Indonesia Menuju Swasembada Kedelai 2028: PB STII Teguhkan Langkah di Buka Puasa Bersama
ASKARA — Harapan besar swasembada kedelai dalam dua tahun ke depan semakin nyata. Dalam acara buka puasa bersama yang digelar Pengurus Besar STII di Sapu Lidi Café, Mampang Depok, para tokoh pertanian dan pengurus PB STII menegaskan komitmen membangun kemandirian pangan bangsa.
Hadir dalam acara tersebut Ketum PB STII, Fathurrahman Mahfud BIRK MM, Sekjend Didi Rosydi, Bendum Dian, Ketua Harian Hilman Ismail ššš„šršš¦š, Waketum Prof Ali Zum Mashar, serta Ketua LPK STII Elva Septinawati.
Acara dimulai dengan laporan perkembangan kedelai dan benih Trisakti oleh Prof Ali Zum Mashar. Menurutnya, swasembada kedelai dapat tercapai dalam dua tahun bila tersedia 500 ribu hektar lahan dengan dua kali panen per tahun. Dengan perhitungan itu, impor kedelai sebesar 3 juta ton bisa tertutupi. Presiden bahkan telah menyiapkan 1 juta hektar lahan di Sumatera dan Kalimantan.
Untuk mempercepat produksi, akan dibentuk Agribas Kedele sebagai solusi atas masalah ketersediaan benih. Prof Ali Zum mengungkapkan, empat varietas kedelai baru telah diakui negara RI pada Februari 2026: MIGO GMP 1, MIGO GMP 2, MIGO SORA 1, dan MIGO SORA 2.
Tak hanya kedelai, pusat pembibitan padi Trisakti juga mendapat dukungan 2.000 hektar lahan dari PT SHA Sukamandi. Sebanyak 13 galur calon varietas padi Trisakti Merah Putih yang cepat panen dalam 75 hari siap diajukan.
“Strategi pertanian tidak boleh dilepaskan dari petani. Harus ada SOP dan disiplin agar hasil maksimal. Kalau mau memperjuangkan kemajuan umat, sejahterakan dulu umat dengan kemandirian pangan. Kita mulai dari perut, agar petani tidak menjadi objek pecundang,” tegas Prof Ali Zum.
Ketum PB STII, Fathurrahman Mahfud, menambahkan bahwa STII telah memiliki pabrik pupuk NPK dan Dolangit sebagai penopang produksi.
Dengan langkah konkret ini, cita-cita swasembada kedelai bukan lagi sekadar mimpi, melainkan sebuah gerakan nyata menuju kedaulatan pangan Indonesia.

Komentar