Sukarno Menembus Barat Tanpa Kehilangan Arah
ASKARA - Pada 5 Juni 1956, Sukarno memasuki gedung Parlemen Kanada dengan peci hitam dan seragam putih. Beberapa saat kemudian, ia berdiri di hadapan para anggota parlemen di Ottawa. Presiden Indonesia itu datang dari sebuah negeri yang baru sebelas tahun merdeka, sebuah republik yang lahir dari revolusi dan masih berjuang menemukan tempatnya di tengah dunia yang terbelah oleh Perang Dingin.
Foto Sukarno berjalan berdampingan dengan Perdana Menteri Kanada Louis St. Laurent menyimpan makna yang lebih besar daripada sekadar dokumentasi kunjungan kenegaraan. Di dalam gambar itu bertemu dua dunia. Di satu sisi berdiri Kanada, negara Barat dengan tradisi parlementer yang telah mapan. Di sisi lain hadir Indonesia, republik muda dari Asia yang kemerdekaannya lahir setelah bertahun-tahun berhadapan dengan kolonialisme.
Sukarno tidak datang ke Ottawa untuk meminta pengakuan atas kemerdekaan Indonesia. Pengakuan itu telah diperoleh. Ia datang sebagai presiden sebuah negara yang sedang berusaha menentukan sendiri bagaimana harus berhubungan dengan dunia. Kemerdekaan politik, bagi republik muda itu, tidak akan banyak berarti apabila Indonesia kemudian hanya menjadi penonton dalam percaturan internasional.
Kunjungan ke Kanada berlangsung setelah perjalanan panjang Sukarno di Amerika Serikat. Ia tiba di Amerika pada pertengahan Mei 1956, berbicara di hadapan Kongres Amerika Serikat pada 17 Mei, dan kemudian melakukan perjalanan ke sejumlah kota sebelum meninggalkan Amerika pada 3 Juni. Dua hari kemudian, ia berada di Ottawa.
Rangkaian perjalanan itu memperlihatkan bahwa kunjungan Sukarno ke Amerika Utara bukan perjalanan diplomatik yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari usaha memperkenalkan Indonesia secara langsung kepada pusat-pusat kekuatan dunia Barat. Tetapi arah perjalanan itu tidak sepenuhnya satu arah. Sukarno bukan satu-satunya pihak yang ingin mengenal pihak lain.
Amerika Serikat juga ingin memahami Sukarno.
Dokumen diplomatik Amerika Serikat menunjukkan bahwa Washington melihat Sukarno sebagai tokoh yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap arah politik Indonesia. Dalam memorandum 27 Februari 1956, Menteri Luar Negeri John Foster Dulles merekomendasikan kunjungan Sukarno ke Amerika dengan keyakinan bahwa kunjungan tersebut dapat memperluas pandangan dan pemahamannya mengenai Amerika.
Ada kepentingan politik di balik keramahan diplomatik itu. Amerika Serikat sedang menghadapi Perang Dingin dan memandang Indonesia sebagai negara penting di Asia Tenggara. Indonesia memiliki posisi geografis strategis, sumber daya alam yang besar, dan pemerintahan yang sedang mencari bentuk politiknya sendiri.
Karena itu, ketika Sukarno melangkah ke Washington dan kemudian Ottawa, yang terjadi sebenarnya bukan sekadar pertemuan antara seorang presiden dari Asia dengan para pemimpin Barat. Ada dua pihak yang sedang membaca satu sama lain.
Sukarno ingin melihat Barat dari dekat. Barat juga ingin melihat Sukarno dari dekat.
Di Ottawa, perjumpaan itu berlangsung dalam suasana yang tampak bersahabat. Arsip film Kanada merekam kedatangan Sukarno, penyambutannya oleh pejabat Kanada, pertemuannya dengan Gubernur Jenderal Vincent Massey, serta kehadiran Menteri Luar Negeri Lester Pearson dan Perdana Menteri Louis St. Laurent.
Kemudian datang momen yang lebih penting. Sukarno berbicara di House of Commons.
