Jumat, 19 Juni 2026 | 11:11
COMMUNITY

Hadapi Krisis Iklim dan Pangan, STII dan Eks Pejabat PM Malaysia Serukan POROS ASEAN sebagai Tameng Regional

Hadapi Krisis Iklim dan Pangan, STII dan Eks Pejabat PM Malaysia Serukan POROS ASEAN sebagai Tameng Regional
Seminar Internasional Poros Asean (dok.stii)

ASKARA - Perubahan iklim dan krisis pangan dinilai sudah menjadi ancaman eksistensial bagi Asia Tenggara. Serikat Tani Islam Indonesia bersama mantan Kepala Kantor Staf Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd. Akin, mendesak dibentuknya POROS ASEAN sebagai kekuatan kawasan untuk mitigasi ganda tersebut.

Seruan itu mengemuka dalam Seminar Internasional “POROS ASEAN: Mitigasi Perubahan Iklim dan Krisis Pangan sebagai Ancaman Global” yang digelar PB STII di Menara Da’wah Kramat 45, Jakarta Pusat, Kamis (18/6).

Ketua Umum PB STII Faturrahman Mahfudz menegaskan, cuaca ekstrem dan bencana alam yang marak adalah “peringatan dari Allah SWT” agar manusia sebagai khalifah menjaga bumi.  

“Indonesia-Malaysia punya iklim serupa. Persaudaraan sejarah harus diterjemahkan jadi kerja sama strategis nyata, terutama pangan,” ujar Faturrahman yang juga Sekjen DDII. STII mendorong aliansi petani tingkat ASEAN demi Asia Tenggara yang mandiri dan sejahtera.

Jawa & Sulsel Rawan Intrusi Air Laut  

Dato Seri Shamsul Iskandar, yang akrab disapa Brother Sem, memaparkan data: Myanmar selatan, Thailand, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, hingga Filipina terancam intrusi air laut akibat sedot air tanah berlebihan. Hal ini bisa melumpuhkan produksi pangan. 

“Krisis iklim dan kerapuhan pangan bukan lagi kesalahan, tapi ancaman eksistensial kedaulatan kita,” tegasnya.

Brother Sem mendorong “lompatan paradigma”: dari pertanian terpusat ke rantai pasok terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. Ia mengusulkan prinsip Halal Climate - keinginan bersama mensejahterakan negara sahabat.

Tiga sintesa yang ditawarkan:  

1. Perisai Kebijakan Regional lewat APTERR, cadangan beras darurat ASEAN+3 untuk bantu negara terdampak bencana. 2. FAF-SP 2026-2030 sebagai cetak biru pertanian inklusif, tangguh, ramah lingkungan. 3. Ketahanan Akar Rumput dengan pertanian presisi dan mitigasi agromaritim untuk petani kecil-nelayan. 

Didukung Pembiayaan Hijau Pintar: skor kredit berbasis data cuaca & AI tanpa agunan tanah, plus jaring pengaman iklim yang otomatis menyesuaikan pinjaman saat anomali cuaca.

“POROS ASEAN harus jadi kekuatan peradaban. Butuh persepsi dan tujuan sama sejalan Visi Komunitas ASEAN 2045,” kata Brother Sem.

Moderator sekaligus Waketum PB STII Hilman Ismail Metareum menambahkan, swasembada pangan tak bisa sendiri-sendiri. “Kita harap POROS ASEAN jadi kekuatan alternatif pertanian agar tak tergantung impor luar kawasan.”

Hilman menyebut tema ini sejalan dengan SDGs Bappenas dan Asta Cita Presiden Prabowo tentang kemandirian pangan, energi, dan ekonomi hijau. “STII hadir untuk petani,” tutupnya.

Komentar