Menakar Stabilitas Asia Tenggara 2030, Sabtu (30/5). Seminar yang digelar hari ini menghadirkan His Excellency Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd. Akin, mantan Kepala Kantor Staf Perdana Menteri Malaysia, sebagai narasumber utama.

Acara yang dimoderatori oleh Ketua Pelaksana Harian PB STII, Hilman Ismail Metareum, SE., dibuka langsung oleh Ketua Umum PB STII, Fathurrahman Mahfudz, BRIK., MM. Dalam sambutannya, Fathurrahman menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan ruang strategis untuk memahami perkembangan global yang berkorelasi langsung dengan sektor pertanian nasional.

“Seminar ini sangat bermanfaat untuk mengetahui perkembangan global dan erat hubungannya dengan pertanian kita. Dunia saat ini sedang menghadapi turbulensi besar. Rivalitas kekuatan adidaya, konflik regional, hingga ancaman krisis pangan menuntut adanya kesamaan pandangan di antara negara-negara serumpun,” ujar Fathurrahman.

Forum ini dihadiri sekitar 50 peserta yang terdiri dari pemangku kepentingan, akademisi, aktivis, tokoh masyarakat, serta perwakilan organisasi Islam. Turut hadir Sekjend PB STII Didi M Rosidi, Wakil Ketua Umum PB STII Ustadz Dr. Ade Salamun, Ketua Srikandi Tani STII Dra. Hulfa, Ketua Pemuda STII Aigi Murizki, dan Ketua LPK STII Elva Septinawati.

5 Titik Buta ASEAN yang Harus Diwaspadai

Dalam paparannya yang lugas, Dato Seri Shamsul Iskandar mengungkap adanya blind spot atau titik buta ASEAN yang menjadi ancaman eksistensial kawasan. Ia merinci lima titik buta utama:

1. Krisis kepercayaan antar negara anggota dan rakyat terhadap institusi 2. Krisis iklim yang mengancam ketahanan pangan dan ekonomi 3. Disrupsi teknologi termasuk perebutan dominasi Kecerdasan Buatan (AI) 4. Fragmentasi ekonomi yang memperlebar ketimpangan 5. Persaingan geopolitik yang berpotensi memecah belah ASEAN

“Titik buta ASEAN adalah ancaman terbesar dan paling eksistensial bagi kawasan saat ini bukanlah perang militer terbuka, melainkan kegagalan bekerja sama, ketimpangan struktural, dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap institusi,” tegas Shamsul Iskandar.

Ia mengidentifikasi tiga tekanan utama yang akan dihadapi Asia Tenggara menuju 2030:

Komentar