Catatan resmi House of Commons Kanada mencatat 5 Juni 1956 sebagai salah satu sidang khusus tempat tokoh-tokoh penting dunia menyampaikan pidato. Nama Sukarno berada dalam daftar itu, sejajar dengan sejumlah pemimpin dunia yang sebelumnya memperoleh kesempatan berbicara di hadapan parlemen Kanada.
The Jakarta Post dalam publikasinya pada 12 Juli 2017 menyebut Sukarno sebagai pemimpin Asia pertama yang berbicara kepada anggota Senat dan House of Commons Kanada di House of Commons. Publikasi tersebut juga memuat pidato Sukarno yang diberikan melalui Kedutaan Besar Kanada.
Bagi Indonesia yang baru berusia sebelas tahun, panggung tersebut memiliki arti simbolik yang besar. Republik yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan kolonial kini hadir di jantung salah satu negara Barat bukan sebagai wilayah jajahan, melainkan sebagai negara berdaulat.
Namun, peristiwa itu tidak tepat jika dibaca sebagai kisah sederhana tentang Sukarno melawan Barat.
Sukarno memang seorang nasionalis dan anti-kolonialis yang keras. Ia menolak dominasi politik dan ekonomi yang dapat mengembalikan Indonesia ke dalam ketergantungan. Tetapi penolakan terhadap kolonialisme tidak berarti penolakan terhadap hubungan dengan negara-negara Barat.
Di sinilah diplomasi Sukarno menjadi menarik.
Ia bersedia berdialog dengan Amerika Serikat. Ia datang ke Kanada. Ia bertemu pemimpin-pemimpin negara Barat. Tetapi pada saat yang sama ia juga menjalin hubungan dengan negara-negara di luar blok Barat.
Indonesia pada masa itu tidak sedang mencari tempat sebagai satelit Washington maupun Moskwa. Politik luar negeri bebas aktif sedang memperoleh bentuk dalam praktik. Indonesia berusaha membuka hubungan seluas mungkin sambil mempertahankan ruang untuk menentukan kepentingannya sendiri.
Setahun sebelumnya, Bandung telah memberi Indonesia panggung yang jauh lebih luas. Konferensi Asia-Afrika pada April 1955 menempatkan Indonesia di tengah percakapan mengenai masa depan bangsa-bangsa yang baru merdeka. Negara-negara Asia dan Afrika tidak ingin selamanya menjadi objek keputusan kekuatan besar.
Sukarno menjadi salah satu suara paling keras dari semangat tersebut.
Tetapi Bandung tidak membuat Indonesia harus menutup pintu terhadap Barat. Justru sebaliknya. Jika Indonesia ingin berbicara mengenai kesetaraan, maka Indonesia harus mampu berbicara langsung dengan semua pihak, termasuk mereka yang pernah menjadi pusat kekuasaan kolonial.
Kunjungan ke Amerika dan Kanada memperlihatkan sisi lain dari politik luar negeri itu. Anti-kolonialisme tidak harus berubah menjadi isolasionisme. Menolak dominasi tidak berarti menolak hubungan internasional.
Sebuah negara dapat bekerja sama tanpa menjadi bawahan. Dapat berdagang tanpa menyerahkan kedaulatan. Dapat berdialog tanpa mengubah prinsip dasarnya.
Namun, sejarah tidak sesederhana itu.
Amerika Serikat tidak mengundang Sukarno hanya karena ingin memberikan penghormatan kepada pemimpin republik muda. Dokumen diplomatik Amerika menunjukkan bahwa Washington mempunyai perhitungan politik. Sukarno dianggap sangat menentukan arah Indonesia, sehingga Amerika berharap kunjungan tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap cara pandangnya.
Bahkan setelah perjalanan itu, Kedutaan Amerika di Jakarta menilai bahwa kunjungan Sukarno selama 17 hari telah membawa perubahan tertentu dalam persepsinya terhadap Amerika. Dalam penilaian Washington, kunjungan tersebut memberikan hasil yang cukup menguntungkan bagi kepentingan Amerika.
Fakta ini membuat foto Sukarno di Ottawa menjadi lebih menarik.
Foto itu bukan hanya menunjukkan seorang pemimpin Indonesia yang berhasil memasuki ruang politik Barat. Foto itu juga menunjukkan bagaimana Barat membuka pintu kepada seorang pemimpin yang pengaruhnya sedang diperhitungkan.
Sukarno datang membawa kepentingan Indonesia.
Amerika dan negara-negara Barat juga membawa kepentingan mereka sendiri.
Tidak ada pihak yang sepenuhnya menjadi objek. Tidak ada pula pihak yang sepenuhnya menjadi pengendali.
Diplomasi bekerja di ruang antara keduanya.
Di dalam ruang itulah kemampuan seorang pemimpin diuji. Bukan hanya keberaniannya berbicara, tetapi kemampuannya membaca kepentingan lawan, memanfaatkan peluang, dan tetap menjaga ruang gerak bagi negaranya.
Persoalan Indonesia ketika itu juga tidak ringan. Republik menghadapi persoalan ekonomi, ketidakstabilan politik, keterbatasan sumber daya manusia, pergolakan di sejumlah daerah, dan persoalan Irian Barat yang belum terselesaikan. Karena itu, hubungan internasional bukan sekadar masalah gengsi.
Indonesia membutuhkan perdagangan, pengetahuan, teknologi, investasi, dukungan politik, dan hubungan diplomatik yang luas.
Tetapi kebutuhan tersebut menghadirkan dilema.
Semakin besar kebutuhan sebuah negara terhadap kekuatan lain, semakin besar pula kemungkinan munculnya ketergantungan.
Sukarno tampaknya memahami persoalan itu. Karena itu, keterbukaan kepada Barat tidak harus berarti penyerahan arah politik kepada Barat.
Di sinilah simbolisme penampilannya di Ottawa menjadi menarik. Peci hitam dan seragam putih yang dikenakannya membuat identitas Indonesia tetap terlihat jelas di tengah lingkungan politik yang sangat berbeda secara budaya.
Ia tidak perlu tampil sebagai orang Barat untuk diterima di Barat.
Ia datang sebagai Sukarno.
Dan lebih penting lagi, ia datang sebagai presiden Indonesia.
Namun, menjadikan peci sebagai bukti bahwa Sukarno sengaja menggunakan busana sebagai strategi diplomatik juga akan terlalu jauh jika tidak disertai bukti langsung mengenai maksud pribadinya. Yang dapat dikatakan dengan lebih aman adalah bahwa penampilan tersebut memperlihatkan identitas nasional yang tetap hadir dalam sebuah ruang diplomatik Barat.
Identitas dan diplomasi tidak harus saling bertentangan.
Justru dalam dunia internasional, identitas dapat menjadi bagian dari cara sebuah negara memperkenalkan dirinya.
Sukarno memahami bahwa sebuah bangsa yang tidak mampu menceritakan dirinya sendiri akan mudah didefinisikan oleh bangsa lain.
Karena itu, kehadirannya di Ottawa mempunyai arti lebih dari sekadar agenda protokoler. Indonesia memperoleh kesempatan untuk berbicara dengan suaranya sendiri di hadapan publik dan elite politik Kanada.
Tetapi sekali lagi, romantisasi perlu dihindari.
Kunjungan ke Barat tidak otomatis menyelesaikan persoalan Indonesia. Hubungan baik dengan Amerika dan Kanada tidak serta-merta menghasilkan kemakmuran. Pidato di parlemen juga tidak menghapus persoalan ekonomi dan politik yang sedang dihadapi republik.
Demikian pula, keberanian Sukarno tidak berarti bahwa Indonesia selalu berhasil menjaga jarak yang sama dari semua kekuatan besar.
Sejarah setelah 1956 menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat semakin rumit. Hubungan dengan Uni Soviet dan negara-negara komunis juga berkembang. Di dalam negeri, persaingan politik semakin tajam. Indonesia bergerak menuju perubahan besar dalam sistem politiknya.
Karena itu, perjalanan Sukarno ke Kanada sebaiknya tidak ditempatkan sebagai bukti bahwa Indonesia pada 1956 sudah sepenuhnya terbebas dari tarik-menarik kekuatan global.
Yang lebih tepat adalah melihatnya sebagai sebuah episode ketika republik muda sedang berusaha memperluas ruang geraknya.
Sukarno datang ke Barat bukan sebagai pemimpin yang ingin mengasingkan Indonesia dari dunia.
Ia juga bukan pemimpin yang datang untuk menyerahkan Indonesia kepada dunia Barat.
Ia datang untuk bernegosiasi dengan kenyataan bahwa Indonesia hidup di dunia yang kekuatannya tidak seimbang.
Di satu sisi ada kebutuhan untuk membuka hubungan seluas-luasnya. Di sisi lain ada kebutuhan untuk mempertahankan kebebasan menentukan arah sendiri.
Itulah paradoks diplomasi Sukarno.
Ia harus memasuki ruang yang dibangun oleh kekuatan besar tanpa kehilangan kemampuan untuk keluar dari ruang tersebut jika kepentingan Indonesia mengharuskannya.
Foto di Ottawa kemudian menjadi semacam potret kecil dari persoalan besar itu.
Di dalam gambar tersebut, Sukarno berjalan berdampingan dengan Louis St. Laurent. Tidak terlihat perdebatan ideologis. Tidak tampak ketegangan Perang Dingin. Tidak terlihat perhitungan diplomatik yang berlangsung di balik layar.
Yang terlihat hanyalah dua pemimpin berjalan bersama.
Namun sejarah yang berada di balik gambar itu jauh lebih rumit.
Ada Indonesia yang sedang mencari tempat.
Ada Kanada yang sedang membuka hubungan dengan republik Asia yang baru merdeka.
Ada Amerika Serikat yang ingin memahami dan memengaruhi Sukarno.
Ada Perang Dingin yang sedang membelah dunia.
Ada Bandung yang baru saja mengangkat suara Asia-Afrika.
Dan ada persoalan Irian Barat yang membuat diplomasi Indonesia tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kepentingan nasional yang konkret.
Karena itu, makna kunjungan Sukarno ke Ottawa bukan terutama soal apakah ia menang atau kalah dari Barat.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indonesia mampu memasuki pusat-pusat kekuatan dunia tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan kepentingannya sendiri.
Pada 1956, jawabannya belum selesai.
Tetapi Sukarno sedang mencoba.
Ia membuka pintu kepada Barat, sementara pada saat yang sama berusaha memastikan bahwa pintu itu tidak menjadi jalan masuk bagi dominasi baru.
Di Ottawa, republik muda itu tidak datang untuk meminta belas kasihan.
Ia datang untuk berbicara.
Dan mungkin itulah makna paling penting dari foto Sukarno pada Juni 1956: sebuah bangsa yang baru saja keluar dari kolonialisme sedang belajar berdiri di tengah dunia yang masih dikuasai oleh negara-negara besar.
Bukan dengan menutup diri.
Bukan pula dengan menyerahkan diri.
Melainkan dengan hadir, berbicara, berunding, dan berusaha mempertahankan ruang untuk menentukan jalannya sendiri.
Lebih dari tujuh dekade kemudian, foto itu masih menyimpan pertanyaan yang relevan bagi diplomasi Indonesia: ketika berhadapan dengan kekuatan yang jauh lebih besar, mampukah Indonesia membuka pintu seluas-luasnya tanpa kehilangan kunci atas kepentingannya sendiri?
Sukarno di Ottawa tidak memberikan jawaban yang sederhana.
Tetapi langkahnya pada Juni 1956 memperlihatkan satu hal: kemerdekaan tidak berhenti ketika sebuah bangsa memperoleh pengakuan. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan ketika bangsa itu memasuki ruang dunia, berhadapan dengan kepentingan negara lain, dan menentukan kepada siapa ia bersahabat tanpa menyerahkan hak untuk menentukan arah sendiri.

Komentar